Dari Sisa Seduhan Teh ke Dekor Estetik
Mahasiswa Program Studi Desain dan Manajemen Produk, Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), berhasil mengubah hal yang terlihat sepele: kantong teh celup bekas menjadi rangkaian produk dekorasi rumah yang estetik sekaligus ramah lingkungan.
Merek yang mereka ciptakan diberi nama “Dipt”. Di bawah nama ini, lahirlah beragam produk seperti jam dan lampu meja, catur, hingga tray atau nampan. Semua dirancang bukan sekadar menarik secara visual, tetapi juga mengusung nilai sustainability yang kuat.
Ide Besar di Balik Kantong Teh Bekas
Jeanne Theresia Mintarja, mahasiswa FIK Ubaya di balik Dipt, melihat satu fakta sederhana: konsumsi teh di Indonesia sangat tinggi. Dari situ ia menangkap peluang, bahwa kantong teh celup yang selama ini langsung dibuang bisa diberi “kehidupan kedua” melalui desain dekorasi.
Baginya, mendaur ulang kantong teh bukan hanya soal kreativitas, tapi juga bentuk nyata kontribusi terhadap lingkungan.
Resep Rahasia: Material Ramah Lingkungan
Untuk mengolah kantong teh bekas menjadi produk dekorasi, Jeanne sengaja memilih berbagai bahan yang sama-sama ramah lingkungan.
Beberapa material kunci yang digunakan antara lain:
Perekat berbahan ekstrak biji guar gum, yang membantu menyatukan material tanpa bahan kimia berbahaya.
Biovarnish untuk menghadirkan finishing mengilap, tahan lama, dan tetap aman.
Potongan kayu sisa produksi mebel dari pengrajin sekitar, sehingga limbah kayu juga termanfaatkan.
Kombinasi ini membuat produk Dipt tidak hanya tampil estetis, tetapi juga punya cerita kuat tentang pengurangan limbah.
Proses Kreatif: Setahun Eksplorasi Penuh Trial and Error
Perjalanan dari ide sampai produk jadi bukan hal instan. Jeanne menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk bereksplorasi hingga menghasilkan produk yang siap dipamerkan.
Ia mengaku tertarik dengan karakter material kantong teh, namun di saat yang sama ingin tetap mengusung esensi home decor sebagai tema utama. Tantangannya, produk tidak boleh hanya bagus secara visual, melainkan juga fungsional dan tahan lama.
Tantangan Teknis: Menyatukan Kayu dan Kantong Teh
Dalam prosesnya, Jeanne berkali-kali mengalami kegagalan, terutama saat mencoba menyatukan kayu dengan kantong teh yang sudah dicetak.
Proses pembuatan Dipt secara garis besar meliputi:
Seleksi kantong teh untuk mendapatkan warna tertentu.
Menentukan komposisi: semakin gelap warna yang diinginkan, semakin tinggi rasio kantong teh yang sudah terseduh.
Kantong teh kemudian melalui proses pulping, dihancurkan menjadi bubur.
Bubur kantong teh dicampur guar gum agar mudah merekat dan membentuk struktur yang solid.
Campuran tersebut dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan selama 2–3 hari.
Setelah benar-benar kering, produk diamplas dan dipernis untuk mendapatkan permukaan yang halus dan mengilap.
Terakhir, dilakukan penataan komponen tambahan seperti lampu, baterai, dan mesin jam agar produk tidak hanya cantik, tetapi juga dapat berfungsi dengan baik.
Setiap tahap memerlukan ketelitian tinggi agar hasil akhir tetap rapi, kuat, dan nyaman dipakai sebagai dekorasi.
Potensi Bisnis: Dari Proyek Kampus ke Produk Komersial
Menurut Jeanne, Dipt punya peluang besar untuk diproduksi secara masif dan dikomersialisasi. Saat ini, proses pengerjaan masih dilakukan secara mandiri dan sangat bergantung pada cahaya matahari dalam tahap pengeringan.
Hal tersebut membuat produksi belum bisa berjalan dalam skala besar, tetapi justru membuka ruang pengembangan di masa depan.
Langkah Selanjutnya: Otomasi dan Eksplorasi Bentuk Baru
Ke depan, Jeanne ingin fokus pada peningkatan kualitas dan pengembangan produk Dipt agar benar-benar siap menembus pasar yang lebih luas.
Ia melihat masih banyak kemungkinan bentuk dan jenis produk yang bisa dieksplor dari material kantong teh bekas ini. Saat ini, seluruh proses pengerjaan masih dilakukan secara manual, sehingga:
Kerapian dan kepadatan material sangat bergantung pada ketelatenan tangan.
Otomasi dan teknologi dinilai bisa membantu membuat hasil lebih konsisten dan solid.
Dengan sentuhan teknologi, Dipt berpotensi naik kelas dari proyek kreatif mahasiswa menjadi brand dekorasi ramah lingkungan yang serius diperhitungkan.
Penutup: Dekorasi Cantik, Bumi Ikut Lega
Dipt membuktikan bahwa dekorasi estetik tidak harus mengorbankan lingkungan.
Mengubah kantong teh bekas menjadi jam, lampu meja, catur, hingga tray bukan hanya soal gaya, tetapi juga gaya hidup yang lebih sadar bumi.
Dalam satu produk dekorasi, tersimpan pesan kuat: limbah kita hari ini bisa jadi karya seni untuk esok hari, selama ada kreativitas, kesabaran, dan keberanian untuk bereksperimen.






