Motor keliling dunia sebagai misi hidup, bukan sekadar rekor jarak
Motor keliling dunia adalah bentuk wisata petualangan di mana seorang pengendara menjelajahi banyak negara dan benua dengan sepeda motor, menempuh ribuan kilometer seorang diri, sekaligus membawa misi personal seperti promosi pariwisata, persahabatan lintas budaya, atau pengibaran identitas bangsa di berbagai jalan raya dunia. Dalam sosok Ida Bagus Ngurah Wijaya, konsep jelajahi dunia motor itu menjelma menjadi kisah hidup utuh: 79 negara, 190 ribu kilometer, dan satu rider berusia 75 tahun yang menolak menjadikan usia sebagai alasan berhenti bermimpi. Inti kisahnya bukan angka jarak, melainkan keberanian mengambil jalan yang tidak umum bagi seorang tokoh pariwisata senior, lalu membagikannya kepada generasi traveler inspiratif yang datang sesudahnya.

Dari Segara Village ke horizon global: akar pariwisata Bali yang membentuk petualang
Sebelum dikenal lewat petualangan solo rider, IB Ngurah Wijaya adalah nama penting dalam sejarah pariwisata Bali. Orang tuanya mulai membangun hotel di Sanur pada 1956, yang kemudian berkembang menjadi Segara Village Hotel, salah satu pionir hospitality di kawasan tersebut. Dari keluarga inilah ia belajar bahwa wisata bukan sekadar industri, tetapi cara memperkenalkan budaya Bali ke dunia. Sejak muda ia menempuh pendidikan perhotelan dan pariwisata di Prancis dan Swiss, lalu pulang untuk mengelola hotel keluarga secara lebih profesional, tanpa meninggalkan karakter dan nilai kekeluargaan Bali sebagai akar usaha. Di sini tampak jelas: sebelum ia membawa motor keliling dunia, ia lebih dulu mempelajari bagaimana menerima tamu dari seluruh penjuru dunia. Petualangan globalnya lahir dari fondasi kuat sebagai pelaku wisata petualangan Bali yang memahami bahwa destinasi harus dijaga, bukan dieksploitasi.

World Solo Ride: Merah Putih, tiga motor, dan 190 ribu kilometer kesendirian
Petualangan solo rider IB Ngurah Wijaya dimulai ‘terlambat’ menurut standar umum: ia baru memulai touring motor keliling nusantara pada usia 69 tahun, lalu keluar negeri ketika berumur 73 tahun. Dari situ, jelajahi dunia motor menjadi fase hidup baru. Hingga usia 75, ia menjelajahi sekitar 79 negara dengan total 190.000 kilometer menggunakan tiga jenis sepeda motor yang disesuaikan dengan medan, jarak, dan musim perjalanan. Dalam setiap rute ia membawa Bendera Merah Putih dan pelat DK sebagai penanda dari mana ia datang. Kutipan yang layak diingat darinya adalah: “Dana pasti perlu, tetapi bukan faktor itu saja. Yang penting keberanian”. Pragmatis, tetapi tegas: uang bukan alasan utama untuk menunda mimpi. Ban pecah, kehabisan bahan bakar, gangguan di jalan — semua dihadapi seorang diri, menjadikan motor bukan sekadar alat transportasi, tetapi sahabat kesunyian dan simbol kebebasan.
Dua buku, satu pesan: usia bukan alasan berhenti menjelajah
Kisah panjang ini tidak dibiarkan menguap di ingatan. Ia merangkum perjalanan hidupnya dalam dua buku: “Menembus Horizon” dan “World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia”, yang diluncurkan di Taman Jepun Cafe & Resto pada Jumat sore, 11 September 2026. Menembus Horizon mengisahkan sisi personal: keluarga, pendidikan, hospitality, keterlibatannya membangun pariwisata Bali dari era awal hingga menjadi Chairman Bali Tourism Board yang menggalang kolaborasi pelaku industri, pemerintah, masyarakat, dan media untuk menguatkan Bali sebagai destinasi internasional. World Solo Ride, sebaliknya, membawa pembaca menyusuri Asia, Eropa, Amerika, Afrika hingga Australia bersama satu rider, satu motor, dan Merah Putih di bagasi. Di balik catatan rute, buku ini berbicara tentang keberanian, ketahanan, kebebasan, dan kemampuan menghadapi situasi tak terduga seorang diri di negeri asing.
Menginspirasi traveler baru dan mengkritik pariwisata yang kelewat bising
Dari Bali, ia menjelajah dunia; dari dunia, ia kembali ke Bali dengan perspektif yang lebih tajam. Dua bukunya menjadi dokumentasi seorang traveler inspiratif yang tidak hanya menyaksikan perubahan zaman, tetapi ikut mengambil bagian di dalamnya dan terus mencari horizon baru di setiap fase hidup. Namun, ia tidak menelan bulat-bulat narasi ‘pertumbuhan’ pariwisata. Di tengah laju pembangunan, ia menyebut perkembangan pariwisata Bali “terlalu eksesif” dan menyoroti hilangnya jalur hijau, berkurangnya water table dan ketersediaan air, kemacetan, serta turunnya kenyamanan wisatawan. Kritik ini penting bagi generasi baru yang tertarik pada wisata petualangan Bali: jangan hanya berburu konten motor keliling dunia, tapi juga peduli pada keberlanjutan destinasi. Pada akhirnya, World Solo Ride menjadi refleksi keyakinan sederhana: usia bukan alasan berhenti belajar dan bergerak, dan perjalanan baru punya makna ketika pengalaman itu dibagikan kepada generasi berikutnya.






