“Joseph”: Ketika Tiga Dunia Vokal Metal Bertabrakan
“Joseph” adalah single metal terbaru Falling In Reverse yang menghadirkan kolaborasi unik antara Ronnie Radke, Corey Taylor dari Slipknot, dan Serj Tankian dari System of a Down, mempertemukan tiga generasi dan karakter vokal berbeda dalam satu lagu dengan pendekatan produksi kontemporer dan sinematik.
Falling In Reverse kolaborasi dengan dua ikon metal ini bukan sekadar gimmick, melainkan pernyataan bahwa skena modern tidak lagi terikat tembok fanbase tradisional. Dirilis melalui Epitaph Records, single Joseph metal ini berdurasi sekitar empat menit dan dibuka dengan dentingan piano lembut sebelum berubah menjadi perpaduan distorsi gitar berat dan elemen elektronik. Judulnya diambil dari nama tengah Ronnie Radke, memberi nuansa semi-otobiografis yang kuat. Di tengah lautan rilisan metal yang sering terasa formulaik, keberanian menggabungkan Corey Taylor dan Serj Tankian dalam satu trek membuat lagu ini terasa seperti eksperimen terukur yang menantang batas identitas band.

Dinamika Vokal: Corey, Serj, dan Ronnie sebagai “Supergroup” Satu Lagu
Daya tarik utama single Joseph metal terletak pada bagaimana tiga vokalis dengan DNA berbeda dipaksa berbagi ruang tanpa saling menelan satu sama lain. Corey Taylor hadir dengan gaya vokal agresif dan fast-paced screaming ala Slipknot, lengkap dengan topeng ikonik di video musiknya. Sebaliknya, Serj Tankian membawa nuansa teatrikal dan operatik yang mengingatkan pada eksentrisitas System of a Down.
Perbedaan karakter vokal ketiganya kemudian menjadi kekuatan utama lagu. Ronnie Radke berfungsi sebagai lem perekat, menjembatani dua ekstrem itu dengan vokal post-hardcore modern dan sense melodi yang menjadi ciri Falling In Reverse. Ini bukan sekadar kolaborasi band metal biasa; struktur lagu terasa dirancang supaya setiap vokalis punya “momen puncak” sendiri. Hasilnya, Joseph terdengar seperti supergroup satu malam, di mana identitas masing-masing tetap utuh tetapi menyatu dalam narasi musik yang konsisten.
Sinematik, Kolaboratif, dan Kalkulasi Strategis Jangkauan Audiens
Di era ketika kolaborasi band metal semakin marak, Falling In Reverse kolaborasi kali ini jelas dihitung masak-masak. Video musik Joseph digarap dengan konsep sinematik oleh sutradara Jensen Noen dan dikemas layaknya film aksi, menampilkan pertempuran yang mempertemukan Ronnie Radke, Corey Taylor, dan Serj Tankian dalam satu rangkaian cerita. Pendekatan visual yang megah ini mengangkat lagu dari sekadar audio menjadi pengalaman naratif penuh.
Falling In Reverse bukan pemain baru dalam ranah kolaborasi band metal: sebelumnya mereka menggandeng Marilyn Manson di “God Is a Weapon” dan HARDY di “All My Women”. Pola ini menunjukkan konsistensi strategi: memperluas spektrum sonik dan menarik audiens dari lintas spektrum musik keras. Joseph menjadi puncak sementara dari strategi itu, karena untuk pertama kalinya dua frontman Slipknot System of a Down berada dalam satu proyek lagu yang sama.
Kontras Menarik: “Graceless” dan Kembalinya Brutalitas Deathcore
Sementara Falling In Reverse bermain di ranah kolaborasi supergroup, Suicide Silence memilih jalur sebaliknya: kembali ke akar. Mereka merilis single “Graceless” yang menjadi pembuka menuju album studio kesembilan dengan judul sama. Dengan durasi kurang dari dua menit, lagu ini langsung menyuguhkan energi agresif sejak awal, lewat hentakan drum cepat, riff berat, breakdown, dan scream parau Eddie Hermida.
Gitaris Chris Garza menyatakan bahwa album baru ini dirancang untuk menghadirkan kembali energi liar dan agresif yang membentuk nama Suicide Silence di skena deathcore. Ia menegaskan, “Kami kembali bermusik persis seperti saat masih remaja: murni memainkan musik keras langsung dari hati.” Sebagai title track, “Graceless” disebut band sebagai pintu masuk untuk memahami materi album penuh yang akan dirilis pada 20 November 2026, dengan sebelas trek termasuk “Unenlightened”, “Rotting Inside”, hingga “Devoured Dreams”.

Dua Arah Metal Modern: Kolaborasi Lintas Nama Besar dan Kembali ke Akar
Jika Falling In Reverse dengan single Joseph metal merayakan masa depan kolaborasi band metal, maka Suicide Silence lewat Graceless mewakili gerakan “back to basics” dalam deathcore. Di satu sisi, Joseph menyatukan tiga ikon berbeda – Ronnie Radke, Corey Taylor, dan Serj Tankian – dalam paket sinematik yang padat referensi modern. Di sisi lain, Graceless memotong ornamen dan fokus pada agresi mentah berdurasi kurang dari dua menit.
Dua rilis ini bersama-sama menunjukkan bahwa metal kontemporer sedang berada di persimpangan: antara eksplorasi kolaboratif lintas nama besar dan komitmen pada akar ekstrem yang lugas. Trennya bukan soal mana yang “lebih autentik”, melainkan bagaimana band memilih strategi artistik masing-masing. Falling In Reverse memasang taruhan pada jaringan dan sinema, sementara Suicide Silence menggandakan identitas klasik mereka. Keduanya menjadi bukti bahwa skena metal modern cukup luas untuk menampung supergroup satu lagu sekaligus kembalinya brutalitas deathcore yang tanpa kompromi.






