Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pemula Lari Sering Cedera? Ini Penjelasan Dokter dan Cara Mencegahnya

Pemula Lari Sering Cedera? Ini Penjelasan Dokter dan Cara Mencegahnya
Minat|Olahraga untuk Kesehatan

Cedera Lari Pemula: Masalah Bukan pada Larinya, Tapi Cara Memulainya

Cedera lari pemula adalah kondisi ketika orang yang baru mulai berlari mengalami gangguan pada otot, sendi, atau jaringan penopang akibat peningkatan jarak, intensitas, atau frekuensi latihan yang terlalu cepat sebelum tubuh sempat beradaptasi, sehingga muncul nyeri saat berlari, kram, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas dan bisa memaksa berhenti berolahraga. Olahraga lari memang sedang naik daun dan sering dipilih untuk memulai hidup lebih aktif. Namun, tren ini datang dengan efek samping: banyak pemula cedera bukan karena lari itu berbahaya, melainkan karena cara memulainya keliru. Keinginan ikut lomba, mengejar jarak jauh, atau meniru jadwal latihan pelari yang lebih berpengalaman membuat peningkatan jarak lari berlangsung brutal, bukan bertahap. Jika pola ini tidak dikoreksi, pencegahan cedera lari akan selalu kalah oleh ambisi.

Ambisi Tanpa Adaptasi: Mengapa Tubuh Pemula Mudah Kalah oleh Beban Latihan

Dokter ortopedi Muhammad Abdulhamid menyoroti satu kesalahan klasik: pelari baru langsung mengejar target besar tanpa mengukur kesiapan tubuh. Ia mencontohkan pemula yang sebaiknya mulai dari jarak pendek, misalnya 2K, untuk menguji respons tubuh sebelum menambah beban. Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa cedera lari pemula lebih sering muncul akibat overuse, yaitu aktivitas berulang tanpa persiapan yang kuat, bukan karena terjatuh atau tersandung. Menurutnya, pelari yang biasa latihan sekali seminggu berisiko cedera bila tiba-tiba mengikuti pola orang yang berlari empat hingga lima kali seminggu. Kutipan yang layak diingat dari dr. Hamid: "Yang paling sering adalah cedera yang disebabkan karena dilakukan berulang-ulang tanpa preparasi yang kuat, jadi overuse". Intinya, tubuh belum siap, tapi beban latihan sudah seperti pelari berpengalaman.

Nyeri Saat Berlari: Sinyal Tubuh yang Sering Diabaikan Demi Garis Finis

Nyeri saat berlari sering dianggap harga yang harus dibayar demi progres. Itu pandangan berbahaya. Dalam podcast yang sama, dr. Hamid menjelaskan bahwa beban yang melebihi kemampuan tubuh dapat memicu kram hingga nyeri pada tungkai bawah. Nyeri bukan sekadar rasa tidak nyaman; ia adalah alarm bahwa pencegahan cedera lari sedang gagal. Ketika pemula memaksakan diri berlari berjam-jam atau menempuh jarak jauh tanpa adaptasi, risiko cedera lari pemula meningkat tajam. Dokter penyakit dalam Mustofa mengingatkan, jika muncul cedera atau keluhan serius, pelari harus segera berhenti dan tidak memaksakan diri demi mencapai garis finis. Sikap keras kepala terhadap nyeri membuat keluhan ringan berkembang menjadi cedera berat yang butuh waktu pemulihan lebih lama, bahkan bisa menghapus niat berlari sama sekali.

Strategi Dokter: Peningkatan Jarak Lari Bertahap, Bukan Lompatan Nekat

Kedua dokter sepakat: peningkatan jarak lari harus bertahap, bukan mengikuti ego atau tren. Tubuh memerlukan proses adaptasi terhadap beban berulang, dan ritme latihan wajib disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, bukan dengan pencapaian orang lain. Dr. Hamid menegaskan, jika belum waktunya berada di level intensitas tertentu, jangan dipaksakan. Sementara dr. Mustofa menyarankan pemula berlari 2–3 kali seminggu selama 30–40 menit, dengan jarak dan intensitas yang baru ditambah ketika tubuh mulai beradaptasi. Ia menyebut pendekatan penambahan beban sekitar 10 persen sebagai salah satu cara, tetapi peningkatan itu tidak wajib jika tubuh belum siap. Kutipan praktis darinya: "Bagi pemula, berlari sekitar dua hingga tiga kali seminggu dengan durasi sekitar 30–40 menit sudah cukup". Progres pelan yang konsisten jauh lebih aman daripada lompatan besar yang berujung cedera.

Tips Lari Aman: Sepatu Nyaman, Jadwal Teratur, dan Monitor Jantung

Jika tren lari ingin dinikmati jangka panjang, pemula wajib mengadopsi tips lari aman yang diajarkan dokter. Pertama, mulai dari intensitas ringan: 2–3 sesi per minggu, 30–40 menit, dengan peningkatan jarak lari dan intensitas dilakukan bertahap sesuai adaptasi tubuh. Kedua, gunakan sepatu yang nyaman dan sesuai, karena alas kaki yang tepat membantu mengurangi beban berulang pada sendi dan jaringan penopang. Ketiga, pemanasan dan pendinginan jangan dianggap opsional; keduanya penting untuk mendukung keamanan latihan dan pencegahan cedera lari. Keempat, pantau denyut jantung agar beban latihan tetap dalam batas aman, terutama bagi yang memiliki faktor risiko kesehatan. Terakhir, berikan waktu istirahat saat muncul keluhan; tubuh yang cedera butuh jeda agar nyeri saat berlari tidak berkembang menjadi masalah kronis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!