Rio Dewanto dan Totalitas di Film Horor Terbaru
Aktor Rio Dewanto kembali hadir di layar lebar lewat film horor berjudul ‘Kuyank’, produksi DHF Entertainment. Di proyek ini, ia memerankan sosok Badri, karakter yang diceritakan berasal dari Kandangan, Kalimantan Selatan.
Bukan sekadar berakting, Rio benar-benar menantang dirinya untuk menyatu dengan latar lokal yang kental di film ini.
Tantangan Utama: Menguasai Dialek Banjar
Peran sebagai Badri menuntut Rio untuk berbicara dengan dialek Banjar dalam berbagai dialog penting. Bagi Rio, justru aspek bahasa inilah yang menjadi rintangan terbesar saat membangun karakter.
Ia perlu memastikan cara bicaranya terdengar natural, bukan seperti menghafal dialek. Pengucapan, intonasi, sampai rasa dalam dialog harus terasa meyakinkan agar penonton ikut larut ke dalam cerita.
Belajar Kebiasaan Orang Kalimantan Selatan
Tidak hanya berhenti di bahasa, Rio juga menggali lebih dalam tentang keseharian masyarakat Kalimantan. Ia mempelajari kebiasaan-kebiasaan lokal yang mungkin dimiliki seorang tokoh seperti Badri, mulai dari cara bersosialisasi hingga gestur kecil yang mencerminkan latar budaya.
Menariknya, sebelum proyek ini, Rio sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Kalimantan. Justru lewat film inilah ia pertama kali mengenal langsung kehidupan di Kalimantan Selatan.
Pertama Kali ke Kalimantan, Sekalian “Riset Lapangan”
Keterlibatannya di ‘Kuyank’ justru membuka kesempatan bagi Rio untuk datang langsung ke Kalimantan Selatan. Pengalaman itu bukan cuma soal pekerjaan, tetapi juga menjadi momen berkesan dalam hidupnya.
Ia bisa berjalan-jalan, mengenal lingkungan baru, membangun pertemanan, dan pada saat yang sama menciptakan karya di daerah tersebut. Proses syuting pun berubah menjadi perjalanan pribadi yang berarti.
Hobi Tenis Jadi Kunci untuk Membaur
Satu hal menarik, Rio memanfaatkan hobinya untuk lebih mudah membaur dengan warga lokal: bermain tenis.
Sebelum syuting dimulai, salah satu hal pertama yang ia tanyakan adalah keberadaan lapangan tenis di sekitar lokasi. Begitu tahu ada, ia pun rutin bermain saat jadwal syuting sedang senggang.
Dengan cara ini, ia bukan hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga membuka ruang interaksi dengan warga sekitar. Ia bisa main bareng penduduk lokal, ngobrol santai, dan membangun kedekatan di luar set lokasi.
Tenis jadi sarana ice breaking dengan warga setempat
Waktu luang diisi dengan kegiatan positif
Relasi dengan penduduk lokal tetap terjaga bahkan setelah syuting usai
Hobi yang sederhana berubah menjadi jembatan sosial yang memperkaya pengalamannya selama di Kalimantan Selatan.
Peran Sutradara Putra Daerah
Kehadiran sutradara Johansyah Jumberan, yang berasal dari Kalimantan Selatan, juga punya kontribusi besar. Sebagai putra daerah, ia membantu menghadirkan suasana lokal yang autentik dalam film.
Mulai dari cara orang berbicara, kebiasaan sehari-hari, sampai nuansa lingkungan, semuanya bisa dikembangkan dengan lebih meyakinkan berkat perspektif lokal sang sutradara.
Penutup: Ketika Akting, Budaya, dan Hobi Bertemu
Lewat ‘Kuyank’, Rio Dewanto tidak hanya berlakon sebagai Badri, tetapi juga menjalani proses belajar budaya dan bahasa yang intens. Dialek Banjar, kebiasaan masyarakat, hingga interaksi lewat tenis membuat peran ini terasa lebih hidup.
Bagi Rio, proyek ini bukan sekadar film horor, melainkan pengalaman lengkap: bekerja, berlatih, bersosialisasi, serta menyelam ke dalam budaya Kalimantan Selatan secara langsung.






