Sekar Jagat: Saat Batik Madura Menyentuh Ranah Haute Couture
Nusanova 2.0: Sekar Jagat adalah sebuah instalasi fashion di D’Gallerie, Jakarta, yang menghadirkan batik Sekar Jagat khas Pamekasan, Madura dalam wujud busana bersiluet tegas, feminin, modern, dan edgy, sehingga mengangkat batik Madura modern dari sekadar pakaian formal menjadi koleksi avant-garde yang layak tampil di panggung red carpet. Di tangan Ivan Gunawan, wastra tradisional kontemporer bukan konsep abstrak, melainkan keputusan kreatif yang jelas: batik tulis Madura tidak diperlakukan sebagai motif dekoratif, tetapi sebagai bahasa visual untuk haute couture. Lewat Nusanova sebagai brand dan platform edisi kedua ini, ia menantang stereotip batik yang masih dianggap sebatas baju kantor atau pakaian hari Jumat, dan mengarahkan narasi ke wilayah seni mode yang lebih berani. Ini bukan sekadar pameran, melainkan pernyataan bahwa batik pantas berdiri di jalur yang sama dengan rumah-rumah mode besar dunia.

Interpretasi Baru Batik Madura: Filosofi Sekar Jagat yang Avant-Garde
Kekuatan konsep Sekar Jagat terletak pada cara Ivan Gunawan merangkai beragam motif tradisional menjadi satu kesatuan harmonis di atas sehelai kain. Dalam satu bentang batik tulis, ia memadukan hingga tiga komposisi motif berbeda—bagian atas, tengah, dan bawah—untuk menciptakan komposisi visual yang kaya dan unik di setiap helai. Pendekatan ini terasa sangat avant-garde: bukan menempelkan batik pada potongan busana siap pakai, melainkan membangun struktur motif yang menjadi fondasi desain. Siluet tegas, detail feminin, dan sentuhan edgy menghasilkan batik madura modern yang keluar jauh dari bayangan tradisional. Kutipan yang paling menggambarkan sikap kreatif ini adalah pernyataan Ivan, "Saya ingin menunjukkan bahwa batik bisa menjadi edgy, girly, structured, bahkan tampil di red carpet," yang menegaskan ambisinya mendorong batik ke panggung fashion global.

Nusanova 2.0: Ruang Pertemuan Wastra, Seni, Budaya, dan Keberlanjutan
Nusanova 2.0 membuktikan bahwa pameran mode bisa berfungsi sebagai ekosistem kreatif lengkap, bukan sekadar catwalk atau display manekin. Instalasi Sekar Jagat dikemas sebagai perjalanan kreatif: pengunjung diajak menyelami eksplorasi motif, pemilihan material, hingga proses pengerjaan batik tulis oleh para perajin. Di titik ini, wastra tradisional kontemporer mendapat konteks yang penting—batik tidak diputus dari akar tradisi, tetapi diperluas maknanya lewat seni instalasi dan narasi yang jelas. Kehadiran seniman tekstil Intan Anggita Pratiwie yang mengolah sisa material menjadi instalasi pohon melalui praktik upcycling menambahkan lapisan keberlanjutan yang jarang disentuh dunia fashion lokal. Sekar Jagat menjadi metafora: seperti beragam motif yang dijalin harmonis, Nusanova 2.0 mempertemukan wastra, fashion, seni, budaya, dan keberlanjutan dalam satu ruang pameran yang hidup.

Pengalaman Pengunjung: Batik sebagai Seni, Bukan Sekadar Pakaian
Dibuka pada 3 Agustus dan berlangsung hingga 9 Agustus di D’Gallerie, Jakarta, Nusanova 2.0: Sekar Jagat ditujukan untuk masyarakat umum dan tidak memagari batik dalam lingkaran eksklusif pecinta fashion saja. Strategi ini terasa tepat: jika batik ingin bergerak ke ranah haute couture, publik harus terlebih dahulu diajak melihatnya sebagai karya seni yang lengkap—dari proses hingga filosofi. Setiap busana menggunakan batik tulis yang dikerjakan manual, sehingga tidak ada dua helai kain yang benar-benar sama; keunikan ini memperkuat rasa otentik dan nilai koleksi avant-garde Ivan Gunawan fashion. Ada ambisi edukatif yang jelas ketika Ivan berharap pengunjung pulang membawa perspektif baru tentang batik dan wastra. Di tengah tren global yang sering memanfaatkan motif etnik secara dangkal, pendekatan ini mengingatkan bahwa transformasi modern seharusnya tetap menghormati tangan perajin.
Mengapa Sekar Jagat Penting bagi Masa Depan Batik Madura Modern
Koleksi Sekar Jagat lebih dari sekadar momen estetis; ia adalah argumen kuat tentang masa depan batik Madura modern. Dengan merangkul bentuk avant-garde, struktur tegas, dan kemungkinan tampil di red carpet, Ivan Gunawan menempatkan batik dalam percakapan global tentang haute couture tanpa menghapus akar Pamekasan. Kolaborasi dengan berbagai kreator dan mitra—mulai dari aksesori, tas edisi terbatas, hingga dukungan dari brand kecantikan, perbankan, dan arsitektur—menunjukkan bahwa wastra tradisional kontemporer membutuhkan jejaring lintas disiplin agar relevan dengan ekosistem kreatif masa kini. Pada akhirnya, Sekar Jagat mengajukan satu pertanyaan penting: apakah kita siap melihat batik bukan lagi sebagai kostum budaya, tetapi sebagai medium ekspresi tinggi yang setara dengan karya seni lain? Melihat keberanian dan konsistensi Nusanova 2.0, jawaban yang paling masuk akal adalah: sudah saatnya iya.






