Edukasi Safety Riding: Cara Pabrikan Membangun Budaya Cari Aman di Kalangan Muda

Edukasi Safety Riding: Cara Pabrikan Membangun Budaya Cari Aman di Kalangan Muda
Minat|Menggunakan & Merawat Mobil

Edukasi safety riding bukan sekadar kampanye, tapi investasi budaya

Edukasi safety riding adalah serangkaian program terstruktur yang dirancang pabrikan otomotif dan mitra komunitas untuk membentuk perilaku berkendara aman melalui kombinasi materi teori, praktik lapangan, dan pembiasaan prinsip defensif di jalan raya bagi generasi muda dan masyarakat umum. Inti dari semua inisiatif ini sederhana: keselamatan tidak boleh diserahkan pada keberuntungan. Honda dan jaringan diler utamanya membaca dengan tepat bahwa pelajar dan mahasiswa adalah pengguna motor paling aktif, sekaligus paling rentan. Karena itu, mereka tidak lagi cukup puas dengan memasang slogan di spanduk; mereka turun langsung ke kampus, sekolah, dan komunitas, mengemas program Cari Aman sebagai gaya hidup, bukan sekadar pesan. Pendekatan ini layak diapresiasi, tetapi juga perlu dikritisi: apakah kampanye ini cukup menyentuh akar masalah perilaku di jalan?

Kampus sebagai laboratorium defensive driving generasi muda

Masuknya Honda DAW ke Universitas Katolik De La Salle Manado menunjukkan bahwa kampus mulai diperlakukan sebagai laboratorium nyata defensive driving generasi muda. Sekitar 200 mahasiswa dan civitas akademika diajak membongkar ulang cara mereka memandang sepeda motor: bukan sekadar alat mobilitas, tetapi mesin yang menuntut disiplin. Menurut instruktur Safety Riding PT Daya Adicipta Wisesa, Andhika Reynold Salindeho, mahasiswa adalah kelompok pengguna roda dua yang sangat aktif, sehingga mengabaikan mereka sama saja membiarkan risiko meledak di kemudian hari. Kekuatan program ini ada pada perpaduan teori dan test ride, yang memberi pengalaman langsung soal posisi duduk, teknik pengereman, hingga pembiasaan prinsip program Cari Aman dalam setiap perjalanan. Ini bukan kelas PSA membosankan; ini adalah upaya menanamkan kesadaran keselamatan berkendara sebagai identitas, bukan hafalan aturan.

Masuk ke sekolah: safety riding yang menyenangkan atau sekadar hiburan?

Di level sekolah, Honda Babel lewat program Edukasi Safety Riding for School di SMKN 2 Pangkalpinang memilih jalur yang lebih ringan: materi diselipkan dalam sesi quiz, doorprize, dan tanya jawab. Strategi ini cerdas, karena remaja sering alergi terhadap ceramah kaku tentang aturan lalu lintas. Dengan mengemas edukasi safety riding secara interaktif, mereka terdorong mengingat materi karena dikaitkan dengan pengalaman menyenangkan. Bagas Adi Pati menekankan bahwa keselamatan harus menjadi kebiasaan, bukan hanya pengetahuan di kepala. Di sini, program Cari Aman diposisikan sebagai default setiap kali mereka menyalakan motor. Pertanyaannya: apakah pendekatan gamifikasi ini cukup dalam mengubah perilaku nyata di jalan, atau berhenti sebagai memori tentang hadiah dan kuis? Di sinilah konsistensi dan pengulangan materi di sekolah akan menentukan dampaknya.

Edukasi Safety Riding: Cara Pabrikan Membangun Budaya Cari Aman di Kalangan Muda

Cari Aman di kondisi ekstrem: dari kabut asap sampai distraksi handphone

Kampanye safety riding Honda tidak berhenti pada situasi normal; Astra Motor Sumsel mengangkat tema yang sering diabaikan: berkendara di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Jarak pandang berkurang drastis, kualitas udara memburuk, dan risiko meningkat, namun banyak pengendara tetap memaksa melintas. Safety Riding & Community Supervisor Astra Motor Sumsel, Fathan Nayoda, mengingatkan agar tidak memaksakan berkendara saat tubuh tidak fit atau kondisi jalan tidak aman; pesan ini tegas menempatkan kesehatan dan kewaspadaan di atas keinginan tiba cepat. Sementara itu, Asmo Sulsel menyoroti musuh senyap lain: handphone. Wanny Dewa mengingatkan, menerima telepon atau membalas chat saat berkendara adalah bentuk pengabaian terhadap prinsip Cari Aman. Edukasi seperti ini menambah lapisan kesadaran, bahwa defensif bukan hanya soal teknik, tetapi soal memilih untuk tidak terganggu.

Dari kampanye ke budaya: apa langkah selanjutnya?

Rangkaian program edukasi safety riding Honda—dari kampus, sekolah, hingga kampanye tematik tentang kabut asap dan distraksi handphone—jelas menargetkan meningkatnya kesadaran keselamatan berkendara di jalan. Ini langkah besar, tetapi belum selesai. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa program Cari Aman bukan sekadar slogan pabrikan, melainkan menjadi bahasa sehari-hari generasi muda ketika membicarakan motor dan mobilitas. Itu berarti kolaborasi berkelanjutan dengan guru, dosen, dan komunitas, serta evaluasi jujur tentang perubahan perilaku, bukan hanya jumlah peserta. Jika kampanye ini konsisten, kita bisa berharap defensive driving generasi muda berubah dari pengecualian menjadi norma sosial. Dan bila itu tercapai, pabrikan otomotif bukan hanya menjual kendaraan, tetapi ikut membentuk budaya jalan raya yang lebih manusiawi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!