Tahfidz di TK: Bukan Tren, Melainkan Fondasi Pendidikan Islami
Program tahfidz TK adalah kegiatan ekstrakurikuler agama anak yang terstruktur untuk mengenalkan, menghafalkan, dan membiasakan interaksi dengan Al-Qur’an sejak usia dini, dengan dukungan metode hafalan yang sesuai perkembangan anak, jadwal rutin yang terukur, serta kolaborasi sekolah orang tua agar menghafal Qur’an anak tidak berhenti pada hafalan, tetapi tumbuh menjadi karakter dan kebiasaan hidup sehari-hari. Di TK Aisyiyah 05 Surabaya, program tahfidz TK mengambil posisi strategis sebagai jantung pendidikan islami TK, bukan sekadar tambahan kelas sore. Tingginya antusiasme peserta didik mengikuti program ekstrakurikuler Tahfidz Al-Qur’an bahkan mendorong sekolah menggelar sosialisasi khusus bersama wali murid di Masjid Al-Ma’arif pada Jumat, 7 Agustus 2026. Ini menunjukkan, ketika sekolah menawarkan program menghafal Qur’an anak yang jelas tujuannya, orang tua merespons dengan kepercayaan yang kuat.
Antusiasme Tinggi: 58 Anak dan Kelas Tahfidz yang Serius
Jika masih ada yang menganggap tahfidz di TK sebagai hal berlebihan, angka di lapangan membantahnya. Tahun ini, jumlah peserta didik yang mengikuti kelas tahfidz mencapai 58 anak dari kelompok A dan B. Angka ini tidak sekadar statistik; ia adalah sinyal bahwa keluarga mulai melihat tahfidz sebagai kebutuhan, bukan hiasan. Sekolah merespons dengan desain program yang serius: kelas tahfidz dijadwalkan mulai Senin, 10 Agustus 2026, dengan pertemuan dua kali sepekan plus Murojaah Kubro dua kali dalam sebulan setiap Jumat. Metode pembelajaran yang digunakan adalah talaqqi; pembimbing membaca ayat, anak menirukan, diulang hingga lima kali sebelum lanjut ke ayat berikutnya. Ada juga setoran hafalan via voice note atau video di akhir pekan, mempertegas bahwa program tahfidz TK ini menyatu dengan ritme keseharian keluarga, bukan hanya jam belajar di kelas.
Menghafal Qur’an Anak: Dari Metode di Kelas ke Kebiasaan di Rumah
Program tahfidz TK Aisyiyah 05 jelas menolak pendekatan “hafal banyak, paham sedikit”. Kepala sekolah menegaskan bahwa program tahfidz ini bukan hanya tentang mencintai Al-Qur’an dan mampu menghafalkannya, tetapi juga mendidik anak agar perilakunya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Hafalan diarahkan dari Surah An-Naba hingga At-Tin untuk program tahfidz, sementara hafalan wajib dari sekolah dimulai dari Surah An-Nas hingga Al-Alaq. Struktur materi ini secara halus mengantar anak dari surah-surah pendek yang mudah diulang menuju rangkaian ayat yang lebih panjang. Di rumah, orang tua didorong aktif melakukan pendampingan murojaah, bahkan bagi yang belum fasih membaca Al-Qur’an. Mereka dapat menggunakan media audio yang direkomendasikan pembimbing, sehingga anak tetap mendapat contoh bacaan yang tepat. Sikap ini penting: sekolah tidak menghakimi keterbatasan orang tua, tetapi memberi solusi agar menghafal Qur’an anak jadi proses bersama, bukan beban salah satu pihak.
Sosialisasi Program dan Nota Kesepahaman: Mengikat Komitmen Bersama
Kunci keberhasilan ekstrakurikuler agama anak bukan pada poster program, melainkan pada kejelasan komunikasi. Sosialisasi program tahfidz bersama wali murid di Masjid Al-Ma’arif menjadi momentum untuk menyamakan visi antara sekolah, pembimbing tahfidz, dan orang tua dalam mendampingi anak mencintai serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pertemuan ini, sekolah memaparkan sistem pembelajaran, metode hafalan, jadwal pertemuan, hingga bentuk pendampingan di rumah yang realistis untuk keluarga. Menariknya, wali murid tidak hanya diajak mendengar, tetapi juga menandatangani lembar nota kesepahaman sebagai komitmen tertulis untuk mendukung keberlangsungan program tahfidz. Bahkan sekolah memberikan subsidi sebesar Rp400.000 bagi anak yang mengikuti Tasmi sebagai bentuk dukungan terhadap program. Ini sikap yang patut dicontoh: tahfidz dipertahankan sebagai program yang serius, tetapi tetap inklusif bagi berbagai kondisi keluarga.
Ikwama: Kolaborasi Sekolah–Orang Tua untuk Generasi Qur’ani
Program tahfidz TK yang kuat butuh wadah kolaborasi yang rapi, dan di TK Aisyiyah 05 hal itu hadir melalui Ikatan Wali Murid (Ikwama). TK Aisyiyah Bustanul Athfal 05 bersama KB Aisyiyah 27 membentuk dan memilih pengurus Ikwama periode 2026–2027 sebagai mitra sekolah. Melalui musyawarah demokratis, terpilih Ayu Prihastuti (Mama Adelard) sebagai Ketua Ikwama. Kepala sekolah menyebut Ikwama sebagai mitra strategis sekolah dalam mewujudkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, dan menegaskan bahwa Ikwama bukan sekadar organisasi wali murid, tetapi wadah mempererat silaturahmi dan membangun kolaborasi antara sekolah dengan orang tua. Dengan kepengurusan baru ini, diharapkan sinergi semakin kuat dalam mendukung program pendidikan, pembinaan karakter islami, dan kegiatan yang menunjang perkembangan peserta didik selama Tahun Ajaran 2026–2027. Jika ditarik garis besar, tahfidz bukan hanya kelas tambahan; ia menjadi simbol komitmen lembaga pendidikan untuk melahirkan generasi Qur’ani yang kuat hafalan dan akhlaknya.







