Dua warna kuat dalam persaingan soundtrack
Kategori Original Soundtrack Terbaik AMI Awards mengapresiasi lagu yang dibuat atau digunakan untuk mendukung karya layar, sekaligus menilai bagaimana musik membangun emosi dan karakter cerita. Pada edisi 2026, persaingannya menarik karena menghadapkan nostalgia romantis Ariel NOAH dengan balada lintas generasi Iwan Fals dan Isyana Sarasvati.
“Dulu Kita Masih Remaja”, soundtrack film “Dilan ITB 1997”, mendapat kekuatan dari pembawaan Ariel yang kharismatik dan nuansa nostalgia. Bagi pendengar yang punya ikatan emosional dengan Bandung, lagu ini juga membawa resonansi personal; versi The Panasdalam Bank, sebaliknya, dinilai memiliki kesan polos dan teatrikal khas kota itu.
Di sisi lain, “Bunga Terakhir” mempertemukan suara Iwan Fals yang berkarakter balada dengan jangkauan vokal Isyana yang kuat, mengangkat tema kehilangan untuk film “Panji Tengkorak”. Keduanya layak disebut kandidat kuat soundtrack terbaik AMI, meski daya tarik mereka bertumpu pada hal berbeda: Ariel pada kedekatan emosional dan jangkauan cerita, Iwan-Isyana pada kontras suara yang terasa tak biasa.
Nomine lain menawarkan karakter berbeda
Persaingan soundtrack tidak berhenti pada dua kandidat tersebut. “Rangga Cinta”, yang dibawakan Eva Celia dan Bilal Indrajaya untuk film “Rangga dan Cinta”, meramu suara modern Eva dengan penyampaian puitis Bilal. Duet itu memberi bayangan musikal bagi tokoh Cinta dan Rangga, sekaligus mencoba menghidupkan kembali semesta “Ada Apa dengan Cinta?” dengan pendekatan masa kini.
Ada pula “Sikilku Iso Muni” atau “Kakiku Bisa Bunyi”, lagu Luisa Adreena dan Azamy Syauqi untuk “Na Willa”. Pembukaan bernuansa pertunjukan teater beralih menjadi lagu energik dengan rasa Broadway, tetapi tetap berpijak pada dunia anak. Sementara itu, “Kepala, Pundak, Kerja Lagi” karya Sal Priadi dan produser elektronik Attila Sayah menggabungkan suasana mencekam dengan kritik terhadap kehidupan buruh.
Keragaman ini membuat kategori soundtrack lebih dari sekadar perebutan nama besar. Ada nostalgia, romansa, lagu anak, hingga komentar sosial; masing-masing membawa cara berbeda untuk menyatu dengan cerita film. Itu membuat nominasi AMI Awards menarik dinilai bukan hanya dari popularitas penyanyi, tetapi juga dari seberapa kuat lagu membangun identitas karya yang mengiringinya.
Kidos Band memperluas ruang musik anak
Di luar kategori soundtrack, Kidos Band kembali menegaskan kehadiran musik anak dengan dua nominasi pada AMI Awards 2026. Trio Marvin, Michael, dan Mercy masuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Anak-Anak Terbaik melalui “Kamu Kamu Temanku”, hasil kolaborasi dengan Alice Gwen Alice dan Velyn Elsa.
Nominasi kedua diberikan kepada Michael Soerjonoto dan Zack The Jackman untuk Penata Musik Lagu Anak-Anak Terbaik, berkat aransemen baru “Libur Telah Tiba”, lagu ciptaan AT Mahmud. Kidos Band nominasi untuk tahun kedua berturut-turut setelah masuk daftar pada 2025 lewat “Jadi Yang Terbaik”. Perjalanan mereka bermula dari tugas sekolah bermain musik bersama, lalu berkembang menjadi keterlibatan dalam pengerjaan lagu dan penataan musik.
Jangkauan karya mereka juga menunjukkan adanya pendengar untuk musik anak: kanal YouTube Kids Mydoremi Musical Garden mencatat lebih dari 3 miliar tayangan sejak 2021, sementara lagu-lagunya telah diputar lebih dari 2 juta kali di layanan streaming. Angka itu memberi konteks pada pentingnya nominasi mereka: musik anak bukan sisipan, melainkan bagian nyata dari lanskap penghargaan.
Penghargaan yang merangkul lebih banyak cerita
AMI Awards ke-29 dijadwalkan berlangsung pada 4 November 2026 dengan tema “Ruang Nada Nusantara”. Kehadiran kandidat soundtrack dengan karakter yang beragam, bersama pengakuan bagi karya musik anak, memperlihatkan bahwa ruang apresiasi tidak harus terpaku pada satu jenis lagu atau satu kelompok pendengar.
Untuk kategori Original Soundtrack Terbaik, Ariel punya keunggulan berupa nostalgia dan daya lekat cerita, sedangkan kolaborasi Iwan-Isyana menawarkan perpaduan vokal yang lebih mengejutkan. Namun, kualitas nominasi tidak semestinya disederhanakan menjadi duel nama: Eva Celia dan Bilal Indrajaya, Luisa Adreena dan Azamy Syauqi, serta Sal Priadi juga membawa pendekatan yang berbeda.
Kesimpulannya, persaingan soundtrack tahun ini kuat justru karena tidak ada satu formula yang menguasai semuanya. Ariel dan Iwan-Isyana menjadi pilihan terdepan dengan alasan artistik yang berlainan, sementara dua nominasi Kidos Band mengingatkan bahwa musik anak juga pantas mendapat tempat serius. Keragaman itulah yang membuat daftar nominasi lebih bernilai daripada sekadar pertarungan popularitas.






