Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tren Skinimalism: Mengapa Makeup Minimal Menggeser Bold Look

Tren Skinimalism: Mengapa Makeup Minimal Menggeser Bold Look
Minat|Makeup

Apa Itu Skinimalism dan Mengapa Mendadak Populer?

Skinimalism adalah tren skinimalism makeup yang menekankan rutinitas kecantikan sederhana, produk lebih sedikit, dan fokus utama pada kesehatan serta tekstur kulit, bukan sekadar menutupi ketidaksempurnaan dengan lapisan makeup tebal; pendekatan ini mengutamakan bare face aesthetic dan makeup minimal natural yang terasa nyaman dipakai sepanjang hari sambil merayakan kecantikan kulit berkilau apa adanya. Definisi tren kecantikan sendiri sedang berubah: riasan wajah bukan lagi tugas berat untuk menciptakan wajah sempurna, melainkan cara halus untuk meningkatkan fitur alami. Pergeseran ini bukan kebetulan. Pakar tata rias dan salah satu pendiri Shryoan Cosmetics, Drishti Madnani, mengamati perubahan jelas: orang mulai menjauhi riasan tebal dan berlebihan dan beralih ke tampilan lebih natural. Dengan pengalaman hampir satu dekade di industri tata rias, ia menilai fokus bergeser menuju rutinitas yang ringan, nyaman, dan personal. Artinya, kita tidak lagi terpaku pada wajah yang “dibentuk” dramatis; kenyamanan dan keaslian menjadi standar baru.

Bare Face Aesthetic: Ketika Wajah Tanpa Riasan Jadi Aspirasi

Normalisasi bare face aesthetic bukan sekadar hasil filter media sosial; banyak figur publik berani tampil tanpa riasan dan menunjukkan kulit natural mereka. Dalam serangkaian potret terbaru, IU tampil tanpa sentuhan makeup, dengan tekstur kulit yang jelas, sehat, dan bersih di bawah pencahayaan indoor lembut. Potret close-up ini menonjolkan bagaimana kesederhanaan bisa menjadi pusat perhatian—tanpa lipstik pekat, tanpa contour tajam, hanya wajah apa adanya. Detail seperti poni sedikit berantakan, ekspresi datar, dan sorot mata yang tajam namun tenang memberi kesan intim yang menguatkan narasi kecantikan alami. Ketika figur publik seperti IU memamerkan sisi naturalnya, bare face bukan lagi “wajah sebelum dirias”, melainkan tampilan yang sah untuk diabadikan dan dibanggakan. Hal ini menggeser persepsi: wajah tanpa coverage penuh bukan tanda kurang usaha, tapi pilihan estetika yang modern dan relevan.

Alasan Psikologis dan Praktis di Balik Skinimalism

Skinimalism tumbuh karena alasan psikologis dan praktis yang saling menguatkan. Dari sisi kenyamanan, pengalaman lama dengan riasan berlapis membuat banyak orang merasa seperti ada sesuatu yang menempel berat di wajah mereka, sehingga tidak nyaman dipakai seharian. Kini orang beralih ke pendekatan “lebih sedikit lebih baik”, memilih makeup minimal natural yang mengikuti bentuk wajah, bukan memaksanya berubah. Drishti Madnani menekankan bahwa klien ingin merasa seperti diri mereka sendiri, bukan versi yang sepenuhnya berbeda. Seorang pengantin dengan banyak bekas jerawat bahkan secara tegas meminta riasan yang tidak tebal dan berlapis; ia ingin tetap terlihat seperti dirinya sendiri dan tidak menginginkan wajahnya berubah total. Secara praktis, teknologi kamera 4K dan 5K juga membuat riasan tebal tidak perlu lagi, karena detail sudah tertangkap dengan baik tanpa layer berlebihan. Hasilnya: rutinitas yang lebih singkat, kulit lebih tenang, dan rasa percaya diri yang bersumber dari keaslian, bukan kamuflase.

Dari Coverage ke Glow: Kulit Berkilau Sebagai Pusat Kecantikan

Inti tren skinimalism makeup adalah berpindah dari obsesi coverage penuh ke fokus pada kecantikan kulit berkilau yang tampak sehat. Konsumen kini mencari pewarna kulit, pelembap berwarna, hasil akhir kulit bercahaya, dan riasan yang mengandung bahan perawatan kulit, karena ingin meningkatkan fitur alami alih-alih menutupinya rapat. Riasan glass-skin menjadi tren; bagi Generasi Z, kulit bercahaya seperti kaca adalah tujuan utama, apa pun jenis kulit mereka. Pelembap berwarna dan tabir surya berwarna menjadi pilihan praktis yang menggabungkan perlindungan, hidrasi, dan sedikit koreksi warna dalam satu langkah. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada banyak produk sekaligus memaksa kualitas skincare menjadi fondasi—bukan sekadar pelengkap. Kini orang menerima bahwa pori-pori, lingkaran hitam, atau bekas jerawat boleh sedikit terlihat, dan itu tidak masalah. Glow yang dicari bukan kilau palsu yang dibangun dengan highlighter tebal, melainkan tampilan kulit yang terawat dan bernapas.

Bahaya Tren Matte Total dan Keseimbangan yang Lebih Sehat

Meski skinimalism menguat, satu kebiasaan lama yang masih menahan kita adalah obsesi pada riasan matte total. Drishti Madnani menilai orang terlalu banyak memakai produk matte: setting spray yang sangat mattifying, bedak padat, bedak tabur, lipstik matte, dan sebagainya, seolah semua bagian wajah wajib bebas kilau. Tren riasan yang sepenuhnya matte adalah sesuatu yang perlu dihentikan, terutama ketika diikuti secara membabi buta tanpa memahami kebutuhan kulit. Pendekatan ekstrem ini bertolak belakang dengan bare face aesthetic dan kecantikan kulit berkilau yang tengah naik. Selain berpotensi membuat wajah tampak datar dan kaku, penggunaan produk matte berlapis juga bertentangan dengan kenyamanan dan kebebasan ekspresi yang dicari generasi baru. Keseimbangan yang lebih sehat adalah kombinasi beberapa hasil akhir: sedikit matte di area rawan minyak, glow lembut di titik-titik tinggi wajah, dan tekstur kulit tetap terlihat. Skinimalism bukan larangan terhadap makeup, melainkan ajakan untuk lebih selektif dan jujur pada kondisi kulit sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!