Kesempatan belajar yang sempat terputus
Pemberdayaan pendidikan adalah upaya memberi seseorang kesempatan, dukungan, dan jalur belajar agar ia dapat menuntaskan pendidikan serta memiliki lebih banyak pilihan untuk masa depannya. Kisah Cinta Laura dan dua asisten rumah tangganya menunjukkan arti nyata dari dukungan semacam itu. Keduanya mulai bekerja di rumah Cinta pada masa pandemi, ketika pendidikan mereka terganggu hingga harus berhenti sekolah. Cinta kemudian membantu mereka melanjutkan pendidikan sampai jenjang setara SMA. Ini bukan sekadar bantuan biaya sekolah. Yang penting, kesempatan belajar yang sempat terputus kembali dibuka, sehingga pekerjaan saat ini tidak harus menjadi satu-satunya kemungkinan bagi mereka. Dalam pembicaraan tentang akses pendidikan anak, perhatian pada mereka yang kehilangan kesempatan belajar semestinya diwujudkan dalam langkah konkret. Tindakan seorang individu memang tidak menggantikan sistem pendidikan, tetapi dapat mengubah arah hidup orang yang mendapat dukungan.
Paket C memberi jalur untuk kembali belajar
Pandemi menjadi pemicu keputusan Cinta. Penutupan sekolah dan terbatasnya fasilitas pembelajaran daring membuat banyak anak dan remaja, terutama di daerah terpencil, kesulitan mengakses pendidikan secara normal. Dalam keadaan seperti itu, menunggu semua hambatan hilang bukanlah pilihan yang memadai. Cinta lebih dulu mengikutsertakan para pekerjanya dalam les bahasa Inggris, lalu, setelah Sasla berusia 18 tahun, membiayai pendidikannya melalui Paket C setara SMA. Program ini menyediakan jalur alternatif bagi mereka yang tidak melanjutkan sekolah di jalur biasa, tanpa menghapus pentingnya ijazah dan proses belajar. Sasla kini lulus dengan nilai yang baik setelah beberapa bulan lalu menuntaskan Paket C. Pencapaian itu menegaskan bahwa pendidikan anak kurang mampu perlu dibicarakan bersama pilihan jalur yang benar-benar dapat ditempuh, bukan hanya cita-cita tentang sekolah ideal.
Ijazah bukan akhir dari pilihan
Nilai kisah ini tidak berhenti pada kelulusan Sasla. Cinta juga menilai kemampuan bahasa Inggris dapat membuka peluang lebih luas dalam kehidupan dan dunia kerja, sehingga ia memberi akses les sebagai bekal tambahan. Pendekatan itu penting: pendidikan seharusnya memperluas pilihan, bukan sekadar menghasilkan selembar ijazah. Rekan kerja Sasla masih menjalani langkah serupa dan kini berada di kelas 11 pendidikan setara SMA. Artinya, dukungan yang diberikan tidak berhenti pada satu keberhasilan, tetapi berlanjut untuk pekerja lainnya. Tentu, satu kisah tidak dapat dianggap sebagai jawaban bagi semua hambatan pendidikan. Namun, ketika individu atau komunitas membantu seseorang kembali belajar, mereka dapat mengisi kebutuhan yang belum tersentuh dalam kehidupan sehari-hari. Pemberdayaan pendidikan paling berarti saat membuka kemungkinan baru dan memberi orang kendali lebih besar atas langkah berikutnya.
Dukungan yang layak diperluas
Kisah Cinta Laura memperlihatkan bahwa akses pendidikan anak dapat diperjuangkan lewat keputusan personal yang disertai dukungan berkelanjutan: membantu biaya belajar, menyediakan les, dan mendorong penyelesaian jenjang setara SMA. Tindakan seperti ini patut dihargai, tetapi tidak semestinya membuat pendidikan bergantung hanya pada kebaikan hati seseorang. Sekolah, program kesetaraan, keluarga, pemberi kerja, dan komunitas dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung orang untuk kembali belajar. Bagi anak dan remaja yang pernah kehilangan kesempatan, jalur alternatif seperti Paket C setara SMA dapat menjadi pintu masuk untuk menyusun rencana berikutnya. Ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya siapa yang lulus, melainkan apakah setelah belajar mereka memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depan. Kesimpulannya, membantu seseorang menuntaskan pendidikan bukan tindakan kecil: itu adalah cara konkret memperluas kemungkinan hidupnya.






