Susu Gratis Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Ujian Pola Asuh
Program susu posyandu untuk balita stunting adalah intervensi gizi terstruktur di desa pilot project, di mana balita dengan gangguan tumbuh kembang menerima bantuan susu formula dan makanan bergizi yang dipadukan dengan pemantauan kesehatan serta edukasi pola asuh kepada orang tua, dengan tujuan menurunkan angka stunting secara nyata lewat perubahan perilaku keluarga dan bukan hanya lewat distribusi bantuan fisik. Dalam beberapa hari, Tim Pembina Posyandu di tingkat provinsi dan kabupaten turun langsung ke desa-desa untuk menyalurkan balita stunting bantuan susu sekaligus mengirim pesan kuat: nutrisi gizi balita tidak akan membaik bila pola asuh di rumah tetap diabaikan. Fokusnya bukan hanya memberi dus susu, tetapi menguji sejauh mana keluarga mau mengubah kebiasaan makan, kebersihan, dan kedisiplinan ke posyandu. Program ini pada dasarnya menantang orang tua: apakah bantuan susu akan menjadi titik balik, atau sekadar menambah persediaan di dapur?

Data Lapangan: Lebih dari 45 Balita, Berton-ton Tanggung Jawab
Di Desa Langge, Kecamatan Tapa, 15 balita tengkes menerima bantuan susu yang diserahkan langsung oleh Ketua TP Posyandu Provinsi Nani Ismail Mokodongan bersama Ketua TP Posyandu Bone Bolango, Ruwaidah Ismet Mile. Setiap balita mendapatkan tujuh hingga delapan dus susu 400 gram, ditambah 100 paket makanan bergizi untuk balita yang hadir. Di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, ada 30 anak tengkes sebagai sasaran pilot project, masing-masing menerima delapan dus susu 450 gram sebagai bagian intervensi pemenuhan gizi. Secara angka, program susu posyandu ini menyentuh lebih dari 45 balita di dua desa pilot project, menunjukkan skala upaya yang tidak kecil untuk wilayah terpencil. Namun angka dus dan paket makanan bergizi bukan tolok ukur utama keberhasilan pencegahan stunting anak. Tanpa perubahan mendasar di rumah, susu formula berisiko menjadi intervensi sesaat yang tidak meninggalkan bekas pada grafik pertumbuhan anak.

Kenapa Pola Asuh Menentukan Nasib Program Susu Posyandu
Ketua TP Posyandu Provinsi menegaskan bahwa pola asuh stunting bukan sekadar soal ketersediaan makanan, tetapi tentang bagaimana orang tua mengawal setiap teguk susu dan suapan makanan bergizi di rumah. Menurut Nani, bantuan susu harus diikuti pengawasan dan perhatian orang tua, termasuk memastikan dosis sesuai anjuran, menjaga kebersihan, dan mengurangi kebiasaan yang merugikan kesehatan anak. Pernyataan ini penting karena selama ini banyak program balita stunting bantuan berhenti pada foto serah terima dan laporan kegiatan. Di keluarga, susu bisa saja dibagi ke saudara lain, diberikan tidak teratur, atau malah disimpan karena orang tua takut anak diare. Di sinilah program susu posyandu diuji: apakah edukasi nutrisi keluarga mampu mengubah cara pandang orang tua tentang gizi, kebersihan, dan pentingnya rutin datang ke posyandu untuk memantau tumbuh kembang anak. Tanpa pergeseran pola asuh, susu formula hanya akan menambal, bukan menyembuhkan.
Intervensi Gizi Terpadu: Susu, Makanan Bergizi, dan Edukasi
Program susu posyandu di desa-desa pilot project jelas bukan distribusi karitatif biasa. Di Langge, bantuan susu dikombinasikan dengan paket makanan bergizi dan tas sekolah, bagian dari rangkaian sosialisasi, monitoring, roadshow, dan pembinaan oleh TP Posyandu bersama pengampu enam Standar Pelayanan Minimal. Di Tabumela, intervensi gizi melalui susu formula dilakukan dengan pesan eksplisit agar orang tua menyertai dengan perhatian dan pengawasan di rumah. "Masing-masing anak mendapatkan bantuan susu sebanyak delapan dus dengan berat 450 gram per dus sebagai bagian dari intervensi pemenuhan gizi" adalah angka yang menunjukkan keseriusan suplai fisik, tetapi substansi program ada pada edukasi nutrisi keluarga. Posyandu diminta lebih aktif memantau ibu hamil sebagai upaya pencegahan stunting anak sejak dini. Artinya, posyandu sedang digeser dari sekadar tempat timbang badan menjadi pusat pendidikan gizi dan pola asuh, dan itu langkah yang patut diapresiasi.
Arah ke Depan: Evaluasi yang Jujur terhadap Dampak di Rumah
Program susu posyandu ini sudah berada di jalur tepat karena menyertakan rencana evaluasi jelas. Di tingkat desa, TP Posyandu melakukan evaluasi untuk melihat perkembangan program sekaligus memastikan berbagai kebutuhan dan persoalan ditindaklanjuti. Di Tabumela, evaluasi juga akan memantau perkembangan anak dan menjadi bahan penentuan langkah penanganan tengkes berikutnya. Namun evaluasi harus berani menilai dua hal: pertama, apakah susu dan paket makanan bergizi betul dikonsumsi anak sesuai anjuran; kedua, apakah orang tua berubah dalam pola asuh, kedisiplinan ke posyandu, dan cara menjaga kebersihan anak. Jika hasilnya menunjukkan bahwa intervensi gizi belum menurunkan stunting, pemerintah tidak boleh berhenti di angka dus, tetapi memperbaiki pendekatan edukasi dan pendampingan keluarga. Kesimpulannya, masa depan pencegahan stunting anak di desa terpencil tidak ditentukan oleh banyaknya susu yang dibagikan, melainkan oleh seberapa kuat posyandu mampu mengubah kebiasaan orang tua di rumah.






