sumber gambar: Hasan Albari via pexels
Dalam budaya Indonesia, momen berbuka puasa identik dengan hidangan manis dan menyegarkan. Kolak pisang, es buah, sop buah, bubur sumsum, kolang-kaling, aneka gorengan, sampai kue basah dan jajanan pasar selalu hadir di meja makan. Di antara semua itu, teh manis hangat sering menjadi minuman wajib yang disajikan saat takjil.
Fenomena ini terlihat dalam berbagai kebiasaan buka puasa bersama, baik di rumah, masjid, hingga kafe dan restoran. Teh hangat sering menemani kurma dan panganan manis lain sebagai pembatal puasa pertama sebelum masuk ke makanan utama.
Sejarah Kebiasaan Minum Teh dan Pengaruh Ramadan
Kebiasaan menyegerakan berbuka puasa sudah ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (puasa).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam praktiknya, Rasulullah SAW biasa berbuka dengan buah kurma segar, kurma kering, atau beberapa teguk air. Di Indonesia, ajaran untuk berbuka dengan sesuatu yang manis dan sederhana kemudian berkembang dalam bentuk hidangan dan minuman lokal—salah satunya teh manis hangat.
Seiring waktu, budaya minum teh di waktu berbuka semakin menguat, terlebih di tengah maraknya acara buka puasa bersama di kafe dan restoran. Promo khusus bukber, paket menu lengkap, dan suasana berkumpul membuat teh (baik panas maupun dingin) menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari paket berbuka.
Gula dalam Teh: Energi Instan Setelah Puasa

Berbuka puasa dianjurkan dengan makanan atau minuman yang manis karena kandungan gula dapat mengembalikan energi tubuh setelah seharian berpuasa. Dalam konteks ini, teh manis menjadi sumber energi cepat karena:
Gula mudah diserap tubuh dan membantu mengurangi rasa lemas
Minuman manis hangat terasa melegakan setelah lambung kosong seharian
Namun, ada catatan penting dari ahli gizi yang dikutip dalam salah satu pembahasan mengenai stamina saat puasa: konsumsi gula berlebihan, terutama dari minuman manis yang rutin dikonsumsi setiap hari, dapat memicu lonjakan gula darah yang tidak baik bagi tubuh. Karena itu, manfaat energi instan dari gula perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap jumlah yang dikonsumsi.
Kenyamanan Lambung: Peran Teh Hangat Saat Berbuka
Setelah sekitar 13 jam lambung dalam keadaan kosong, pilihan pertama saat berbuka sangat menentukan kenyamanan pencernaan. Di antara berbagai saran yang muncul dalam pembahasan tentang stamina saat puasa, ada beberapa prinsip yang dapat dikaitkan dengan kebiasaan minum teh hangat:
Minuman bersuhu ruang atau hangat lebih ramah untuk lambung dibanding air yang terlalu dingin
Minuman hangat membantu mengurangi “kaget” pada lambung setelah kosong seharian
Dengan demikian, teh hangat (dengan kadar gula yang wajar) dapat memberikan rasa nyaman di perut dan menjadi transisi yang lembut sebelum makan utama. Ini sejalan dengan imbauan untuk menghindari minum air terlalu dingin saat berbuka agar perut tidak kaget.
Teh Hangat vs Es Teh: Mana Lebih Baik untuk Berbuka?
Dalam praktik di lapangan, kita sering melihat dua kubu: pencinta teh hangat dan penggemar es teh manis saat berbuka. Berdasarkan informasi yang ada dalam pembahasan pola makan saat puasa, beberapa poin berikut bisa ditarik:
Suhu minuman:
Minuman dingin saat berbuka tidak dianjurkan karena dapat mengagetkan lambung yang kosong.
Minuman bersuhu ruang atau hangat lebih disarankan.
Kenyamanan pencernaan:
Perut yang seharian kosong lebih mudah menerima minuman hangat.
Minuman dingin berpotensi membuat perut tidak nyaman pada sebagian orang.
