Mangrove sebagai Benteng Pesisir dan Instrumen Tanggung Jawab Korporasi
Restorasi mangrove pesisir adalah upaya menanam dan memulihkan hutan mangrove di kawasan pantai untuk mengembalikan fungsi ekologisnya sebagai benteng alami pencegahan abrasi pantai, penyerap emisi karbon, penjaga keanekaragaman hayati, sekaligus penopang ekonomi masyarakat pesisir melalui sumber daya perikanan dan jasa lingkungan yang berkelanjutan. Di titik inilah langkah Telkom menanam 20.000 bibit mangrove di Desa Kedungmalang, Jepara, dan Desa Golo Sepang, Manggarai Barat, layak dibaca sebagai lebih dari sekadar aktivitas seremonial lingkungan. Penanaman ini adalah bagian dari program keberlanjutan lingkungan GoZero% – Sustainability Action by Telkom Indonesia melalui pilar Save Our Planet, yang fokus pada mitigasi perubahan iklim lewat pelestarian alam. Telkom tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan digital; perusahaan mulai mengambil posisi sebagai aktor yang ikut membangun ketahanan ekosistem laut dan pesisir di sekitar wilayah operasionalnya.
Jepara dan Manggarai Barat: Dua Ruang Uji Ketahanan Pesisir
Pemilihan Kedungmalang di Jepara dan Golo Sepang di Manggarai Barat bukan keputusan acak. Kedungmalang disebut sebagai kawasan yang terdampak abrasi dan membutuhkan rehabilitasi hutan mangrove sebagai benteng alami garis pantai. Artinya, setiap bibit yang ditanam di sana berfungsi langsung sebagai dinding hidup yang menahan laju pencegahan abrasi pantai, bukan sekadar simbol hijau di laporan tahunan. Di Golo Sepang, pendekatannya lebih luas. Penanaman mangrove dilengkapi dengan pengaktifan Rumah Edukasi Mangrove, pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat pesisir untuk memperkuat pemahaman konservasi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Ini penting: restorasi mangrove pesisir tidak akan bertahan tanpa pengetahuan lokal dan partisipasi warga. Keterlibatan relawan Telkom, InfraNexia, Telkom Akses, masyarakat dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa proyek ini dirancang sebagai kolaborasi sosial, bukan proyek korporasi yang berdiri sendiri.
GoZero%: Menyambungkan Kabel Fiber Optik dengan Akar Mangrove
Telkom menyebut aksi penanaman ini sebagai implementasi nyata inisiatif GoZero% melalui pilar Save Our Planet. Di balik jargon, terdapat pesan strategis: pembangunan infrastruktur digital tidak lagi dilihat cukup dari aspek teknis, tetapi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam. Ketahanan ekosistem laut dan pesisir di sekitar jaringan kabel, menara, dan fasilitas perusahaan dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab operasional. Sejak 2024 hingga 2026, TelkomGroup telah menanam 179.150 bibit mangrove di berbagai wilayah pesisir. Angka ini menunjukkan konsistensi, namun yang lebih penting adalah cara perusahaan mengaitkan keberlanjutan dengan nilai sosial dan ekonomi: program GoZero% disebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga penciptaan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan kata lain, akar mangrove dan kabel fiber optik diperlakukan sebagai dua infrastruktur yang sama-sama penting untuk masa depan.
Dampak Jangka Panjang: Investasi pada Ketahanan, Bukan Sekadar Citra
Mangrove yang ditanam hari ini tidak akan langsung menyelesaikan masalah abrasi besok pagi. Namun dalam beberapa tahun, hutan mangrove yang pulih akan memperkuat ketahanan ekosistem pantai, menjaga keanekaragaman hayati, dan mendukung target pembangunan rendah karbon. Di sinilah penanaman 20.000 bibit mangrove harus dilihat sebagai investasi jangka panjang pada ketahanan pesisir, bukan program hijau yang berhenti di foto kegiatan. “Penanaman mangrove dilakukan untuk mengurangi abrasi, menyerap emisi karbon, dan memperkuat ketahanan ekosistem pesisir.” Pernyataan itu menegaskan bahwa tujuan program keberlanjutan lingkungan Telkom berlapis: melindungi fisik garis pantai, menambah kapasitas penyerapan karbon, dan merawat ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat. Jika konsistensi 179.150 bibit yang sudah ditanam terjaga, dampak kumulatifnya akan jauh melampaui nilai komunikasi: ini adalah kontribusi nyata pada ketahanan ekosistem laut nasional.
Dari Provider Digital ke Warga Pesisir: Arah Baru Komitmen Telkom
Pernyataan VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, bahwa “TelkomGroup tidak hanya membangun konektivitas digital, tetapi juga peduli terhadap kondisi alam, menjaga ekosistem dan memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional agar manfaat yang dihadirkan dapat dirasakan secara berkelanjutan,” menandai pergeseran peran perusahaan: dari sekadar provider layanan ke warga korporasi yang mengakui dampaknya terhadap ruang hidup sekitar. Langkah penanaman mangrove yang dikaitkan dengan Hari Konservasi Mangrove Internasional dan Hari Konservasi Alam Internasional tentu memiliki unsur simbolik. Namun ketika simbol itu diikuti angka, kolaborasi lokal, dan infrastruktur pengetahuan seperti Rumah Edukasi Mangrove, kita berhadapan dengan komitmen yang mulai menyentuh akar persoalan. Kesimpulannya: Telkom sedang membangun narasi bahwa transformasi digital sah disebut maju hanya jika bergerak seiring dengan restorasi lingkungan lokal. Jika narasi ini konsisten, dunia korporasi lain tak lagi punya alasan untuk memisahkan pertumbuhan bisnis dari ketahanan pesisir dan laut.






