Prestasi Zidna bermula dari ruang untuk berkembang
Budaya prestasi sekolah adalah upaya terencana untuk memberi warga sekolah kesempatan mengembangkan kemampuan, berkarya, dan mengukur kemajuan melalui pencapaian. Di SMPN 2 Banyuwangi, pendekatan itu kini terlihat lewat kemenangan seorang guru di panggung sastra. Zidna Qurrota Aini meraih Juara 1 kategori guru dalam Liga Puisi #5, dengan babak final berlangsung pada Rabu (29/10) di Seblang Room Grha Pena. Capaian ini layak dipandang lebih dari kabar tentang satu piala: guru juara puisi menjadi bukti bahwa pengembangan diri pendidik dapat menjadi bagian nyata dari kehidupan sekolah. Menempatkan guru sebagai peserta, bukan hanya pembimbing, memperluas makna prestasi dan memberi siswa teladan tentang keberanian untuk terus belajar. Itu pesan yang lebih kuat daripada sekadar mengumumkan hasil lomba.
Kepala sekolah Karyono menyambut kemenangan tersebut sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang produktif. Menurutnya, guru yang terus mengembangkan kapasitas dapat menginspirasi dan menjadi teladan bagi murid. Zidna sendiri mengaku sempat berkecil hati karena beberapa pesaing berpengalaman, tetapi akhirnya keluar sebagai juara pertama. Kisah itu membuat prestasi guru terasa dekat dan relevan: pengalaman orang lain bukan alasan untuk mundur, sementara panggung kompetisi dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan. Sekolah yang mendukung guru berkarya ikut menunjukkan kepada siswa bahwa belajar dan mencoba tidak berhenti setelah seseorang berdiri di depan kelas.

Lima puluh capaian dan pembinaan yang terukur
Kemenangan Zidna mendapat konteks dari capaian SMPN 2 Banyuwangi yang telah mengoleksi sekitar 50 prestasi akademik maupun nonakademik dalam kurun lebih dari tiga bulan sejak Karyono menjabat sebagai kepala sekolah. Angka ini mencerminkan dorongan yang melampaui satu bidang, tetapi jumlah saja bukan ukuran yang cukup. Yang lebih penting adalah apakah pencapaian lahir dari kesempatan yang terbuka, pembinaan yang konsisten, dan tindak lanjut yang jelas. Karyono menyebut pengembangan sekolah dijalankan melalui manajemen proyek berbasis visi, dengan program yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut terukur. Kerangka semacam itu memberi budaya prestasi sekolah peluang untuk bertahan, alih-alih bergantung pada semangat sesaat atau satu sosok unggul.
Penting pula bahwa pembinaan tidak dibatasi pada capaian akademik. Sumber sekolah menyebut ruang bagi literasi, sastra, olahraga, seni, teknologi informasi, coding, dan kecerdasan buatan. Pilihan ini lebih masuk akal daripada menyempitkan keberhasilan pada nilai kelas: siswa dan guru memiliki bakat berbeda, sehingga sekolah perlu menyediakan lebih dari satu jalur untuk bertumbuh. Bagi murid, melihat gurunya berlatih dan tampil dapat mengubah pesan tentang ketekunan menjadi contoh yang bisa disaksikan langsung. Tantangannya adalah menjaga agar sekitar 50 capaian itu menjadi awal pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar angka kebanggaan. Sekolah perlu terus menilai siapa yang mendapat kesempatan, dukungan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana pengalaman lomba kembali dibagikan di lingkungan belajar.
Liga Puisi membuka panggung lintas jenjang
Liga Puisi Banyuwangi mempertemukan peserta SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta guru dari berbagai sekolah. Liga Puisi #5 menetapkan 20 juara dari empat kategori: selain pemenang utama, tersedia pula posisi juara kedua, ketiga, dan juara harapan pertama serta kedua. Susunan ini memberi lebih banyak peserta pengakuan atas kemampuannya, sementara keberagaman jenjang membuat sastra tidak hanya menjadi ruang bagi pelajar tertentu. Kompetisi tersebut juga menunjukkan sekolah di kecamatan pinggiran mampu bersaing dan meraih gelar juara. Artinya, kesempatan dan pembinaan semestinya tidak ditentukan oleh lokasi sekolah. Ajang seperti ini berguna ketika kemenangan menjadi pemantik bagi peserta lain untuk berlatih, bukan alasan untuk menganggap bakat sastra hanya milik para juara.
Dampak terbaik kompetisi bukan berhenti di panggung final. Liga Puisi menjadi ruang bagi pelajar dan pendidik untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengembangkan potensi sastra. Zidna berharap penyelenggaraan berikutnya menjangkau lebih banyak peserta agar semakin banyak guru dan pelajar dapat mengasah kemampuan serta tampil. Harapan itu patut dijadikan tolok ukur: semakin luas akses, semakin besar kemungkinan munculnya bakat yang selama ini tidak terlihat. Sekolah dapat membantu dengan memberi dukungan latihan dan mendorong warga sekolah mengikuti kegiatan sastra tanpa memandang pengalaman awal. Dengan begitu, prestasi Zidna tidak hanya menjadi kisah kemenangan pribadi, tetapi juga dorongan untuk membuat ruang berkarya lebih mudah dijangkau.
Kemenangan yang seharusnya menjadi awal
Juara pertama Zidna mempertemukan dua hal yang sering dipisahkan: prestasi guru dan pembinaan sekolah. SMPN 2 Banyuwangi menunjukkan bahwa dukungan bagi pendidik dapat berjalan seiring dengan upaya membangun capaian akademik dan nonakademik. Namun, budaya prestasi tidak cukup dinilai dari piala atau jumlah penghargaan; ia perlu tampak dalam kesempatan yang konsisten, keberanian mencoba, dan pembelajaran yang berlanjut setelah lomba. Liga Puisi #5 juga memberi pesan bahwa panggung sastra dapat membuka peluang bagi peserta lintas usia dan sekolah, termasuk dari wilayah pinggiran. Jika harapan Zidna agar lebih banyak peserta terlibat pada penyelenggaraan berikutnya terwujud, manfaatnya akan melampaui daftar pemenang. Kemenangan ini patut dirayakan, tetapi keberhasilan pembinaan akan lebih lengkap ketika semakin banyak warga sekolah merasa punya ruang untuk tumbuh.