Dari sini, teh hangat manis lebih selaras dengan anjuran menjaga kenyamanan lambung di awal berbuka dibanding es teh.
Risiko Kafein Berlebih dan Efek Diuretik Saat Dehidrasi
Meski tidak diulas secara rinci angka dan batas kafein, ada beberapa petunjuk yang muncul terkait minuman berkafein saat puasa:
Saat sahur, dianjurkan menghindari minuman yang bersifat diuretik, seperti kopi atau minuman bersoda, karena dapat memicu sering berkemih dan mempercepat kekurangan cairan di siang hari.
Teh, sebagaimana kopi, adalah minuman berkafein dan berpotensi memiliki efek diuretik, terutama bila dikonsumsi berlebihan.
Dalam konteks berbuka:
Tubuh baru saja melalui fase panjang tanpa cairan; fokus utama adalah mengganti cairan dan menjaga keseimbangan elektrolit
Konsumsi minuman berkafein (termasuk teh) dalam jumlah banyak dapat memperburuk dehidrasi karena efek diuretiknya
Artinya, teh manis boleh saja menjadi bagian dari takjil, tetapi tidak sebaiknya menjadi satu-satunya sumber cairan dan tidak dikonsumsi berlebihan, mengingat potensi kafein dan efek diuretiknya.
Teh Apa dan Berapa Manis? Rekomendasi Lebih Sehat
Dari rangkaian pembahasan tentang takjil sehat, stamina saat puasa, dan pola berbuka, beberapa prinsip bisa dijadikan rujukan saat memilih teh untuk berbuka:
Pilih minuman yang tidak terlalu manis
Konsumsi gula berlebihan dari teh manis dapat menyebabkan lonjakan gula darah.
Anjuran “kurang manis” yang muncul pada kebiasaan minum teh tarik dapat diterapkan juga pada teh manis biasa.
Utamakan air putih sebagai pengganti cairan utama
Beberapa saran berbuka menyebutkan: minum air putih dan kurma, kemudian jeda sebelum makan besar.
Teh manis dapat dijadikan pelengkap, bukan pengganti air putih.
Perhatikan frekuensi dan porsi
Teh manis setiap hari, dua kali (sahur dan berbuka), dengan gula banyak akan menambah beban metabolisme tubuh.
Porsi kecil–sedang dengan gula yang dikurangi lebih sejalan dengan upaya menjaga stamina.
Terkait jenis teh, data yang tersedia tidak merinci varian (hitam, hijau, dsb). Namun, fokus utamanya tetap pada dua hal: kadar gula dan kandungan kafein.
Menjaga Keseimbangan: Tradisi Takjil dan Pilihan Sehat
Takjil, termasuk teh manis, memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat:
Menjadi momen kebersamaan dalam buka puasa bersama
Menggerakkan ekonomi lokal dan UMKM saat Ramadan
Menjadi bagian dari suasana khas yang dirindukan banyak orang
Di sisi lain, berbagai tulisan yang dibahas menekankan pentingnya:
Tidak berlebihan dalam makan dan minum saat berbuka
Menghindari pemborosan dan hedonisme
Memilih menu berbuka yang sehat, bernutrisi, dan seimbang (karbohidrat kompleks, serat, protein, dan cairan yang cukup)
Dalam kerangka ini, teh manis hangat tetap bisa menjadi bagian dari tradisi takjil, selama:
Disajikan dengan kadar gula yang wajar
Tidak menggantikan air putih sebagai sumber hidrasi utama
Tidak dikonsumsi berlebihan mengingat kandungan kafein dan efek diuretiknya
Dengan begitu, keseimbangan antara kenikmatan tradisi dan kepedulian terhadap kesehatan tetap terjaga: sunnah menyegerakan berbuka dapat dijalankan, tradisi takjil tetap hidup, dan tubuh pun tetap mendapat asupan yang ramah bagi lambung, gula darah, dan stamina sepanjang Ramadan.






