Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

DHL dan JBL Beralih ke Kendaraan Listrik, Siapkah Logistik?

DHL dan JBL Beralih ke Kendaraan Listrik, Siapkah Logistik?
Minat|Asia Tenggara

Elektrifikasi logistik mulai bergerak

Kendaraan listrik logistik adalah kendaraan bertenaga baterai yang digunakan untuk mengangkut paket atau barang dalam kegiatan operasional, dengan tujuan mengurangi emisi tanpa mengabaikan ketepatan dan keandalan pengiriman. Penerapannya kini terlihat dalam dua skala berbeda: DHL Express memperluas armada kendaraan listrik untuk jaringan pengiriman, sementara JBL mulai mengoperasikan truk listrik untuk distribusi buah segar di Makassar. Kedua langkah ini penting, tetapi belum membuktikan bahwa seluruh armada diesel siap diganti. DHL Express kini mengoperasikan 58 kendaraan listrik, setelah menambah 30 unit Wuling Mitra EV Blind Van Long Range dari armada sebelumnya yang berjumlah 28 unit. Kendaraan tersebut menjadi bagian dari total 261 kendaraan operasional perusahaan. Bagi pelanggan, manfaat yang dijanjikan berupa pengiriman lebih efisien dan emisi operasional yang lebih rendah, bukan perubahan pada fungsi dasar layanan.

Penambahan armada DHL menunjukkan bahwa kendaraan listrik sudah bisa menjalankan tugas rutin dalam jaringan yang terencana. Dua puluh unit tambahan ditempatkan di Jakarta, delapan di Surabaya, serta masing-masing satu di Bandung dan Semarang. Sebaran ini memperluas operasi rendah emisi ke sejumlah pusat logistik, meski belum menjangkau seluruh kebutuhan angkutan barang. Dorongan bisnisnya juga jelas: perusahaan menghadapi permintaan pelanggan yang meningkat terhadap layanan andal sekaligus ramah lingkungan, sementara sebagian pelaku usaha mulai memasukkan program lingkungan ke strategi daya saing jangka panjang. Karena itu, peralihan ini bukan sekadar soal citra. Namun, keberhasilan kendaraan listrik untuk rute yang terukur tidak otomatis berarti truk berat bisa beroperasi dengan mudah di jaringan jalan yang lebih luas.

Truk listrik membawa buah, bukan sekadar janji

Di Makassar, JBL mulai mengoperasikan JAC UrbanMover N90EV untuk mendukung distribusi buah segar milik PT Sewu Segar Nusantara, pemasar Sunpride. Pemberangkatan perdana itu menandai penggunaan kendaraan listrik dalam distribusi produk segar oleh perusahaan. Truk tersebut direncanakan melayani Makassar dan sekitarnya, sehingga uji nyatanya bukan hanya pada kemampuan kendaraan bergerak, tetapi juga pada ketepatan jadwal dan kelancaran rantai pasok. Ini contoh yang lebih menantang dibandingkan van pengiriman: muatan harus sampai sesuai kebutuhan, dan produk segar tidak memberi banyak ruang bagi keterlambatan. Jika truk dapat bekerja konsisten pada rute tersebut, perusahaan memperoleh bukti bahwa elektrifikasi bisa menyentuh distribusi barang, bukan hanya kendaraan pengantar paket.

Peluangnya nyata: kendaraan listrik dapat membantu menekan emisi transportasi, sementara operasi yang sesuai dengan karakter rute berpotensi meningkatkan efisiensi. Namun, klaim efisiensi tidak boleh dianggap otomatis berlaku untuk semua jalur atau jenis muatan. Kinerja akan bergantung pada jarak tempuh, pola perjalanan, kapasitas baterai, waktu pengisian, dan ketersediaan titik daya. JBL menyatakan penggunaan truk listrik diharapkan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi emisi dalam distribusi. Kata kuncinya adalah diharapkan: operasi perdana merupakan langkah awal, bukan bukti bahwa armada listrik sudah bisa menggantikan seluruh truk diesel. Nilai inisiatif ini terletak pada pengujian teknologi dalam pekerjaan nyata, dengan hasil operasional yang dapat menjadi dasar perluasan berikutnya.

