Kuybeli

Rabies di Flores-Lembata: Ratusan Nyawa Melayang Padahal Bisa Dicegah

Profil Intan PermatasariIntan Permatasari02-02

Rabies: Bukan Penyakit Kecil yang Bisa Diabaikan

“Rabies bukan penyakit kecil, tapi masih belum dianggap prioritas.”

Begitu kira-kira nada gusar yang berkali-kali muncul dari penjelasan dr. Asep Purnama, SpPD, Sekretaris Umum Komite Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Flores-Lembata.

Di Flores, NTT, kasus rabies muncul hampir setiap tahun, tetapi perbincangan soal penyakit yang menular lewat hewan – terutama anjing – ini baru ramai ketika ada korban meninggal.

Sepanjang tahun ini saja, tercatat 5.538 kasus gigitan hewan penular rabies (HPR), mayoritas anjing. Beberapa berujung kematian, salah satunya dialami Maria Novlin Bruno, yang meninggal empat bulan setelah digigit anjing peliharaan.

Di balik angka itu, mengendap satu kenyataan pahit: rabies sebenarnya bisa dicegah dan bahkan dieliminasi, tapi sistem pencegahannya masih jauh dari kata serius.

Kenapa Rabies Terus Berulang di Flores-Lembata?

Rabies sudah lama menjadi bagian dari peta penyakit di Indonesia. Para ahli memahami cara kerja virus ini dan bagaimana memutus rantai penularannya. Masalahnya ada di pelaksanaan yang tidak konsisten.

  • Rabies baru ramai ketika ada korban jiwa, lalu perlahan dilupakan.

  • Media jarang mengangkat kasus rabies, apalagi yang terjadi di wilayah pedalaman.

Rabies adalah penyakit zoonosis: menular dari hewan ke manusia, terutama lewat anjing. Dalam banyak kasus, anjing juga sebenarnya korban – ketika ia terinfeksi, ia dapat menularkan ke anjing lain dan manusia.

Manusia yang terinfeksi rabies tidak menularkan ke sesama manusia. Mereka adalah “korban terakhir” dalam rantai penularan.

Karena itu, kunci utama pencegahan ada pada anjing.

  • Minimal 70% populasi anjing harus divaksin setiap tahun untuk memutus rantai penularan.

  • Banyak pemilik anjing lalai: anjing tidak divaksin, makan tak terurus, dan dibiarkan berkeliaran bebas.

Di atas semua itu, ada masalah yang lebih besar: prioritas pemerintah yang masih lemah.

  • Kampanye eliminasi rabies berupa vaksinasi massal dan edukasi belum pernah benar-benar digarap serius, baik di Flores maupun nasional.

  • Pemerintah memberi prioritas tinggi pada ternak seperti sapi, kambing, dan babi karena dianggap terkait pangan dan ekonomi.

  • Anjing tidak masuk kategori hewan ternak, sehingga program vaksinasi anjing kerap terpinggirkan.

Bahkan, ketika pernah ada anggaran khusus vaksinasi anjing, dana itu dialihkan untuk menangani penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi. Mata rantai rapuh inilah yang membuat anjing tetap rentan, dan rabies terus muncul dalam siklus yang tak pernah putus.

Catatan lapangan menunjukkan, sekitar 400 orang di Flores telah meninggal akibat rabies. Di atas kertas, angka ini sudah cukup menunjukkan: rabies bukan penyakit kecil.

Vaksin Ada, Pasien Tetap Sulit: Di Mana Masalahnya?

Secara resmi, pemerintah sering menyebut stok vaksin tersedia. Namun, di lapangan, cerita yang muncul justru sebaliknya: pasien kesulitan mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) saat sangat membutuhkannya.

Menurut Asep, akar masalahnya ada pada tiga hal:

  • Harga vaksin yang mahal

  • Distribusi yang tidak merata

  • Anggaran yang minim dan tidak konsisten

Mari lihat hitung-hitungan kasarnya:

  • Harga pokok vaksin rabies sekitar Rp250.000 per dosis.

  • Ketika masuk apotek, bisa naik menjadi Rp300.000–400.000 per dosis.

  • Satu orang korban gigitan butuh minimal empat kali suntikan.

Artinya, satu pasien bisa menghabiskan sekitar Rp1 juta hanya untuk vaksin, belum termasuk jarum, sarana penyimpanan vaksin dalam kulkas khusus, dan biaya logistik lain.

Jika ada 100 korban gigitan, kebutuhan dana bisa mencapai Rp100 juta hanya untuk vaksin manusia.

Belum lagi Serum Anti Rabies (SAR), yang dibutuhkan pada kasus gigitan berat seperti di kepala atau area vital.

  • Harga SAR sekitar Rp1,6 juta per vial.

