Empat Hari Tanpa Makanan: Cermin Buram Respons Darurat
Krisis pengungsi terisolasi logistik pasca gempa Flores adalah kondisi ketika ratusan warga yang mengungsi ke lokasi sulit dijangkau bertahan berhari-hari di tenda darurat tanpa pasokan makanan, obat-obatan, dan layanan dasar yang memadai, akibat tersendatnya distribusi bantuan resmi dan lambannya koordinasi respons darurat bencana antara otoritas di berbagai level pemerintahan.
Pada Sabtu pagi, 15 Agustus, gempa bumi M7,7 mengguncang Pulau Flores dan memaksa ratusan warga Kampung Nasaret di Manggarai Timur mengungsi ke perbukitan. Hingga Selasa, mereka masih bertahan di tenda swadaya dan terisolasi empat hari tanpa pasokan makanan dan obat yang layak. Fakta bahwa kebutuhan dasar seperti pangan dan kesehatan gagal dipenuhi dalam hitungan hari, di tengah respons darurat bencana yang seharusnya sudah aktif bekerja, menunjukkan masalah yang jauh lebih dalam dibanding sekadar medan sulit. Ini bukan sekadar "keterlambatan", tapi kegagalan sistemik melihat pengungsi di kampung terpencil sebagai prioritas yang setara dengan korban di pusat-pusat kota.
Medan Sulit Bukan Alasan: Ketika Infrastruktur Menjadi Dalih
Lokasi pengungsian di dataran tinggi lahan perkebunan dengan tenda-tenda biru seadanya menggambarkan betapa rentannya warga ketika bencana datang tanpa jaringan dukungan logistik yang siap. Pihak berwenang kerap menjadikan akses dan kerusakan infrastruktur sebagai penjelasan, tetapi kondisi di Manggarai Timur menunjukkan bahwa alasan itu berubah menjadi dalih ketika tidak diimbangi rencana alternatif yang nyata untuk menjangkau lokasi sulit. Kalau jalur darat terganggu, respons darurat seharusnya segera mengalihkan gempa Flores bantuan lewat moda lain, bukan menunggu sampai pengungsi kehabisan stok swadaya.
Di kampung yang terjal dan jauh dari pusat logistik, empat hari tanpa makanan dan obat bukan angka abstrak; itu berarti anak-anak tidur lapar, lansia tanpa obat rutin, dan ibu-ibu mengelola keluarga dengan persediaan yang menipis. Ketika negara meletakkan banyak desa di pinggir sistem, bencana hanya memperjelas garis ketidakadilan yang sudah ada: warga terpencil menanggung risiko terbesar, tapi menerima respons paling lambat.
Koordinasi Pusat-Daerah: Luka Lama yang Terus Diulang
Masalah di Flores bukan kasus tunggal; lambannya respons darurat bencana pernah tampak jelas dalam banjir di Aceh Tamiang, di mana proses pemulihan berjalan amat pelan dan minim partisipasi warga. Pola yang sama mengulang diri: struktur formal penanggulangan bencana ada, namun koordinasi pusat daerah lemah sehingga keputusan penting tertunda ketika jam-jam awal bencana seharusnya diisi oleh distribusi logistik, asesmen kebutuhan, dan perlindungan kelompok rentan.
Sebuah esai foto tentang penyintas banjir menunjukkan betapa hak dasar seperti hunian layak dan sanitasi pun tidak segera terpenuhi, termasuk toilet yang harus dipakai bersama beberapa keluarga dan mengabaikan kebutuhan perempuan. Di Flores, media lokal melaporkan masih banyak desa yang belum menerima bantuan pemerintah meski gempa sudah berlalu beberapa hari. Ketika informasi semacam ini datang dari warga dan media lokal, bukan dari kanal resmi, sulit menolak kesimpulan bahwa negara lamban bukan karena tak punya data, tapi karena prioritasnya tidak menyentuh pinggiran.
Ruang yang Diabaikan: Perempuan dan Kelompok Rentan di Tengah Kekacauan
Pengalaman banjir di Aceh Tamiang mengingatkan bahwa respons bencana yang lambat dan serba minimal selalu menghantam perempuan dan kelompok rentan lebih keras. Ketika satu toilet harus dibagi empat keluarga dan ruang hunian sementara dibangun rapat tanpa mempertimbangkan kesehatan mental ataupun privasi, perempuan kesulitan menjaga kebersihan saat menstruasi, memandikan bayi, dan merawat diri. Situasi pengungsi gempa Flores yang tinggal di tenda seadanya di perbukitan patut diduga menghadapi pola kerentanan serupa: akses ke sanitasi terbatas, ruang aman untuk anak, lansia, dan penyandang gangguan psikososial sangat tipis.
Di Manggarai Timur, seorang warga menggambarkan kondisi pengungsian sebagai "sangat memprihatinkan" dan menegaskan bahwa mereka telah empat hari tanpa makanan dan obat-obatan. Kalimat itu bukan sekadar keluhan; ia adalah dakwaan moral terhadap sistem yang membiarkan pengungsi terisolasi logistik. Respons darurat bencana yang mengabaikan kebutuhan spesifik kelompok rentan pada akhirnya mengubah tenda pengungsian menjadi ruang rawan kekerasan, penyakit, dan trauma berkepanjangan, alih-alih menjadi tempat perlindungan sementara.
Ketika Negara Telat, Warga Bergerak: Apa Pelajaran dari Flores?
Di tengah lambannya distribusi gempa Flores bantuan resmi, jaringan warga dan media lokal bergerak mengisi celah. Tim di tingkat akar rumput menyalurkan bantuan sejak hari pertama dan sudah menjangkau puluhan titik di beberapa kabupaten dengan bantuan yang terkumpul dari publik. Ini menunjukkan dua hal sekaligus: solidaritas sosial masih kuat, tapi negara gagal menjadi simpul koordinasi yang mengatur arus logistik secara cepat, merata, dan terukur.
Fakta bahwa BMKG mencatat 4.258 gempa susulan hingga 21 Agustus pagi memperjelas bahwa warga hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan. Dalam situasi seperti ini, koordinasi pusat daerah seharusnya memastikan pengungsian di kampung terpencil sudah punya stok pangan dan obat setidaknya untuk beberapa hari ke depan, bukan dibiarkan mengandalkan swadaya sampai menipis. Pelajaran paling keras dari Manggarai Timur adalah sederhana: tanpa strategi logistik yang menganggap desa terpencil sebagai prioritas, bukan pinggiran, setiap bencana besar akan terus melahirkan ratusan pengungsi yang menunggu bantuan sambil lapar.






