Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kelompok Wanita Tani, Sawit, dan Jalan Baru Kemandirian Pangan Energi

Kelompok Wanita Tani, Sawit, dan Jalan Baru Kemandirian Pangan Energi
Minat|Asia Tenggara

Pemberdayaan perempuan sawit: dari dapur keluarga ke desain industri berkelanjutan

Pemberdayaan perempuan sawit adalah serangkaian inisiatif yang menjadikan perempuan di sekitar perkebunan kelapa sawit sebagai aktor utama dalam kemandirian pangan energi, kewirausahaan desa, dan perlindungan hak pekerja perempuan, sehingga peran mereka bergeser dari sekadar penopang rumah tangga menjadi perancang model industri sawit berkelanjutan di tingkat lokal. Program workshop UKMK sawit di Balikpapan yang diikuti 40 peserta dari kelompok tani dan kelompok wanita tani Kalimantan Timur tidak sekadar pelatihan teknis, tetapi pesan politik ekonomi: masa depan industri sawit berkelanjutan tidak mungkin terwujud jika perempuan tetap ditempatkan di pinggir sistem produksi dan pengambilan keputusan. Dengan luas kebun 1.332.015 hektare dan produksi CPO jutaan ton di Kalimantan Timur, memilih perempuan sebagai penggerak kemandirian pangan energi bukan pilihan aksesori, melainkan strategi inti pembangunan daerah.

Kelompok wanita tani Kaltim: laboratorium hidup desa mandiri pangan dan energi

Workshop UKMK Sawit di Balikpapan adalah contoh bagaimana kelompok wanita tani dijadikan laboratorium hidup untuk merancang desa mandiri pangan dan energi. Peserta seperti Kelompok Wanita Tani Anugrah Alam, Mentari Bersinar, dan Stroberi membawa pengalaman konkret mengelola pangan rumah tangga ke ruang diskusi soal model bisnis sawit, SWOT, dan Business Model Canvas. Di sini terlihat jelas: kemandirian pangan energi tidak lahir dari teknologi besar, melainkan dari pengetahuan perempuan yang selama ini diremehkan. Ketika direktur penyelenggara menargetkan SDM perempuan yang berjiwa wiraswasta dan desa mandiri pangan-energi, ia sebenarnya menggugat struktur ekonomi yang terlalu bergantung pada korporasi dan pasar bahan bakar fosil. Materi workshop diminta untuk dibawa pulang, ditularkan ke kelompok wanita tani lain, gabungan kelompok tani, dan koperasi – artinya kebijakan kemandirian pangan energi mulai diletakkan di tangan organisasi akar rumput, bukan hanya kantor pemerintah.

Sulawesi bergerak: hak pekerja perempuan sebagai syarat industri sawit berkelanjutan

Di Sulawesi, fokus pemberdayaan perempuan bergeser dari dapur ke perlindungan hak pekerja perempuan di kebun dan pabrik sawit. Meski luas tanaman sawit di pulau ini ‘hanya’ 411.000 hektare, tekanan standar keberlanjutan seharusnya sama kuat dengan kawasan yang lebih besar. Melalui gerakan “Sulawesi Bergerak: Bersama Sawit Ramah Pekerja Perempuan”, GAPKI bersama BPDP menyerang titik lemah industri: hubungan kerja informal UMKM dan petani yang sering meninggalkan perempuan tanpa jaminan keselamatan, kesehatan, dan jaminan sosial. Konsep “total safe, total health & total prosper” untuk pekerja perempuan adalah kritik terselubung kepada praktik lama yang menganggap perempuan sebagai tenaga kerja murah dan bisa dikorbankan. Di sini hak pekerja perempuan tidak diposisikan sebagai isu sampingan, tetapi sebagai prasyarat sertifikasi RSPO dan ISPO, dan indikator apakah industri sawit berkelanjutan sekadar slogan atau benar-benar menghormati tubuh dan waktu perempuan.

Menghubungkan pangan, energi, dan jaminan sosial: mengapa perempuan jadi kunci transformasi

Jika Kalimantan Timur menonjolkan kemandirian pangan energi dan Sulawesi menekan isu hak pekerja perempuan, keduanya sesungguhnya sedang merangkai potongan puzzle model ekonomi baru. Perempuan di kelompok wanita tani memikirkan bagaimana sawit bisa disambungkan dengan energi terbarukan di desa, ketahanan pangan keluarga, dan usaha kecil berbasis CPO atau produk turunan. Sementara pekerja perempuan di kebun dan pabrik diingatkan bahwa jaminan sosial ketenagakerjaan dan standar keselamatan kerja adalah bagian sah dari paket industri sawit berkelanjutan, bukan bonus bila ada anggaran. Ketika dua arus ini disatukan, muncul gambaran berbeda: sawit bukan sekadar komoditas global, melainkan ekosistem lokal yang hak pekerja perempuan, kemandirian pangan energi, dan kesejahteraan keluarga saling terkait. "Memiliki Jamsostek yang lengkap, akan menjamin kesejahteraan pekerja dan keluarga. Baik ketika bekerja maupun saat purna," tegas salah satu penggagas gerakan di Sulawesi.

Dari proyek ke arus utama: tugas politik ke depan bagi gerakan perempuan sawit

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah pemberdayaan perempuan sawit penting, melainkan bagaimana mengubahnya dari proyek ke arus utama kebijakan. Selama program workshop, beasiswa, sarana-prasarana, dan promosi UKMK hanya berhenti sebagai inisiatif yang sesekali diadakan, kemandirian pangan energi dan perlindungan hak pekerja perempuan akan tetap rentan terhadap perubahan politik dan pasar. Kelompok wanita tani dan pekerja perempuan sawit perlu dipandang sebagai mitra resmi: duduk di forum perencanaan desa, disertakan dalam kemitraan dengan dana perkebunan, dan diakui sebagai pemilik pengetahuan, bukan objek pelatihan. Di titik itu, industri sawit berkelanjutan bukan lagi soal sertifikasi dan citra, tetapi soal distribusi kekuasaan dan manfaat. Pemberdayaan perempuan sawit seharusnya dibaca sebagai strategi politik ekonomi: mengalihkan pusat kendali dari segelintir pemilik modal ke jaringan perempuan yang selama ini menjaga pangan, energi, dan tubuh pekerja di garis depan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!