Kota Sebagai Kanvas: Mengapa Boss in the City Penting untuk Keluarga
Instalasi seni interaktif anak bertajuk Boss in the City adalah sebuah ruang bermain edukatif di butik Bimbi Group Pacific Place Jakarta yang menghadirkan miniatur kota hitam putih bergaya isometrik, tempat anak-anak menciptakan avatar, memilih peran, dan menempatkan karakter mereka di kota imajiner, sehingga proses berbelanja berubah menjadi aktivitas kreatif keluarga yang memicu imajinasi, rasa ingin tahu, dan percakapan tentang masa depan kota.
Pengalaman ini bukan sekadar gimmick di sudut mal; ia menegaskan bahwa aktivitas kreatif keluarga dapat terjadi di mana saja ketika ruang publik dirancang dengan perspektif anak. Bimbi Group membuka butik multi-brand terbarunya di Pacific Place Mall Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026, sekaligus menghadirkan instalasi Boss in the City sebagai bagian dari konsep experiential retail yang menjadikan butik lebih dari sekadar tempat transaksi. Keputusan berani menjadikan seni sebagai pusat pengalaman belanja menunjukkan shift penting: keluarga mulai mencari aktivitas yang bukan cuma menghibur, tapi juga mengajak anak berpikir dan bermimpi. Orang tua tidak lagi hanya diminta mengantar dan membayar; mereka diajak menjadi pendamping eksplorasi di “kota” pertama yang anak rancang sendiri.

Kolaborasi Adi Sundoro dan Bimbi: Seni, Imajinasi, dan Ruang Publik Mini
Daya tarik Boss in the City terletak pada kolaborasi antara seniman visual Adi Sundoro (Asun) dan Bimbi Group, yang menggubah butik menjadi laboratorium kota impian anak. Asun membawa sensibilitas seni instalasi yang sebelumnya ia terapkan dalam karya bertema fenomena urban dan kantor pelayanan publik fiktif ke dalam skala yang akrab dengan kehidupan keluarga. Di sini, miniatur kota bergaya isometrik menjadi panggung bagi anak-anak untuk menempatkan avatar mereka sebagai arsitek, seniman, desainer, atau profesi lain dalam kota yang terus tumbuh setiap ada partisipasi baru.
Pilihan visual hitam putih bukan sekadar estetika; itu strategi sadar untuk menyerahkan kontrol warna dan cerita kepada anak. Menurut Asun, yang ia siapkan hanyalah pemicu; karya baru benar-benar selesai ketika stiker-stiker buatan anak menutupi dinding seperti sapuan kuas. Di balik bentuk yang tampak playful, instalasi ini diam-diam mengenalkan konsep ruang publik: anak diajak melihat kota sebagai lingkungan inklusif, dinamis, dan berkelanjutan, serta memahami bahwa setiap warga—termasuk mereka—memiliki suara dalam merancangnya. Inilah pelajaran desain kota tingkat dasar yang terasa seperti permainan, bukan kuliah.
Fashion Bertemu Pendidikan: The World Is Yours dan Kepercayaan Diri Anak
Boss in the City terhubung erat dengan peluncuran koleksi BOSS Kidswear bertema “The World Is Yours”, yang terinspirasi dari kehidupan kota-kota modern dan mendorong anak untuk “Think Like a Boss”. Di sini fashion tidak diposisikan sebagai lapisan gaya tanpa makna; ia menjadi bagian dari narasi lebih besar tentang keberanian berpendapat dan percaya diri. Jessica Wijaya, Director Bimbi Group, menegaskan bahwa “Think like a boss bukan soal jabatan. Ini soal pola pikir, keberanian menyampaikan pendapat, percaya pada diri sendiri, dan yakin bahwa mereka bisa membawa perubahan.”
Yang menarik, perpaduan busana dan instalasi seni interaktif anak ini menjadikan butik sebagai ruang eksplorasi alih-alih etalase pasif. Anak yang memakai koleksi bertema kota lalu memasuki instalasi kota imajiner mendapatkan pengalaman yang konsisten: mereka dilihat sebagai individu dengan aspirasi, bukan sekadar target penjualan. Bimbi menghadirkan perpaduan antara luxury fashion, seni, dan ruang edukatif yang interaktif sehingga orang tua dapat berbelanja dengan nyaman sementara anak bebas berkreasi. Ini adalah pengalaman edukatif keluarga yang halus namun kuat: lewat pakaian dan permainan, anak belajar membayangkan peran mereka di dunia dan merayakannya secara visual di dinding kota.
Aktivitas Kreatif Keluarga: Dari Mal Menjadi Studio Kota Anak
Jika dulu mal identik dengan hiburan pasif, Boss in the City menunjukkan tren baru aktivitas kreatif keluarga: belanja menyatu dengan seni dan pengalaman interaktif. Orang tua tidak hanya mengantar anak bermain di arena terpisah; mereka hadir di ruang yang sama, menyaksikan proses anak memilih avatar, menentukan peran, dan menempelkan diri mereka di sudut kota favorit. Momen ini mengubah waktu keluarga dari sekadar berjalan-jalan menjadi kesempatan membicarakan mimpi dan masa depan: “Kamu mau jadi arsitek? Kalau begitu, kamu taruh dirimu dekat taman atau sekolah?”
Instalasi yang terbuka untuk umum hingga 20 September 2026 di butik Bimbi Group Pacific Place Jakarta ini memberikan platform bagi anak untuk bermimpi, berekspresi, dan belajar tentang ruang publik dalam format yang mereka kuasai: bermain dan menggambar. Bagi keluarga perkotaan, ini adalah alternatif berharga dari aktivitas konsumtif murni. Di tengah rutinitas dan kepadatan kota, mereka menemukan “studio kota” kecil tempat suara anak didengar lewat warna dan stiker. Tren seperti ini patut didorong, karena mengajarkan bahwa kota terbaik bukan sekadar megah, melainkan kota yang membuka tempat bagi imajinasi warganya yang paling muda.
Kesimpulan: Kota Impian Dimulai dari Dinding Kecil di Pacific Place
Boss in the City membuktikan bahwa instalasi seni interaktif anak dapat mengubah cara keluarga memaknai waktu bersama: dari aktivitas konsumsi menjadi pengalaman edukatif keluarga yang menyalakan imajinasi dan rasa memiliki terhadap kota. Kolaborasi Adi Sundoro dan Bimbi Group menjadikan butik sebagai ruang bermain edukatif, di mana seni dan fashion bukan dua dunia terpisah, melainkan bahasa yang digunakan anak untuk bercerita tentang dirinya dan lingkungan yang ia impikan.
Pada akhirnya, nilai utama kegiatan ini bukan pada keindahan visual semata, tetapi pada fakta bahwa anak diberi hak untuk merancang kotanya sendiri—walau dimulai dari selembar stiker di dinding mall. Ketika keluarga memilih aktivitas kreatif keluarga seperti ini, mereka sedang mengirim pesan penting: suara anak layak hadir dalam percakapan tentang masa depan kota. Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, arsitek, seniman, dan perancang kebijakan kota yang berani akan mengingat bahwa semua bermula dari avatar kecil mereka di Boss in the City.






