Dari Rumah Bocor ke Hunian Layak: Cerita Perubahan di Desa
Wujud nyata dukungan pengentasan kemiskinan bukan cuma soal bantuan sembako, tapi menyentuh langsung ke masalah paling mendasar: tempat tinggal yang layak.
Lewat program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH), PT Djarum kembali menggerakkan renovasi dan pembangunan rumah warga tak mampu.
Untuk pertama kalinya, program ini menyentuh Kabupaten Purbalingga dengan merenovasi dan membangun ulang 10 rumah. Di saat yang sama, 15 rumah tidak layak huni di Kabupaten Banjarnegara juga ikut dibenahi.
Totalnya, ada 25 rumah yang dirombak agar penghuninya bisa merasakan hidup lebih aman, sehat, dan bermartabat.
Program ini bukan aksi seremonial sesaat. Lebih dari Rp 1,5 miliar digelontorkan sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional 3 juta rumah.
Lokasi, Anggaran, dan Skala Renovasi
Dalam tahap pelaksanaan kali ini, skema anggaran disesuaikan dengan tipe hunian:
Sekitar Rp 60 juta untuk rumah tipe dua kamar
Sekitar Rp 70 juta untuk rumah tipe tiga kamar
Distribusi rumah yang direnovasi tersebar di dua kabupaten:
Purbalingga
4 rumah di Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja
6 rumah di Desa Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja
Banjarnegara
8 rumah di Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja
7 rumah di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara
Dengan pola seperti ini, program tidak hanya fokus ke satu titik, tetapi menyebar ke wilayah kantong-kantong kemiskinan ekstrem.
Suara Warga: Dari Bocor dan Hampir Roboh, Jadi Nyaman Ditinggali
Di balik data dan angka, ada cerita manusia yang sangat personal. Salah satunya datang dari Sartiyah, warga Desa Tlahab Lor.
Rumah yang ia tinggali sebelumnya sering bocor ketika hujan. Anak-anaknya kesulitan tidur karena air merembes dan udara yang begitu dingin.
Kini kondisinya berubah total. Hunian yang tadinya penuh kekhawatiran pelan-pelan menjelma jadi rumah yang layak ditempati.
Ia mengaku lega dan bersyukur karena sudah tidak perlu lagi cemas saat cuaca buruk datang.
Kebahagiaan serupa dirasakan Evi Lestari, warga Desa Jalatunda di Banjarnegara. Sebelum renovasi, ia tinggal di bangunan yang nyaris roboh dan bahkan tidak memiliki kamar mandi.
Setelah tersentuh program RSLH, ia kini menempati rumah dengan lantai keramik dan fasilitas sanitasi yang memadai. Bukan sekadar tempat berteduh, tapi rumah yang benar-benar layak untuk hidup sehari-hari.
Bagi penerima manfaat seperti Sartiyah dan Evi, perubahan ini bukan hal kecil. Ini adalah lompatan kualitas hidup yang sangat terasa setiap hari.
Pemerintah Daerah: Bukan Sekadar Renovasi, Tapi Pemicu Produktivitas
Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, S.E., M.M., menyambut baik kehadiran program ini di wilayahnya.
Ia menilai bahwa bantuan seperti ini bukan hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga memberi dampak psikologis dan sosial kepada warga.
Dengan rumah yang lebih layak, warga penerima manfaat berpeluang untuk:
Lebih fokus bekerja tanpa khawatir kondisi rumah
Menjaga kesehatan keluarga dengan lingkungan yang lebih bersih
Membangun rasa percaya diri dan martabat di tengah masyarakat
Dari sisi pemerintah daerah, program ini diharapkan dapat:
Terus diperluas ke wilayah lain di Jawa Tengah
Menjadi salah satu pilar pendukung percepatan pengentasan kemiskinan
Dalam seremoni peresmian RSLH di Pendopo Kantor Bupati Purbalingga, berbagai pihak hadir sebagai bentuk dukungan, mulai dari jajaran pemerintah daerah hingga mitra perusahaan.
Di Balik Program RSLH: Konsep, Fokus, dan Pendekatan
General Manager Community Development PT Djarum, Achmad Budiharto, memaparkan bahwa program RSLH bukan proyek yang datang tiba-tiba.
Sejak 2022, program ini dijalankan secara konsisten dengan fokus utama:
Memastikan hunian memenuhi standar aman, nyaman, dan sehat
Memberikan ruang bagi warga untuk hidup lebih bermartabat
Beberapa prinsip yang diterapkan dalam setiap pembangunan dan renovasi rumah antara lain:
Desain disesuaikan untuk keluarga kecil
Setiap rumah dilengkapi ruang serbaguna
Tersedia dapur yang fungsional
Ada fasilitas sanitasi yang memadai
Pembangunan dilakukan dengan pendekatan total intervensi, artinya:
Penerima bantuan tidak dibebani biaya tambahan
Penanganan rumah dilakukan secara menyeluruh, bukan tambal-sulam
Intinya, tujuan program bukan sekadar mempercantik bangunan, tetapi mengubah kualitas hidup penghuninya.
Bukan Hanya Rumah: Akses Air Bersih Juga Dibenahi
Hunian layak tidak bisa dipisahkan dari akses air bersih. Menyadari hal itu, PT Djarum bekerja sama dengan PT Pralon untuk menghadirkan fasilitas air yang lebih baik bagi warga.
Beberapa langkah konkret yang dilakukan:
Membangun bak penampungan air
Mengalirkan air melalui jaringan pipa HDPE sepanjang 2,8 kilometer
Sumber air diambil dari Banyu Bacin dan disalurkan menuju Dukuh Pete
Dampaknya sangat terasa:
Sekitar 43 rumah atau 177 jiwa kini bisa menikmati akses air bersih langsung ke rumah.
Dengan adanya air bersih yang mengalir, kualitas hidup meningkat di banyak sisi:
Kebersihan dan kesehatan keluarga lebih terjaga
Aktivitas harian seperti memasak, mandi, dan mencuci jadi lebih mudah
Warga tidak perlu lagi menempuh jarak jauh hanya untuk mengambil air
Target 2025: Ratusan Rumah Siap Dibereskan
Program ini tidak berhenti di 25 rumah saja.
Sepanjang 2025, PT Djarum menargetkan 350 rumah untuk direnovasi di berbagai kabupaten di Jawa Tengah.
Jika ditarik mundur sejak program ini dimulai pada 2022 hingga akhir tahun berjalan, total hunian yang sudah dan akan dibangun mencapai sekitar 620 unit yang tersebar di sembilan kabupaten.
Angka ini menunjukkan bahwa program RSLH diarahkan sebagai gerakan jangka panjang, bukan sekadar proyek temporer.
Renovasi Rumah, Renovasi Harapan
Dari luar, mungkin yang tampak hanya dinding baru, atap rapat, lantai keramik, dan kamar mandi yang akhirnya layak pakai.
Namun di balik itu semua, ada hal yang jauh lebih penting:
rasa aman, rasa layak, dan harapan baru bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Bagi para pegiat renovasi rumah dan siapa pun yang peduli pada isu hunian layak, program seperti ini bisa menjadi inspirasi:
Bahwa renovasi rumah bukan hanya soal estetika, tetapi menyentuh ranah kemanusiaan
Bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat bisa menghasilkan perubahan konkret
Bahwa setiap rumah yang diperbaiki berarti satu keluarga yang kualitas hidupnya ikut terangkat
Ketika rumah berubah, cara memandang masa depan pun ikut berubah.