  • Dosis menyesuaikan berat badan. Untuk orang dengan berat 60 kg, total biaya bisa mencapai Rp7 juta.

Selama ini, pemerintah pusat menjadi pemasok utama vaksin. Namun, dalam sistem otonomi daerah, seharusnya pemerintah daerah juga mengalokasikan anggaran sendiri. Fakta yang terjadi: perhatian daerah soal rabies masih sangat rendah, sehingga distribusi vaksin terbatas, dan stok sering kosong ketika situasi genting.

Masalah lain yang tidak kalah krusial:

  • Ada kasus vaksin tersedia, tetapi pasien terlambat datang karena mereka tidak tahu betapa mematikannya rabies.

Di titik ini, jelas bahwa persoalan rabies bukan hanya soal barang bernama vaksin. Edukasi publik yang minim dan kurang agresif menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Ketika Keterlambatan Vaksin Berujung Kematian

Kasus yang menimpa Maria Novlin Bruno menjadi contoh telanjang dari rapuhnya sistem respon rabies.

Ia digigit anjing peliharaan, tetapi akses terhadap vaksin sangat terbatas. Vaksin datang terlambat, dan ketika gejala rabies muncul, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Dalam rabies, tidak ada kesempatan kedua:

  • Begitu gejala klinis muncul, tidak ada obat.

  • Hampir semua pasien pada tahap ini akan meninggal.

Karena itu, Asep menilai, pembenahan paling mendesak adalah membangun sistem respon cepat.

Beberapa langkah penting yang ia tekankan:

  • Setiap puskesmas harus siap dengan stok vaksin rabies untuk kasus gigitan.

  • Jika stok kosong, rujukan resmi harus langsung aktif, bukan sekadar menyuruh pasien “cari sendiri” ke fasilitas lain.

  • Pemerintah perlu menyiapkan jalur darurat, misalnya:

    • Transportasi khusus

    • Ambulans desa atau kecamatan

Dalam konteks rabies, setiap menit keterlambatan bisa bernilai nyawa.

Selain itu, perlu dibentuk unit siaga rabies di setiap kecamatan.

  • Unit ini tidak perlu besar, tetapi harus punya tugas jelas: memastikan vaksin tersedia dan bisa diberikan kapan saja.

  • Dengan ratusan kecamatan di Flores, artinya harus ada ratusan titik siaga rabies. Ini jauh lebih efektif ketimbang hanya menyimpan vaksin di gudang kabupaten.

Di sisi prosedur, SOP (Standar Operasional Prosedur) penanganan harus tegas dan jelas:

  • Korban gigitan tidak boleh ditolak hanya karena stok di satu fasilitas kosong.

  • Harus ada sistem pengiriman cepat dari gudang atau posko cadangan.

  • Pasien tidak boleh dipingpong dari satu tempat ke tempat lain.

Selama langkah-langkah ini tidak dijalankan, kasus seperti Maria akan terus berulang. Kita hanya akan mendengar nama korban yang berganti, sementara pola tragedinya sama.

Semua itu sejatinya bisa dicegah, kalau pemerintah mau serius.

Titik Terlemah: Pencegahan di Anjing yang Diabaikan

Jika harus menunjuk satu kelemahan paling fatal dalam penanganan rabies di Flores, Asep menyebutnya dengan jelas: pencegahan yang buruk.

Selama ini, energi dan anggaran banyak tercurah untuk menangani manusia yang sudah menjadi korban gigitan. Padahal, akar masalahnya ada pada anjing yang tidak divaksin.

Logikanya sederhana:

  • Rabies adalah penyakit dari hewan ke manusia.

  • Kalau anjing-anjing di Flores divaksin rutin, minimal 70% dari populasi, maka rantai penularan bisa diputus.

Faktanya, cakupan vaksinasi anjing masih sangat rendah.

Situasi ini diibaratkan memadamkan api di rumah tanpa pernah mematikan sumber apinya.

Di sisi lain, koordinasi lintas sektor juga lemah.

Padahal, rabies adalah penyakit zoonosis yang seharusnya ditangani dengan pendekatan one health:

  • Kesehatan manusia

  • Kesehatan hewan

  • Kesehatan lingkungan

Semua seharusnya bekerja bersama.

Yang terjadi di lapangan justru sebaliknya:

  • Dinas kesehatan berjalan sendiri.

  • Dinas peternakan berjalan sendiri.

  • Pemerintah desa juga bergerak sendiri-sendiri.

Tanpa integrasi, yang muncul hanyalah program tambal sulam.

Di tingkat masyarakat, masalah lain muncul: rendahnya kesadaran pemilik anjing.

  • Banyak pemilik menganggap anjing hanya penjaga rumah, sehingga tidak perlu perhatian khusus.

