Modest fashion sebagai strategi ekspor, bukan sekadar tren religius
Modest fashion adalah pendekatan berpakaian yang menonjolkan kesopanan, siluet tertutup, dan kenyamanan, namun tetap mengikuti arus desain kontemporer, sehingga dapat diterima lintas budaya, lintas agama, dan lintas pasar, termasuk pasar Eropa fesyen yang selama ini identik dengan gaya lebih terbuka. Dalam konteks ekspor, modest fashion ekspor bukan lagi diposisikan sebagai produk khusus komunitas Muslim, melainkan sebagai gaya hidup alternatif bagi konsumen global yang mencari busana rapi, fungsional, dan berkarakter. Di sinilah arah kebijakan pemerintah menjadi menarik: alih-alih terjebak pada segmentasi sempit, Kementerian Ekraf mendorong pelaku industri melihat modest fashion sebagai bahasa estetika universal yang bisa dijual ke negara non-mayoritas Muslim, dengan Eropa sebagai target utama pengembangan pasar.
Mengapa pasar Eropa penting bagi modest fashion ekspor
Pernyataan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bahwa potensi modest fashion tidak terbatas pada negara mayoritas Muslim, melainkan juga ke negara-negara Eropa dan non-mayoritas Muslim, adalah sinyal politik ekonomi yang jelas. Pasar Eropa fesyen dikenal matang, jenuh, dan sangat kompetitif; menargetkannya berarti menantang pelaku lokal untuk naik kelas, bukan puas di zona nyaman domestik. Menurut Teuku Riefky, arahan presiden adalah memperkuat ekonomi nasional dan daya saing melalui kolaborasi, sekaligus mendorong modest fashion memenuhi kebutuhan pasar internasional. Ini bukan sekadar wacana; fokus pada akses pasar, jejaring bisnis, dan teknologi digital menunjukkan bahwa ekspor dipandang sebagai jalan utama menjadikan kreativitas sebagai komoditas berdaya saing global. Jika pelaku hanya membidik pasar Muslim tradisional, mereka akan kehilangan peluang konsumen Eropa yang mulai mencari alternatif gaya yang lebih sopan, inklusif, dan sadar lingkungan.

Ambisi menjadi kiblat modest fashion dunia dan pusat fesyen berkelanjutan
Wamen Ekraf Irene Umar menegaskan dua ambisi besar: menjadikan negeri ini kiblat modest fashion dunia dan pusat inovasi sustainable fashion. Ambisi ganda ini penting karena pasar global tidak lagi hanya menilai estetika, tetapi juga jejak lingkungan dan nilai sosial di balik produk. Irene menekankan bahwa fesyen berkelanjutan harus menyeimbangkan kapasitas produksi, kelestarian lingkungan, dan keunikan desain. Artinya, pelaku modest fashion ekspor dituntut tidak sekadar menempel label "syar’i" atau "sopan", melainkan membuktikan bahwa proses produksi mereka efisien, bahan yang dipakai ramah lingkungan, dan desain punya identitas kuat. Perhelatan IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week dirancang mempertemukan kreator dengan buyers internasional untuk mengubah kreativitas menjadi komoditas berdaya saing global. Jika ekosistem ini konsisten, klaim sebagai pusat modest fashion dunia bukan lagi slogan, tetapi posisi tawar nyata di rantai pasok fesyen global.

Wastra Nusantara internasional sebagai pembeda di pasar non-Muslim
Keunggulan paling strategis dari modest fashion lokal adalah akar budayanya. Teuku Riefky menilai desain yang berakar pada budaya berbagai daerah membuat produk memiliki karakter yang tidak bisa disamakan dengan negara lain. Rangkaian koleksi di IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week menonjolkan kekayaan wastra Nusantara lewat pendekatan desain kontemporer: dari kain tradisional Kalimantan Selatan yang diolah menjadi busana modern hingga perpaduan batik dan tenun dengan teknik laser cut, bordir, dan ornamen tiga dimensi. Irene bahkan mencontohkan motif batik yang dipakai sebagai suvenir resmi sebuah kejuaraan gim internasional, menunjukkan bahwa budaya lokal dapat masuk ke ekosistem digital global. Jika wastra Nusantara internasional diposisikan sebagai identitas, bukan sekadar motif dekoratif, modest fashion ekspor punya narasi kuat untuk memikat konsumen Eropa yang haus cerita otentik di balik pakaian yang mereka kenakan.

UMKM fashion global: tantangan akses pasar dan perlindungan karya
Ekspansi ke pasar Eropa fesyen tidak akan terjadi tanpa UMKM yang siap bermain di level global. Teuku Riefky menekankan bahwa pelaku usaha harus memiliki akses pasar dan jaringan bisnis yang lebih luas untuk memasuki pasar internasional. Di sinilah peran pemerintah menjadi penentu: perhelatan seperti IN2MOTIONFEST dirancang mempertemukan kreator dengan buyers internasional, agar kreativitas UMKM fashion global berubah menjadi komoditas ekonomi berdaya saing. Namun akses saja tidak cukup; perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual disebut sebagai hal utama untuk meningkatkan nilai tambah karya. Tanpa perlindungan desain, motif wastra Nusantara internasional berisiko diambil alih pihak luar yang lebih kuat secara hukum. Kesimpulannya, jika pemerintah konsisten pada tiga hal—akses pasar, ekosistem berkelanjutan, dan perlindungan karya—UMKM modest fashion punya peluang nyata menaklukkan pasar non-Muslim, bukan sekadar menjadi penonton di panggung global.






