Papua Tengah Menggila di Arena Walking Football
Pertandingan cabang olahraga baru Induk Organisasi Olahraga (Inorga), yakni Perkumpulan Sepakbola Berjalan Seluruh Indonesia (PERSEJASI), resmi tuntas digelar. Di ajang ini, Provinsi Papua Tengah tampil menggila dengan mengamankan dua medali emas dari tiga kategori yang dipertandingkan.
Technical Delegate Sepak Bola Berjalan, Nasir Salas, menjelaskan bahwa laga digelar selama dua hari dengan tiga nomor yang dilombakan:
Kategori putra
Kategori putri
Kategori campuran (putra dan putri)
Hasil Lengkap: Papua Tengah Mendominasi
Pada kategori campuran, Papua Tengah menurunkan dua tim, yakni Papua Tengah A dan Papua Tengah B. Hasilnya begitu meyakinkan:
Papua Tengah A: Medali emas (juara pertama)
Papua Tengah B: Posisi kedua
Sumatera Selatan: Medali perunggu (peringkat ketiga)
Di kategori putri, Papua Tengah kembali menunjukkan ketangguhan mereka.
Papua Tengah: Medali emas (peringkat pertama)
Nusa Tenggara Barat (NTB): Medali perak (peringkat kedua)
Lampung: Medali perunggu (peringkat ketiga)
Sementara itu, di kategori putra, dominasi berpindah ke daerah lain, meski Papua Tengah tetap berada di papan atas.
Kalimantan Selatan: Medali emas (juara pertama)
Papua Tengah: Posisi kedua
NTB: Posisi ketiga
Delapan Provinsi Ikut Meramaikan
Turnamen sepak bola berjalan atau walking football ini diikuti oleh delapan provinsi dari seluruh Indonesia. Sebagai Inorga baru yang berada di bawah Komite Olahraga Masyarakat Indonesia, cabang ini langsung menarik perhatian berbagai kalangan.
Olahraga ini terbuka untuk laki-laki maupun perempuan, dan bisa diikuti lintas usia. Konsepnya santai, tapi tetap kompetitif, sehingga cocok untuk yang ingin tetap aktif tanpa harus memaksakan diri bermain sepak bola dengan intensitas tinggi.
Walking Football: Solusi Aman untuk Pecinta Bola Senior
Ketua Umum Persejasi, Hendra Hartono, pernah menjelaskan bahwa walking football lahir sebagai jawaban bagi para mantan pesepak bola maupun pencinta sepak bola yang sudah berusia lanjut, tetapi masih ingin turun ke lapangan tanpa risiko cedera berat.
Menurutnya, banyak pemain senior yang masih ingin merasakan atmosfer pertandingan, namun sepak bola reguler sering kali terlalu berat dan penuh risiko. Dari situ, muncullah ide menghadirkan format permainan yang lebih aman, terkontrol, dan ramah bagi usia lanjut.
Aturan Utama: Tanpa Lari, Tanpa Tekel, Tanpa Sliding
Supaya tetap seru tapi aman, walking football diatur dengan tiga prinsip besar:
Tanpa lari (no running): Pemain hanya boleh berjalan, bukan berlari.
Tanpa tekel (no tackling): Benturan fisik diminimalkan, tekel dilarang.
Tanpa sliding: Gerakan menjatuhkan diri untuk merebut bola tidak diperbolehkan.
Selain itu, ada beberapa aturan pendukung lain:
Tidak boleh sundulan demi menjaga keselamatan kepala dan leher.
Permainan difokuskan pada operan-operan rendah, sehingga mengurangi risiko benturan di udara.
Dengan konsep seperti ini, walking football bukan hanya jadi ajang nostalgia bagi para senior, tetapi juga membuka ruang baru bagi siapa saja yang ingin menikmati sepak bola dengan cara yang lebih aman, inklusif, dan tetap kompetitif.






