Dari Biji “Sampah” Jadi Bahan Mewah Skincare
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang menamai diri mereka Tim Curbita berhasil mengangkat biji labu kuning dari sekadar limbah dapur menjadi sumber squalene nabati dan antioksidan bernilai tinggi.
Mereka mengembangkan riset bertajuk ekstraksi senyawa aktif dari Cucurbita moschata Duch. dengan bantuan gelombang mikro, memakai pendekatan optimasi canggih berbasis Box-Behnken Design. Bahasa sederhananya: mereka bikin minyak biji labu versi super efisien dan super kaya manfaat.
Kenapa Dunia Skincare Obses Sama Squalene?
Kebutuhan squalene terus melonjak karena senyawa bioaktif ini punya banyak fungsi penting:
Antioksidan kuat: membantu melawan radikal bebas penyebab penuaan dini.
Antiinflamasi: berpotensi menenangkan kulit yang mudah iritasi.
Imunomodulator: mendukung sistem pertahanan tubuh.
Emolien: bikin kulit terasa lembap, halus, dan kenyal.
Tak heran kalau squalene jadi idola di industri:
Kosmetik, terutama untuk produk anti-aging dan moisturizer.
Pangan fungsional.
Farmasi, sebagai bahan aktif di berbagai formulasi.
Masalahnya, selama ini sumber utama squalene adalah hati ikan hiu dengan kadar yang bisa mencapai 79%. Eksploitasi besar-besaran jelas mengancam populasi hiu dan merusak ekosistem laut.
Di sinilah Tim Curbita masuk dengan solusi yang lebih hijau dan etis.
Biji Labu Kuning: Dari Limbah Jadi Emas Hijau
Selama ini, biji labu kuning dianggap kurang bernilai dan sering kali cuma berakhir di tempat sampah sebagai limbah agroindustri.
Padahal, menurut penjelasan salah satu anggota tim, Muhamad Nur Ilham, biji labu kuning bukan sekadar mengandung squalene, tapi juga kaya senyawa bioaktif lain seperti:
Tokoferol (vitamin E).
Fitosterol.
Asam lemak tak jenuh.
Senyawa fenolik.
Kombinasi ini membuat biji labu kuning sangat potensial dijadikan bahan baku untuk:
Kosmetik berbasis bahan alami.
Produk farmasi.
Pangan fungsional bernilai tambah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada periode 2021–2023, produksi labu kuning di Indonesia rata-rata mencapai 554.302 ton per tahun. Sekitar 3% di antaranya berupa biji dengan bobot 60–80 gram per buah.
Sebagian besar biji tersebut selama ini hanya dibuang, padahal mereka menyimpan senyawa bernilai tinggi yang berpotensi menjadi komoditas baru bagi industri.
Teknologi Ekstraksi: MAE vs Metode Konvensional
Untuk mengeluarkan “harta karun” dari biji labu kuning, Tim Curbita menggunakan metode Microwave-Assisted Extraction (MAE).
Metode ini dibandingkan dengan teknik konvensional seperti:
Soxhlet Extraction.
Ultrasound-Assisted Extraction (UAE).
Hasilnya cukup mencolok:
Soxhlet hanya menghasilkan rendemen squalene sekitar 1,51%.
UAE bahkan lebih rendah, sekitar 1,29%.
Pada kondisi optimum, MAE mampu menghasilkan rendemen minyak sebesar 24,63% dengan aktivitas antioksidan IC₅₀ 15,39 µg/mL.
Ilham menegaskan bahwa MAE tidak hanya unggul dalam efisiensi, tetapi juga mampu mempertahankan kandungan squalene dan senyawa bioaktif lain di dalam minyak biji labu kuning.
53 Senyawa Bioaktif: Bukan Minyak Biasa
Analisis menggunakan GC-MS mengungkap bahwa minyak biji labu kuning yang dihasilkan mengandung 53 senyawa bioaktif.
Beberapa temuan kunci:
Squalene terdeteksi sebesar 2,62% dan berada di peringkat ke-6, lebih tinggi daripada hasil dari metode Soxhlet maupun UAE.
- Senyawa dominan lainnya:
Ascorbyl dipalmitate (32,82%).
