Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Meditasi Bisa Memicu Krisis Mental: Sisi Gelap yang Jarang Dibahas

Meditasi Bisa Memicu Krisis Mental: Sisi Gelap yang Jarang Dibahas
Minat|Kesehatan Mental

Meditasi dan Mindfulness: Bukan Sekadar Cara Cepat Menjadi Tenang

Meditasi dan mindfulness adalah praktik yang melatih perhatian penuh pada pikiran, emosi, tubuh, dan lingkungan saat ini, dengan tujuan meningkatkan kesadaran diri, mengurangi stres, serta mendukung kesehatan mental dan fisik, namun keduanya tidak otomatis menghasilkan ketenangan bagi setiap orang dan dapat memunculkan efek yang beragam tergantung kondisi individu.

Selama ini, meditasi dipasarkan seolah-olah solusi universal: duduk diam, atur napas, lalu semua masalah akan mereda. Narasi ini menenangkan, tetapi terlalu manis untuk dipercaya. Penelitian menunjukkan, pada sebagian orang, meditasi dampak negatifnya nyata: kecemasan meningkat, rasa takut menguat, tidur terganggu, bahkan perubahan psikologis berkepanjangan. Ketika mindfulness dijual sebagai obat serba bisa, ekspektasi publik menjadi tidak realistis. Alih-alih menolong, ia bisa memperburuk tekanan yang sudah ada. Praktik yang kuat seharusnya tidak diromantisasi, melainkan dipahami sebagai alat yang bekerja berbeda pada setiap orang, dengan kemungkinan manfaat dan efek samping meditasi yang perlu diakui sejak awal.

Data Penelitian: Satu dari Sepuluh Mengalami Dampak Negatif Serius

Fakta paling mengganggu adalah: meditasi krisis mental bukan cerita tunggal, melainkan pola yang muncul berulang. Mengutip laporan pada pertengahan September, sekitar satu dari 10 orang yang melakukan meditasi dilaporkan dapat mengalami dampak negatif yang bertahan lebih dari 30 hari atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Angka ini terlalu besar untuk diabaikan, apalagi ketika praktik ini dipromosikan sebagai rutin aman bagi semua orang.

Penelitian Willoughby Britton dan tim yang dilakukan selama 10 tahun, dengan mewawancarai lebih dari 100 praktisi meditasi Buddha dan dipublikasikan pada 2017, menemukan lebih dari 50 gejala yang berkaitan dengan pengalaman negatif selama meditasi. Gejala itu tidak remeh. Ada hyperarousal: kecemasan, ketakutan, insomnia, gerakan tubuh tak disengaja, luapan emosi; dan hypoarousal: penurunan emosi, motivasi, dan rasa terhadap diri sendiri. Bahkan, muncul laporan gejala psikosis yang rata-rata berlangsung antara satu hingga tiga tahun. Di saat yang sama, proporsi masyarakat yang bermeditasi meningkat dari 10 persen menjadi 20 persen dalam dua dekade terakhir. Artinya, semakin banyak orang terekspos pada mindfulness risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.

Dari Ketenangan ke Krisis: Ketika Meditasi Memicu Luka Lama

Di balik kampanye bahwa meditasi selalu menenangkan, ada kisah-kisah yang mengungkap sisi rapuh manusia ketika berhadapan langsung dengan batinnya sendiri. Beberapa orang yang mencoba teknik pernapasan atau retret intensif melaporkan pengalaman traumatis akut dan sensasi seolah diri menghilang, disertai rasa takut yang kuat dan berkepanjangan. Kondisi tidak teratur seperti ini dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun, mengubah sesuatu yang awalnya diniatkan sebagai praktik kesehatan menjadi pemicu krisis mental.

Ada pula kasus meditasi krisis mental yang berujung pada diagnosis psikotik dan mania, hingga perawatan berulang di rumah sakit selama puluhan tahun. Ini bukan sekadar "fase sulit" dalam meditasi, melainkan efek samping meditasi yang berat. Laporan lain menunjukkan, pengalaman negatif terkait meditasi bisa muncul bahkan setelah paparan singkat maupun praktik intensif, tidak hanya pada mereka yang bermeditasi jangka panjang. Dalam konteks ini, wajar jika sebagian orang merasa disalahkan ketika mengalami kecemasan atau gangguan tidur setelah bermeditasi, karena narasi dominan masih menganggap meditasi hanya punya sisi cerah.

Manfaat Mindfulness Tetap Nyata, tetapi Bukan Obat Segala Masalah

Mengakui meditasi dampak negatifnya bukan berarti menolak manfaatnya. Mindfulness tetap memiliki manfaat yang didukung penelitian: membantu mengurangi gejala stres, termasuk kecemasan dan depresi, serta berpotensi mendukung kualitas tidur pada orang tanpa kondisi mental tertentu. Meditasi pun digunakan untuk membantu menangani kecemasan, depresi, beberapa persoalan penggunaan zat, dan mengelola rasa sakit pada kondisi seperti radang sendi atau pemulihan kanker, antara lain dengan mengalihkan fokus dari rasa nyeri dan melatih pengaturan napas.

Namun, manfaat ini sering dibesar-besarkan hingga berubah menjadi janji kosong. Mindfulness bukan berarti memaksa pikiran menjadi kosong atau harus selalu merasa tenang. Praktik ini lebih terkait kemampuan menyadari apa yang sedang terjadi tanpa langsung bereaksi, sehingga patut dipandang sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung kesehatan, bukan solusi untuk seluruh persoalan. Jika meditasi justru memperburuk kecemasan atau membuat pikiran semakin terganggu, kondisi tersebut tidak perlu dipandang sebagai kegagalan dalam mempraktikkan mindfulness. Di sinilah pentingnya membedakan antara manfaat meditasi yang terbukti dan ekspektasi tidak realistis yang sering muncul dari promosi berlebihan.

Risiko Nyata di Era Aplikasi Meditasi, dan Apa yang Perlu Dilakukan

Kini, meditasi dan mindfulness risiko kesehatannya meluas seiring akses yang semakin mudah melalui aplikasi dan video di media sosial. Praktik yang dulu banyak dilakukan dalam konteks komunitas atau tradisi tertentu kini dikonsumsi secara individual, instan, dan sering tanpa informasi memadai. Padahal, sebagian laporan menunjukkan teknik relaksasi dapat memperburuk gejala pada orang dengan kondisi psikologis tertentu, termasuk riwayat trauma. ReachLink juga mencatat bahwa aktivitas merenung berlebihan bisa membuat seseorang semakin terjebak dalam lingkaran kecemasan. Tanpa penjelasan yang jujur mengenai kemungkinan efek samping meditasi, pengguna awam dibuat seolah bertanggung jawab penuh atas krisis yang mungkin muncul.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena masih minimnya penerapan persetujuan berdasarkan informasi yang memadai dalam pembahasan praktik meditasi. Informasi mengenai kemungkinan risiko dinilai perlu disampaikan kepada orang-orang yang mengikuti praktik meditasi, sehingga praktik ini dipandang lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi manfaat. Jika meditasi memicu atau memperburuk keluhan, konsultasi dengan tenaga profesional patut dipertimbangkan. Ke depan, diskursus publik tentang meditasi perlu beranjak dari slogan "aman untuk semua" menuju pemahaman yang lebih jujur: meditasi adalah alat kuat yang bisa membantu, tetapi juga mampu memicu krisis mental pada sebagian orang. Mengakui dua sisi ini adalah langkah pertama untuk membuat praktik tersebut lebih aman dan realistis bagi publik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!