Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat Orang Tua Bertengkar di Depan Publik: Luka Batin Anak yang Sering Diabaikan

Saat Orang Tua Bertengkar di Depan Publik: Luka Batin Anak yang Sering Diabaikan
Minat|Pengetahuan Parenting

Konflik Orang Tua di Ruang Publik: Bukan Drama, Tapi Ancaman Psikologis

Konflik orang tua di ruang publik adalah situasi ketika perselisihan, kemarahan, atau saling serang antar ayah dan ibu ditampilkan secara terbuka, termasuk melalui media sosial, sehingga anak ikut menyaksikan atau menjadi bagian dari konsumsi publik, dan kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan mental anak, merusak rasa aman, serta meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Dalam kasus terbaru, unggahan rekaman video call Ruben Onsu dengan seorang pria berinisial Y yang disebarkan Sarwendah ke media sosial memicu teguran keras dari psikolog Lita Gading. Ia menilai langkah tersebut bukan sekadar luapan emosi, melainkan tindakan yang menyeret anak ke dalam pusaran konflik orang dewasa. Menurut Lita, apa yang dilakukan Sarwendah "75 persen salah" dan menunjukkan betapa tipisnya batas antara keinginan membela diri dan mengorbankan ketenangan batin anak.

Saat Orang Tua Bertengkar di Depan Publik: Luka Batin Anak yang Sering Diabaikan

Jejak Digital, Trauma Anak, dan Kewajiban Menjaga Citra Orang Tua

Konflik orang tua dampak anak tidak berhenti pada momen pertengkaran; ia hidup terus dalam jejak digital yang tidak bisa dihapus. Lita Gading mengingatkan, apa yang diunggah hari ini bisa menjadi mimpi buruk bagi anak di masa depan, karena mereka akan berhadapan dengan rekaman konflik orang tuanya sendiri. Di sinilah kesehatan mental anak dipertaruhkan: rasa malu, bingung, dan terbelah loyalitas antara ayah dan ibu. Lita menekankan pentingnya menyayangi anak tanpa menjelekkan pihak ayah, karena anak membutuhkan figur kedua orang tua yang tetap utuh di mata mereka, meski hubungan suami-istri retak. Anak bukan alat pembenaran moral orang dewasa. Ketika satu pihak menyerang citra pihak lain di ruang publik, yang hancur bukan hanya reputasi pasangan, tetapi juga fondasi emosional anak yang sedang tumbuh dan mencari identitas.

Peringatan Komnas PA: Dari Kekerasan Psikis hingga Ancaman Pencabutan Hak Asuh

Perseteruan yang terus bergulir antara Ruben Onsu dan Sarwendah kini tidak lagi dipandang sebagai urusan rumah tangga semata; Komnas PA turun tangan dan memberi peringatan keras. Lembaga perlindungan anak ini menilai, konflik yang melibatkan kedua orang tua di ruang publik berpotensi merusak kondisi psikologis dan tumbuh kembang anak. Lebih jauh, Komnas PA membuka kemungkinan langkah hukum berupa pencabutan hak asuh bila terbukti terjadi kekerasan psikis berulang yang membahayakan anak. Ini bukan ancaman kosong, karena sudah ada preseden pengadilan yang mencabut hak asuh orang tua namun tetap mewajibkan mereka memenuhi tanggung jawab terhadap anak. Pesannya jelas: perlindungan anak bukan slogan; negara siap mengintervensi ketika konflik orang tua mengancam kesejahteraan anak, termasuk kesehatan mental dan kondisi fisik mereka.

Saat Orang Tua Bertengkar di Depan Publik: Luka Batin Anak yang Sering Diabaikan

Orang Tua sebagai Guru Moral: Pesan Buruk dari Pertengkaran Publik

Ketua Komnas PA, Agustinus Sirait, mengingatkan bahwa orang tua adalah guru pertama dan terutama bagi anak, sosok yang seharusnya layak ditiru. Namun, ketika ayah dan ibu saling menyerang di ruang publik, pesan moral apa yang sampai ke anak? Agustinus mengecam kedua pihak yang terus mempertontonkan perselisihan, menyebutnya sebagai contoh buruk orang dewasa yang setiap hari saling serang di depan publik. Anak yang tumbuh dalam atmosfer seperti ini belajar bahwa masalah diselesaikan dengan mempermalukan lawan, bukan dengan dialog. Tekanan psikis yang mulai terindikasi pada anak-anak Ruben dan Sarwendah menjadi alarm keras bahwa luka batin bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka membangun hubungan, bahkan ketika mereka kelak menikah. Konflik publik bukan sekadar tontonan; ia adalah kurikulum diam-diam tentang bagaimana menyakiti dan disakiti.

Menjaga Privasi Anak dan Menutup Pintu Drama Publik

Jika kepentingan terbaik anak sungguh ditempatkan di atas ego, maka satu prinsip harus dipegang: perselisihan orang tua diselesaikan di ruang privat, bukan di panggung publik. Psikolog mengingatkan agar orang tua tidak membuat anak harus menghadapi dampak emosional dari konflik yang tersebar di media sosial. Komnas PA menegaskan, bila perselisihan terbukti membahayakan kesehatan mental, fisik, dan tumbuh kembang anak, negara memiliki kewenangan penuh untuk mengambil langkah perlindungan. Ini seharusnya menjadi cermin bagi semua keluarga: perlindungan anak bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal etika berbicara, menahan diri, dan memilih diam di depan publik demi ketenangan batin anak. Pada akhirnya, anak berhak atas masa kecil yang tidak dibayangi drama orang dewasa. Orang tua boleh berpisah, boleh berbeda, tetapi tidak boleh menjadikan anak korban tontonan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!