Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Koordinasi Kampus dan Rumah Sakit Pulihkan Mental Korban Gempa

Koordinasi Kampus dan Rumah Sakit Pulihkan Mental Korban Gempa
Minat|Kesehatan Mental

Trauma Healing Bencana: Saat Kampus dan Rumah Sakit Jadi Garda Depan

Trauma healing bencana adalah rangkaian intervensi psikologis dan dukungan psikososial yang terstruktur untuk membantu korban mengolah rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian, sehingga mereka perlahan mampu memulihkan fungsi sosial, emosional, dan pendidikan serta kembali membangun kehidupan pasca-gempa dengan daya tahan mental yang lebih kuat. Dalam konteks Manggarai dan sekitarnya, pendekatan ini tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap; ia kini menjadi inti dari respons darurat. Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur dan status tanggap darurat diperpanjang, universitas dan rumah sakit memilih bergerak bersama daripada bekerja sendiri-sendiri. Koordinasi institusi kesehatan dan pendidikan inilah yang mulai melahirkan model pemulihan mental pasca-gempa yang lebih sistematis, dekat dengan warga, dan berorientasi jangka panjang.

Unesa: Trauma Healing Terintegrasi dengan Sekolah Darurat

Langkah Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa trauma healing bencana tidak bisa dipisahkan dari ekosistem pendidikan di wilayah terdampak. Unesa Peduli Bencana mengirim tim khusus ke Kabupaten Manggarai untuk berada di lokasi gempa selama 3–7 September, dengan empat fokus utama: layanan kesehatan, dukungan psikososial korban, sekolah darurat, dan bantuan logistik kemanusiaan. Tim ini bukan tim serba bisa yang turun tanpa rencana; mereka adalah gabungan Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, unit mitigasi krisis, Satgas kekerasan kampus, dan LPPM yang berkoordinasi dengan perguruan tinggi lokal seperti Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Santo Paulus. Pilihan menggandeng kampus lokal adalah keputusan strategis: trauma tidak hanya soal kondisi mental, tetapi juga soal budaya dan bahasa. Dengan melatih guru di sekolah darurat agar mampu melakukan dukungan psikososial korban, Unesa menegaskan bahwa pemulihan mental pasca-gempa harus menyentuh ruang kelas, bukan hanya ruang konsultasi.

Koordinasi Kampus dan Rumah Sakit Pulihkan Mental Korban Gempa

UM: Menembus Jalur Longsor Demi Dukungan Psikososial Korban

Universitas Negeri Malang memilih jalur sulit, dan itu bukan metafora. Tim Relawan UM menempuh perjalanan panjang menuju Manggarai Timur, tiba di Pelabuhan Ende lalu melanjutkan perjalanan sekitar 10 jam ke Borong melalui ruas jalan yang tertutup material longsor. Upaya ini menunjukkan satu poin penting: trauma healing bencana menuntut komitmen fisik, bukan hanya modul pelatihan. Setibanya di Ende, relawan UM langsung berkoordinasi dengan tim Universitas Nusa Cendana untuk menyamakan langkah dan membagi tugas, memastikan dukungan medis dan psikososial yang mereka bawa selaras dengan kebutuhan warga di lapangan. Posko Kolaborasi UM–Undana di dekat Puskesmas Watunggong bukan sekadar basecamp, melainkan contoh kecil koordinasi institusi kesehatan dan pendidikan di tingkat lokal. Di sana, pendampingan psikososial digarap sejalan dengan layanan kesehatan, menghadirkan ruang aman bagi warga untuk memproses ketakutan, kehilangan, dan tekanan pascabencana.

Koordinasi Kampus dan Rumah Sakit Pulihkan Mental Korban Gempa

RSKKA: Dari Luka Fisik ke Pemulihan Mental Jangka Panjang

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga menambahkan dimensi baru dalam respons gempa: rumah sakit tidak berhenti pada operasi tulang dan penjahitan luka. Ketika status tanggap darurat Manggarai Timur diperpanjang, RSKKA memutuskan tetap berlabuh di Dampek dan melanjutkan pelayanan hingga masa tanggap darurat berakhir pada 12 September. Menurut Direktur RSKKA, keterbatasan dokter spesialis diatasi dengan menggandeng organisasi profesi dan rumah sakit lain, melahirkan Rumah Sakit Lapangan Kolaborasi yang fokus pada trauma fisik. Namun mereka segera menyadari bahwa pemulihan pasca bencana tidak selesai saat luka fisik tertangani; aspek trauma healing masih kurang tersentuh. "Seluruh pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga sepakat melanjutkan pelayanan dengan mengirimkan psikiater atau psikolog dan dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat Dampek," kata Dr Agus Harianto. Keputusan ini menggeser orientasi layanan dari sekadar menyelamatkan nyawa ke merawat masa depan mental warga.

Koordinasi Kampus dan Rumah Sakit Pulihkan Mental Korban Gempa

Menuju Model Terstruktur Pemulihan Mental Pasca-Gempa

Jika ditarik garis, pola mulai tampak: universitas mengirim tim lintas disiplin, rumah sakit bergerak hingga ke teluk terpencil, dan semuanya memilih berkolaborasi. Unesa merajut dukungan psikososial korban dengan sekolah darurat dan pendampingan guru secara daring setelah tim meninggalkan lokasi. UM menyatukan relawan dengan Undana melalui HEOC dan Posko Kolaborasi agar kegiatan kemanusiaan terintegrasi dengan sistem penanganan bencana daerah. RSKKA membangun rumah sakit lapangan dengan rumah sakit lain, lalu mengembangkan layanan ke pemulihan psikologis jangka panjang. Koordinasi institusi kesehatan dan pendidikan ini sedang membentuk model dukungan mental terstruktur: respons dimulai dari tanggap darurat, berlanjut ke fase pemulihan, dan menopang keberlanjutan pendidikan. Kesimpulannya tegas: tanpa kolaborasi lintas institusi, trauma healing bencana akan selalu tambal sulam; dengan kolaborasi, ia punya peluang menjadi sistem yang konsisten, adaptif, dan berakar di komunitas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!