Steam Deck: Ketika Harga Naik, Minat Turun
Kenaikan harga handheld gaming adalah fenomena ketika perangkat yang dulu diposisikan sebagai opsi handheld gaming terjangkau kini bergerak ke segmen harga yang lebih tinggi, memicu penurunan minat beli, pergeseran preferensi ke kompetitor, dan memaksa konsumen menimbang ulang apakah fleksibilitas bermain di mana saja sepadan dengan biaya yang terus membengkak.
Steam Deck adalah contoh paling telanjang bahwa gamer sangat sensitif terhadap pricing. Analisis terbaru memperkirakan penjualan Steam Deck turun 82% setelah harga Steam Deck naik, dengan posisinya merosot tajam di Steam Top Sellers dari peringkat 5 ke 14 setelah kembali dijual dengan harga baru. Sebelumnya perangkat ini diperkirakan menjual 11.000–18.000 unit per minggu, kini hanya 1.400–3.000 unit dengan pendapatan yang ikut menyusut sekitar 72%.
Selama ini, harga yang terjangkau menjadi alasan terbesar kesuksesan Steam Deck. Begitu keunggulan itu hilang, konsumen langsung menghukum dengan dompet mereka. Di titik harga baru, Steam Deck mulai bersinggungan dengan handheld generasi baru yang menawarkan performa lebih tinggi, sehingga value proposition-nya menjadi kabur. Strategi naik harga di tengah kompetisi ketat adalah perjudian yang kini terlihat mahal.

Pasar Terbelah: Dari Handheld Terjangkau ke Ultra-Premium
Pasar handheld gaming yang dulu identik dengan alternatif hemat untuk menikmati game PC kini bergeser ke arah yang semakin elitis. Berkat semakin melambung tingginya harga komponen, harga perangkat gaming, termasuk handheld gaming, kini semakin sulit dikatakan “terjangkau”. Perangkat yang awalnya dipopulerkan sebagai solusi ringkas dan mobile perlahan bergeser ke segmen premium.
AYANEO Next II adalah simbol ekstrem dari tren ini. Varian tertinggi handheld ini dijual hingga USD 5.299 (sekitar Rp86 juta), menjadikannya salah satu handheld gaming termahal di pasaran. Varian dengan RAM 64 GB dibanderol USD 3.699, sedangkan model “termurah” dengan RAM 32 GB dan SSD 1 TB berada di angka USD 2.999. Krisis harga memori dan storage membuat biaya komponen mendekati dua kali lipat perhitungan awal, memaksa AYANEO menangguhkan pre-order dan kemudian kembali dengan harga jauh lebih tinggi.
Dengan RAM hingga 128 GB dan SSD 2 TB pada model flagship, AYANEO Next II jelas membidik sesuatu yang lebih dari sekadar konsol portabel. Namun konfigurasi seperti itu jauh melampaui kebutuhan gamer kebanyakan. Produsen ini sadar mereka tidak menjual handheld gaming terjangkau; mereka menjual status, niche ultra-premium, dan ide “tanpa kompromi” yang secara praktis tidak relevan untuk mayoritas konsumen yang hanya ingin bermain nyaman tanpa menjual ginjal.

Cloud Gaming Lenovo Legion C700: Murah di Depan, Mahal di Belakang
Di tengah kenaikan harga perangkat berbasis silikon, muncul satu jalur lain: handheld cloud. Lenovo telah menetapkan jadwal rilis bulan Agustus untuk Legion C700, sebuah cloud handheld dengan layar 7,82 inci 120Hz dan thumbstick TMR (Tunnel Magnetoresistance). Di atas kertas, ini terlihat seperti paket spesifikasi kompetitif yang siap menekan harga perangkat keras.
C700 adalah perangkat genggam khusus cloud streaming yang dirancang terutama untuk layanan cloud gaming Tencent's START. Spesifikasi yang dibocorkan tergolong mengesankan untuk kategorinya: panel 7,82 inci 120Hz yang solid dan thumbstick TMR dengan presisi serta ketahanan lebih baik dibanding stik Hall effect yang lazim di perangkat lain. Namun semua angka ini hanya berarti jika koneksi internet pengguna stabil; layar 120Hz hanya akan menutupi input lag sejauh kualitas jaringan mengizinkan.
Di permukaan, cloud gaming Lenovo Legion C700 mungkin tampak sebagai jalan kembali ke handheld gaming terjangkau. Tetapi biaya sebenarnya tersebar di belakang: perangkat, koneksi internet cepat, dan setidaknya satu layanan berlangganan. Saat biaya ini diakumulasikan 12 bulan, narasi “lebih murah” mulai goyah. Tanpa kepastian dukungan layanan populer seperti GeForce Now atau Xbox Game Pass, konsumen di luar ekosistem START bahkan berisiko membeli perangkat mahal yang tidak punya perpustakaan game yang jelas.

Apa Arti Semua Ini untuk Konsumen dan Masa Depan Handheld
Ada pola yang menyatukan Steam Deck, AYANEO Next II, dan Lenovo Legion C700: semua adalah respons terhadap krisis komponen, tetapi dengan konsekuensi berbeda untuk konsumen. Kenaikan harga Steam Deck bisa dimaklumi karena krisis memori yang memaksa hampir seluruh produsen handheld gaming menaikkan harga. AYANEO memilih strategi menggembleng spek dan menerima bahwa produknya hanya untuk segelintir orang. Lenovo mencoba menghindari silikon mahal lewat cloud, tetapi menukar biaya hardware dengan ketergantungan pada infrastruktur dan langganan.
Bagi konsumen, pelajarannya sederhana namun pahit: era handheld gaming terjangkau dalam arti klasik tampak semakin menjauh. "Penjualan Steam Deck telah merosot hingga 82% setelah Valve menaikkan harga" adalah sinyal keras bahwa gamer tidak rela kompromi terhadap value hanya demi ikut tren. Di sisi lain, lonjakan AYANEO Next II harga hingga puluhan juta rupiah menunjukkan pasar premium akan tetap ada, tetapi sempit.
Ke depan, garis pertempuran akan jelas. Di satu ujung, perangkat seperti Steam Deck (jika harganya kembali kompetitif) akan terus menjadi opsi paling logis bagi mereka yang mengutamakan value. Di ujung lain, AYANEO dan koleganya menjual kemewahan teknis. Di tengah, cloud gaming Lenovo Legion C700 dan sejenisnya menawarkan kompromi rumit antara biaya jangka panjang dan kepercayaan pada ekosistem layanan. Konsumen harus lebih kritis: bukan sekadar bertanya “bisa main game apa”, tetapi “berapa total biaya dan siapa yang memegang kendali atas game yang saya mainkan?”.








