GENTING: Program Cegah Stunting yang Mengandalkan Orang Tua Asuh dan Komunitas
Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) adalah model program cegah stunting berbasis komunitas yang menghubungkan keluarga berisiko dengan orang tua asuh, lembaga publik, dan dunia usaha untuk memastikan dukungan gizi, kesehatan, dan lingkungan hidup yang lebih baik bagi anak sejak masa kehamilan hingga balita. Program ini bertumpu pada pendampingan berkelanjutan, pemetaan keluarga berisiko, dan intervensi terarah yang dirancang agar setiap keluarga tidak lagi menghadapi risiko stunting sendirian.
Inti program GENTING bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan pemberdayaan komunitas stunting melalui keterlibatan banyak pihak sebagai orang tua asuh GENTING. Pemerintah daerah memakainya sebagai program cegah stunting unggulan di sejumlah kabupaten, termasuk Muna Barat, Sumbawa, dan Lombok Timur. Pendekatan ini jelas opiniatif: stunting ditempatkan sebagai masalah sosial bersama, bukan urusan dapur rumah tangga semata. Dengan menjadikan keluarga berisiko sebagai pusat, GENTING mendorong penurunan angka stunting lewat kombinasi intervensi gizi, perbaikan sanitasi, dan perubahan perilaku yang dikawal langsung oleh komunitas.

Muna Barat: Target Turun ke 20 Persen dan Tantangan Sanitasi
Di Muna Barat, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting disosialisasikan lintas sektor lewat kegiatan pembinaan di tingkat desa, melibatkan dinas pengendalian penduduk, camat, kepala desa, hingga kepala puskesmas. Langkah ini bukan formalitas; pemerintah daerah terang-terangan menjadikan GENTING sebagai tulang punggung program cegah stunting di wilayah dengan angka stunting sekitar 28 persen dan target turun menjadi sekitar 20 persen.
Kepala dinas menegaskan bahwa sanitasi buruk adalah salah satu penyebab besar stunting di Muna Barat, karena memicu infeksi yang menghambat tumbuh kembang anak. Ini pengakuan penting: selama sanitasi diabaikan, pemberian makanan bergizi akan selalu kalah oleh penyakit. Penanganan tidak lagi dianggap tugas tunggal dinas kesehatan, tetapi kewajiban seluruh organisasi perangkat daerah dengan satu rujukan data keluarga berisiko stunting. Di sini tampak jelas keunggulan GENTING: program ini memaksa birokrasi keluar dari sekat sektoral dan bergerak sebagai satu komunitas besar dengan target penurunan angka stunting yang terukur.
Sumbawa: GENTING sebagai Investasi Generasi Masa Depan
Sumbawa memilih untuk memaksimalkan orang tua asuh GENTING sebagai strategi utama menekan kasus stunting hingga akhir 2026. Wakil bupati menyebut percepatan penurunan stunting sebagai tanggung jawab bersama untuk menyiapkan generasi unggul menuju visi Indonesia Emas 2045. Pernyataan ini menggeser narasi: stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi investasi masa depan.
Namun, Sumbawa menghadapi kenyataan pahit. Survei Kesehatan Indonesia mencatat prevalensi stunting 29,8 persen pada 2024, naik dari 24,7 persen pada 2023. Artinya, tanpa perubahan pendekatan, penurunan angka stunting hanya akan menjadi slogan. Program GENTING di sini diarahkan lebih menyeluruh, dari masa pranikah hingga pertumbuhan balita, dengan dukungan nutrisi dan non nutrisi melalui edukasi kepada keluarga berisiko stunting. Ini pendekatan yang patut diapresiasi, karena menempatkan pencegahan sebelum kelahiran sebagai bagian integral program cegah stunting, bukan tambahan belakangan. Sumbawa memberi pelajaran penting: data buruk bisa menjadi titik balik jika dijawab dengan pemberdayaan komunitas yang konsisten.

Lombok Timur: Skala Besar dan Manajemen Keluarga Berisiko
Jika Muna Barat menonjolkan target persentase dan Sumbawa menonjolkan pesan generasi masa depan, Lombok Timur menonjolkan skala dan tata kelola. Pemerintah daerah memperkuat program GENTING yang menyasar 14.106 Keluarga Berisiko Stunting (KRS) yang ditetapkan pemerintah pusat melalui BKKBN, dan hingga kini 11.610 KRS telah terintegrasi dalam program tersebut. Angka ini bukan kecil; ini menunjukkan GENTING mampu dioperasikan sebagai program cegah stunting massal, bukan hanya pilot project.
Pendampingan dilakukan melalui edukasi, intervensi, dan bantuan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing keluarga, mencakup ibu hamil, ibu menyusui, baduta, dan anak stunting. Pemerintah mencatat edukasi kepada 9.627 KRS, intervensi nutrisi untuk 1.574 KRS, akses air bersih untuk 394 KRS, jamban sehat bagi 14 KRS, dan satu rumah layak huni. Program GENTING di Lombok Timur bahkan membagi wilayah binaan melalui SK bupati dan menunjuk PIC di tiap OPD untuk memantau perkembangan program serta menjaga komunikasi dengan keluarga sasaran. Ini menunjukkan keseriusan membangun sistem pemberdayaan komunitas stunting yang tahan terhadap pergantian personel dan siklus politik.
Mengapa Model Orang Tua Asuh GENTING Layak Diadopsi Lebih Luas
Melihat tiga contoh di atas, GENTING terbukti lebih dari sekadar program bantuan. Ia adalah kerangka kerja pemberdayaan komunitas stunting yang memaksa pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha duduk di meja yang sama untuk mengurus keluarga berisiko. Dalam konteks ini, orang tua asuh GENTING adalah simbol bahwa anak-anak dari keluarga rentan berhak atas dukungan sosial kolektif.
Penurunan angka stunting yang ditargetkan hingga 20 persen di Muna Barat dan di tingkat provinsi menunjukkan bahwa pemerintah mulai menempatkan target yang jelas, bukan sekadar retorika. Sumbawa menjadikan GENTING sebagai komitmen jangka panjang, sementara Lombok Timur membuktikan bahwa pengelolaan lebih dari 11.610 keluarga berisiko stunting dapat dilakukan secara sistematis. Kesimpulannya, jika daerah lain ingin serius mengurangi stunting, mereka tidak bisa mengandalkan intervensi parsial. Model orang tua asuh GENTING menunjukkan bahwa keberhasilan program cegah stunting sangat bergantung pada kombinasi data keluarga berisiko yang akurat, kerja lintas sektor, dan keberanian melihat stunting sebagai tanggung jawab bersama komunitas, bukan pekerjaan satu dinas.