DHL dan JBL Beralih ke Kendaraan Listrik, Siapkah Logistik?

SPKLU belum dirancang untuk ritme truk

Hambatan terbesar bukan sekadar jumlah kendaraan yang tersedia, melainkan infrastruktur yang belum mengikuti kebutuhan armada niaga. Ketua APTRINDO Jawa Tengah dan DIY, Bambang Widjanarko, menilai SPKLU yang sudah menghadapi antrean kendaraan pribadi belum memadai untuk mendukung penggunaan truk listrik secara luas. Ia juga menunjuk kenaikan penggunaan mobil listrik setelah harga bahan bakar naik sebagai salah satu tekanan pada fasilitas pengisian yang pertumbuhannya belum sebanding. Truk membutuhkan lahan lebih luas dan waktu pengisian yang dapat lebih lama, bergantung pada kapasitas baterai serta daya pengisiannya. Karena itu, SPKLU umum untuk mobil penumpang tidak serta-merta cocok untuk operasional truk. Kendaraan yang harus mengangkut barang sesuai jadwal tidak bisa kehilangan waktu terlalu lama karena antrean atau lokasi pengisian yang tidak sesuai.

Kebutuhan SPKLU truk harus diperlakukan sebagai bagian dari sistem logistik, bukan fasilitas tambahan yang dibangun belakangan. Pengusaha truk meminta fasilitas khusus tersedia di rest area jalan tol maupun jalur arteri, dengan lokasi yang memungkinkan kendaraan besar masuk dan mengisi daya tanpa mengganggu pengguna lain. Pemerintah perlu ikut mendorong pembangunan ini, sementara operator logistik harus mencocokkan jarak tempuh dan waktu berhenti dengan jadwal pengiriman. Tanpa perencanaan tersebut, truk listrik berisiko menambah ketidakpastian operasional alih-alih mengurangi emisi. Infrastruktur yang tepat juga akan membuat pengalaman armada perintis seperti DHL dan JBL lebih mudah diperluas ke rute serta perusahaan lain.

DHL dan JBL Beralih ke Kendaraan Listrik, Siapkah Logistik?

Peralihan perlu mengikuti kesiapan operasional

Penerapan kendaraan listrik paling masuk akal dimulai dari rute yang bisa direncanakan, kebutuhan muatan yang jelas, dan akses pengisian yang dapat dipastikan. DHL telah menunjukkan perluasan armada van di beberapa kota, sedangkan JBL menguji truk listrik untuk mengangkut buah segar di Makassar. Keduanya memperlihatkan peluang mengurangi emisi dan menjaga efisiensi, tetapi perbedaan jenis kendaraan serta pola distribusi membuat hasilnya tidak bisa disamaratakan. Perusahaan perlu menghitung jarak tempuh, waktu pengisian, dan dampaknya terhadap jadwal sebelum menambah unit. Pada tingkat grup, DHL menargetkan emisi nol bersih pada 2050, dengan sasaran lebih dari 66 persen armada listrik pada 2030. Target itu memberi arah, tetapi pencapaiannya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kecocokan kendaraan dengan pekerjaan.

Peralihan dari diesel tidak akan ditentukan oleh banyaknya kendaraan listrik yang dibeli saja. Tanpa tempat pengisian yang memadai, luas, dan berada di jalur yang tepat, truk listrik sulit memenuhi ritme pengiriman barang. Sebaliknya, bila pemerintah dan pelaku usaha membangun SPKLU khusus truk serta memilih rute dengan cermat, kendaraan listrik dapat menjadi bagian praktis dari operasi logistik, bukan sekadar proyek percontohan. DHL dan JBL telah memberi sinyal bahwa perubahan bisa dimulai sekarang; tantangan berikutnya adalah memastikan jaringan pendukung tumbuh secepat kebutuhan armada. Sampai itu terjadi, elektrifikasi layak dipercepat secara bertahap, tetapi belum pantas dianggap siap menggantikan diesel secara menyeluruh.

DHL dan JBL Beralih ke Kendaraan Listrik, Siapkah Logistik?

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!