Koneksi Terowongan Bundaran HI–Kota: Lebih dari Sekadar Progres Fisik
Terowongan MRT Bundaran HI adalah jalur bawah tanah yang menjadi tulang punggung perluasan MRT dari pusat kota menuju kawasan Kota, dirancang untuk menghubungkan tujuh stasiun bawah tanah sekaligus memfasilitasi integrasi dengan moda transportasi lain dan ruang komersial agar kapasitas penumpang dapat meningkat tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan pengguna sehari-hari. Terobosan mesin bor yang menembus sisi selatan stasiun Mangga Besar bukan sekadar pencapaian teknis; ini simbol bahwa sumbu utara Bundaran HI–Kota kini tersambung penuh. Dengan progres konstruksi fase 2A mencapai 62,68 persen, bahkan melampaui target 61,92 persen, publik berhak menuntut lebih dari sekadar jalur tambahan: mereka menuntut sistem yang memudahkan perpindahan, mengurangi kemacetan, dan memberi pengalaman perjalanan kota yang jauh lebih manusiawi. Tanpa visi integrasi, terowongan hanya akan menjadi infrastruktur dingin yang tidak mengubah cara orang bergerak.

Fase 2A: Ambisi Jalur Utara dan Tantangan Manajemen Kapasitas
Konstruksi fase 2A MRT tidak bisa dibaca hanya sebagai penambahan 5,8 kilometer rel dari Bundaran HI hingga Kota; ini adalah eksperimen besar dalam memindahkan arus mobilitas dari jalan raya ke bawah tanah. Tujuh stasiun—Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota—akan membentuk koridor urban yang menuntut manajemen penumpang lebih cermat. Segmen Bundaran HI–Harmoni ditargetkan beroperasi akhir 2027, disusul Harmoni–Kota pada akhir 2029, tenggat yang ambisius sekaligus mengikat. "Secara keseluruhan, pembangunan Fase 2A per 25 Juli 2026 telah mencapai 62,68 persen, di atas target 61,92 persen," ujar Rendy Primartantyo. Namun keberhasilan angka progres tak akan berarti bila stasiun ujung seperti Mangga Besar dan Glodok nantinya kewalahan mengelola lonjakan penumpang. Di sini, desain terowongan dan extended concourse harus bekerja sebagai sistem satu kesatuan, bukan proyek terpisah.
Extended Concourse MRT Bundaran HI: Jantung Integrasi TransJakarta–MRT
Extended concourse MRT di Bundaran HI adalah ruang bawah tanah seluas 4.439 meter persegi yang dibangun sekitar 18 meter di bawah permukaan, tepat di bawah halte TransJakarta Bundaran HI dan di atas rel MRT. Alih-alih hanya menjadi lorong perpindahan, ia disiapkan sebagai pusat integrasi TransJakarta–MRT dan akses langsung ke gedung sekitar seperti Plaza Indonesia, Grand Hyatt, Pullman, dan Wisma Nusantara. Strateginya jelas: mengubah Bundaran HI menjadi simpul perpindahan antarmoda yang mulus, sekaligus pintu masuk ke kawasan bisnis tanpa harus naik ke permukaan yang padat. Proyek ini ditargetkan rampung Mei 2027 dan diresmikan saat kota merayakan 5 abad pada Juni 2027, tenggat yang secara politis menuntut hasil nyata. Jika berhasil, extended concourse MRT akan menjadi contoh kuat bagaimana integrasi TransJakarta MRT dan koneksi ke bangunan komersial dapat menambah kenyamanan tanpa memperpanjang waktu tempuh.
Lorong Bawah Tanah dan Area Multifungsi: Mobilitas, Keamanan, dan Ritel
Di jantung proyek ini, lorong bawah tanah atau extended concourse bukan sekadar akses vertikal antara platform dan permukaan. Ruang 1.439 meter persegi yang menghubungkan langsung stasiun MRT Bundaran HI dengan halte TransJakarta Bundaran HI diposisikan sebagai area layanan publik dan ritel untuk menampung aktivitas penumpang sebelum dan sesudah bepergian. Menurut Ferdiansyah Roestam, extended concourse dirancang untuk tiga tujuan sekaligus: memenuhi faktor keselamatan saat darurat, mencegah bottleneck penumpang, dan menjadi area multifungsi yang mendukung mobilitas orang. Di dalamnya juga akan disiapkan interkoneksi atau panel knockdown ke basement 1 Plaza Indonesia dan basement yang dikembangkan Wisma Nusantara, memperluas jejak konektivitas bawah tanah. Jika ruang ini dikelola serius dengan kurasi ritel yang relevan bagi komuter, maka lorong bawah tanah akan bertransformasi menjadi ekosistem komersial yang hidup, bukan hanya koridor transit yang anonim.
Tambahan 6.000 Penumpang per Hari: Ujian Nyata Desain Integrasi
Inti dari seluruh strategi ini adalah angka: bundaran HI diproyeksikan menerima tambahan sekitar 6.000 penumpang per hari begitu rute diperpanjang ke Monas hingga Kota Tua dan extended concourse beroperasi penuh. Saat ini, stasiun tersebut mengelola sekitar 11.000 pengguna per hari; dengan penambahan itu, beban naik menjadi 17.000 orang. "Extended concourse dibangun sebagai ruang untuk mendukung peningkatan ridership dan visitor", sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa kapasitas fisik dan kualitas layanan harus naik bersamaan. Bila desain concourse mampu menyebarkan arus penumpang, menghubungkan moda tanpa tangga berlapis, dan menawarkan layanan ritel yang masuk akal, tambahan 6.000 orang tidak akan terasa sebagai beban. Namun bila pengelolaan ruang abai, integrasi TransJakarta MRT yang digadang-gadang bisa berubah menjadi titik kepadatan baru. Pada akhirnya, ujian kesuksesan bukan di angka progres konstruksi, melainkan di pengalaman harian komuter.






