Kepergian Aries Budiman dan Kehilangan Kolektif Dunia Rock
Aries Budiman, atau Aries drummer Garasi, adalah sosok penggebuk drum yang bukan hanya mengisi ritme sebuah band, melainkan ikut membentuk wajah rock alternatif lewat permainan yang padu, karakter kuat, dan dedikasi panjang terhadap musik yang membuat namanya lekat dalam ingatan generasi 2000-an sebagai bagian dari identitas suara sebuah era.
Aries Budiman meninggal dunia pada Jumat malam, 18 September 2026, dalam usia 44 tahun. Ini bukan sekadar kabar duka tentang musisi Indonesia meninggal, tetapi penanda runtuhnya salah satu pilar penting memori kolektif penikmat rock alternatif. Aries dimakamkan di TPU Depok, Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi pada Sabtu pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab meninggalnya, dan diamnya pihak keluarga menegaskan satu hal: publik berhak berduka, tetapi juga wajib menghormati ruang privat mereka. Di tengah minim informasi, yang paling jujur untuk dibicarakan justru adalah warisan musik dan jejak kreatifnya.

Garasi dan Peran Aries dalam Mengukir Sejarah Rock
Sejarah Garasi band tak bisa dipisahkan dari nama Aries Budiman. Bersama Aiu Ratna dan Fedi Nuril, ia ikut merintis Garasi sejak band itu dibentuk pada 2005, menawarkan warna baru di ranah rock alternatif yang saat itu jenuh oleh pola yang sama. Sebagai salah satu pendiri, Aries punya andil besar membesarkan nama Garasi, bukan dari depan panggung sebagai frontman, melainkan dari belakang set drum—posisi yang sering dipandang pelengkap, padahal sesungguhnya fondasi.
Tonggak penting Garasi hadir pada 2006 lewat film "Garasi" garapan Miles Films, yang membuat musik mereka meledak dan dikenal luas. Formasi Aries, Aiu, dan Fedi menjadi wajah sekaligus suara generasi muda yang mencari pelampiasan dan pelarian lewat distorsi dan lirik gelisah. Ketukan drum Aries menjadi nyawa utama yang menyatukan rock dengan elemen alternatif dan memberi ciri khas sulit ditiru band lain. Di titik inilah, label "drummer rock Indonesia" terasa terlalu sempit; Aries adalah arsitek ritme yang membantu menggeser standar bagaimana band rock lokal seharusnya terdengar.
Ketukan yang Menjadi Identitas: Warisan Musik Aries Budiman
Kehilangan Aries drummer Garasi bukan sekadar berpulangnya seorang pemusik, tetapi hilangnya bagian dari memori kolektif generasi yang tumbuh bersama rock alternatif. Di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah, karya-karya yang ia bangun bersama Garasi menemani hari-hari anak muda: dari kamar kos, studio kecil, hingga panggung pensi. Karya dan pukulan drumnya akan terus hidup di telinga para pendengar, sebuah bentuk keabadian yang hanya bisa dimiliki musisi yang karyanya sungguh menyentuh keseharian banyak orang.
Dalam konteks lebih luas, warisan Aries adalah kontribusi nyata pada pembentukan identitas rock selama puluhan tahun: ia menunjukkan bahwa drummer bukan figuran dalam cerita band, melainkan penentu karakter. Garasi band sejarah membuktikan bahwa kombinasi komposisi kuat, medium film, dan permainan ritmis yang khas bisa menciptakan loncatan besar bagi sebuah band. Tanpa ketukan Aries, sulit membayangkan Garasi punya dampak sekuat itu pada era 2000-an. Warisan ini mestinya dibaca sebagai ajakan untuk menilai ulang peran para drummer rock Indonesia lain yang sering luput dari sorotan, padahal merekalah penopang tekstur suara sebuah era.
Duka Rekan Seperjuangan dan Respons Komunitas Musik
Respon emosional para rekan seband menegaskan betapa sentralnya sosok Aries, baik secara musikal maupun personal. Vokalis Garasi, Aiu Ratna, menyampaikan kabar duka dan doa untuk Aries melalui Instagram Story-nya, menuliskan "Innalillahi wa innailaihi rojiun. Rest in peace @aries_garasi". Gitaris Fedi Nuril melakukan hal serupa, mengaku kehabisan kata-kata saat mendengar kabar kepergian sahabat lamanya dan hanya mampu menulis, “Belum tahu harus menulis apa”. Kalimat pendek itu, di ruang publik yang biasanya penuh basa-basi, terasa jauh lebih jujur daripada elegi panjang.
Di luar lingkar inti Garasi, komunitas drummer di Sukabumi menggambarkan Aries sebagai sosok ceria yang membawa banyak tawa dan cerita indah, sekaligus drummer berdedikasi tinggi. Ucapan terima kasih mereka menegaskan bahwa dampak Aries tak berhenti di katalog lagu Garasi; ia juga membangun ekosistem lokal, memotivasi dan menyemangati rekan sesama penggebuk drum. Di sini tampak jelas: ketika seorang musisi Indonesia meninggal pada puncak kedewasaan kreatif, yang pergi bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga jejaring inspirasi yang ia ciptakan di sekelilingnya.
Menjaga Nyala: Cara Paling Jujur Menghormati Aries
Kepergian Aries Budiman menegaskan satu pelajaran penting: musik rock tidak dibangun oleh ikon tunggal di depan panggung, melainkan oleh kerja kolektif yang salah satu porosnya adalah drummer. Dalam kasus Garasi, poros itu bernama Aries. Ia ikut mendirikan band pada 2005, membawa Garasi melejit lewat film pada 2006, dan menjaga karakter suara mereka dengan ketukan yang khas. Ketika sosok semacam ini pergi di usia 44 tahun, rasa kehilangan yang muncul bukan nostalgia kosong, melainkan kesadaran bahwa sebuah era telah menutup babnya.
Cara paling jujur menghormati Aries bukan berhenti pada unggahan belasungkawa, melainkan menjaga lagu-lagu Garasi tetap hidup: diputar, dinyanyikan, dipelajari. Bagi drummer muda, mempelajari pola pukulan Aries adalah upaya memahami bagaimana ritme bisa menjadi identitas, bukan sekadar latar. Bagi penikmat musik, mengingatnya berarti mengakui bahwa di balik tiap riff gitar dan vokal kuat, ada ketukan drum yang menjahit semuanya. Aries mungkin telah dimakamkan di sebuah TPU kecil di Sukabumi, tapi selama ketukannya masih terdengar di headphone dan panggung-panggung kecil, ia belum benar-benar pergi.