  • Anjing dibiarkan berkeliaran, makan seadanya, tanpa vaksin.

  • Ketika anjing tertular rabies, korban berikutnya bisa jadi keluarga sendiri atau tetangga.

Edukasi tentang risiko ini hampir tidak berjalan.

  • Pemerintah hanya terlihat ketika ada kasus besar.

  • Setelah itu, kampanye menghilang begitu saja.

Karena itu, kalau ditanya apa kelemahan paling mendasar, jawabannya saling terkait:

  • Pencegahan yang lemah

  • Koordinasi antarinstansi yang buruk

  • Edukasi masyarakat yang minim

Selama tiga hal ini tidak dibenahi, rabies di Flores akan terus berputar dalam lingkaran yang sama.

Lima Langkah Strategis agar Rabies Bisa Ditekan

Rabies bukan penyakit yang mustahil dikalahkan. Banyak negara telah berhasil mengeliminasi rabies, dan kuncinya bukan pada keajaiban, melainkan komitmen politik jangka panjang.

Menurut Asep, pemerintah harus berani punya target eliminasi rabies yang jelas, bukan sekadar jargon atau slogan.

Berikut lima rekomendasi strategis yang ia dorong:

1. Vaksinasi Massal Anjing Jadi Prioritas Utama

  • Setiap tahun harus ada program vaksinasi massal anjing dengan cakupan minimal 70% dari seluruh populasi di Flores.

  • Program ini tidak bisa sekali jalan. Anjing baru akan terus lahir, sehingga vaksinasi harus berulang dan terjadwal.

  • Ketika angka cakupan ini tercapai, rantai penularan rabies akan putus secara bertahap.

2. Rantai Distribusi Vaksin Manusia Sampai ke Desa

  • Vaksin untuk manusia tidak boleh hanya disimpan di tingkat kabupaten.

  • Pemerintah perlu membangun rantai logistik berlapis:

    • Pusat → Provinsi

    • Provinsi → Kabupaten

    • Kabupaten → Puskesmas → Desa

  • Setiap mata rantai harus dipantau agar tidak ada titik kosong ketika pasien membutuhkan vaksin.

3. Edukasi Publik yang Masif dan Praktis

Edukasi harus keluar dari ruang seminar dan masuk ke desa, sekolah, gereja, masjid, kelompok tani, dan komunitas pemilik anjing.

Fokus pesannya harus sederhana dan mudah diingat:

  • Gigitan anjing bukan hal sepele.

  • Jika digigit anjing:
    • Segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama beberapa menit.

    • Langsung ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin.

Pengetahuan dasar seperti ini bisa menyelamatkan banyak nyawa, terutama di wilayah yang jauh dari rumah sakit besar.

4. Aturan Tegas untuk Pemilik Anjing

Tanpa regulasi, upaya pencegahan akan selalu kalah oleh kebiasaan lama.

Pemerintah perlu menerapkan aturan yang jelas, misalnya:

  • Wajib vaksinasi anjing.

  • Pengendalian populasi, termasuk program sterilisasi.

  • Kewajiban pemilik untuk tidak membiarkan anjing berkeliaran tanpa kontrol.

Jika aturan dilanggar, harus ada sanksi nyata, agar masyarakat sungguh-sungguh mengubah cara mereka memperlakukan anjing.

5. Anggaran Khusus yang Tidak Boleh Diutak-atik

Pemerintah daerah perlu berani mengunci anggaran khusus untuk rabies.

  • Anggaran ini tidak boleh terus-menerus dialihkan setiap kali muncul isu penyakit lain.

  • Anjing memang bukan hewan ternak yang langsung terlihat kontribusinya ke ekonomi.

Namun, rabies sudah membunuh ratusan orang di Flores.

Maka pertanyaannya menjadi sangat tajam: apakah nyawa manusia harus kalah prioritas dibanding sapi atau babi?

Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga pertanyaan moral dan politik.

Penutup: Rabies Bisa Dicegah, Kalau Benar-Benar Mau

Jika langkah-langkah pencegahan di anjing diperkuat, distribusi vaksin diperbaiki, edukasi dimasifkan, aturan pemeliharaan anjing dipertegas, dan anggaran tidak lagi diperlakukan seperti pos cadangan yang boleh diambil kapan saja, rabies di Flores sangat mungkin ditekan secara signifikan.

Sebaliknya, selama rabies hanya muncul sebagai isu musiman setiap kali ada korban meninggal, kita akan terus mendengar cerita-cerita tragis yang sebenarnya bisa dicegah.

Pada akhirnya, pilihan ini kembali ke satu hal: sejauh mana pemerintah mau serius menjadikan rabies sebagai prioritas, bukan sekadar catatan di atas kertas.

komentar

Belum ada komentar,