Asam oleat (25,42%).
Asam linoleat (11,93%).
Deretan senyawa ini berperan sebagai:
Antioksidan kuat.
Penurun kadar LDL.
Imunomodulator.
Fotoprotektan kulit, yang membantu melindungi kulit dari efek buruk paparan sinar UV.
Dengan komposisi seperti ini, minyak biji labu kuning bukan lagi sekadar minyak biasa, tetapi calon bahan aktif premium untuk produk skincare dan kesehatan.
Optimasi Cerdas: Main di Level Formulasi Ilmiah
Dari sisi optimasi proses, tim ini menggunakan analisis ANOVA berbasis Box-Behnken Design. Hasilnya menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan sangat baik, dengan nilai:
R² = 98,90% untuk rendemen.
R² = 98,99% untuk aktivitas antioksidan.
Artinya, model matematis yang mereka bangun sangat mampu memprediksi hasil ekstraksi.
Faktor-faktor yang paling memengaruhi proses antara lain:
Rasio bahan–pelarut terhadap rendemen minyak.
Daya microwave terhadap aktivitas antioksidan.
Waktu ekstraksi, yang berpengaruh signifikan dalam bentuk kuadratik.
Model persamaan kuadratik memprediksi kondisi optimum pada:
Rasio bahan–pelarut: 0,3040 g/mL.
Daya microwave: 446,639 W.
Waktu ekstraksi: 11,932 menit.
Dalam kondisi ini, diprediksi rendemen sebesar 29,69% dan IC₅₀ 11,72 µg/mL. Hasil eksperimen nyata menunjukkan nilai yang sangat dekat dengan prediksi, menandakan validitas model yang tinggi.
Dari Laboratorium ke Industri dan Media Sosial
Keberhasilan Tim Curbita tidak berhenti di angka-angka laboratorium saja. Mereka juga aktif dalam diseminasi hasil riset ke publik dan dunia ilmiah.
Beberapa capaian yang sudah diraih:
Laporan kemajuan penelitian telah rampung 100%.
Menulis artikel ilmiah untuk Jurnal Inovasi Teknik Kimia (target akreditasi Sinta 3).
Mengembangkan akun edukasi di Instagram dan TikTok, dengan total tayangan konten yang sudah menembus lebih dari 186 ribu view.
Mengajukan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk metode optimasi ekstraksi yang mereka kembangkan.
Langkah ini menunjukkan bahwa riset mereka bukan hanya kuat secara akademis, tetapi juga punya visi komersial dan edukatif yang jelas.
Apa Artinya untuk Dunia Makeup dan Skincare?
Penelitian Tim Curbita membuka peluang besar, khususnya untuk kamu yang tertarik dengan makeup kreatif dan skincare berbasis bahan alami.
Beberapa poin penting yang bisa ditarik:
Squalene nabati dari biji labu kuning bisa menjadi alternatif etis pengganti squalene dari hati ikan hiu.
- Potensi pemanfaatan di:
Formulasi primer dan foundation dengan klaim moisturizing dan anti-aging.
Lip product yang butuh emolien tinggi tanpa rasa berat.
Skincare fungsional yang menyasar perlindungan kulit dari polusi dan radikal bebas.
Limbah agroindustri bisa naik kelas menjadi bahan baku bernilai tinggi untuk industri kosmetik dan farmasi.
Dengan pendekatan ini, dunia kecantikan bisa bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan, ramah lingkungan, dan beretika, tanpa mengorbankan performa produk.
Menutup: Biji Kecil, Dampak Besar
Riset ini membuktikan bahwa:
Biji labu kuning punya potensi besar sebagai sumber squalene nabati unggul.
Teknologi ekstraksi yang tepat bisa menghasilkan minyak kaya bioaktif yang aplikatif untuk kosmetik, pangan fungsional, dan farmasi.
Pemanfaatan limbah agroindustri mampu mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Di balik sebutir biji kecil, tersimpan masa depan skincare yang lebih hijau dan cerdas. Dan mungkin, kelak kita akan menemukan label “pumpkin seed squalene” di ingredient list produk makeup dan skincare favorit kita.






