GT NX Series: Ambisi Menyulap Ponsel Jadi Konsol Sejutaan
Infinix GT NX Series adalah ekosistem aksesori gaming mobile yang terdiri dari GT NX Controller dan GT NX Station, dirancang untuk mengubah smartphone menjadi konsol portabel berkinerja tinggi atau setup gaming layar besar dengan kontrol fisik presisi dan pendinginan aktif, tetapi tetap berada di kisaran harga sejutaan rupiah agar terjangkau bagi gamer casual hingga mid-core. Infinix resmi merilis kedua perangkat ini dengan semangat “Gaming Knows No Limits”, memperluas ekosistem GT Verse dan mengincar pengguna yang bosan terjebak di kontrol layar sentuh namun belum siap membeli konsol khusus. Secara konsep, ini langkah agresif: menyatukan controller gaming mobile dengan aksesori gaming presisi dan dock gaming 9-in-1 yang memakai pendingin TEC mobile untuk menantang paradigma bahwa mobile gaming selalu identik dengan kompromi.
Menurut Tommy Xiong, kombinasi GT NX Controller dan GT NX Station ditujukan sebagai “solusi all-in-one yang praktis” bagi gamer yang ingin fleksibilitas bermain di layar ponsel maupun layar besar tanpa biaya tinggi. Strategi ini terasa logis melihat perkembangan mobile gaming yang menjadikan ponsel sebagai perangkat utama menyimpan berbagai judul gim favorit. Pertanyaannya: apakah fitur yang ditawarkan memang relevan untuk permainan sehari-hari, atau sekadar gimmick pemasaran di tengah tren aksesori gaming yang makin ramai?
GT NX Controller: Touchpad Presisi ala Mouse, Bukan Sekadar Gamepad Biasa
Nilai jual utama Infinix GT NX Controller ada pada Pixel-Level FPS Precision Touchpad, yang diklaim sebagai touchpad pertama di dunia pada controller gaming mobile yang meniru akurasi mouse untuk game FPS. Ini solusi yang masuk akal: kendala terbesar gamer FPS di ponsel adalah bidikan yang kurang presisi dengan jempol di layar. Dengan touchpad ini, kontrol kamera dan aiming tidak lagi bergantung pada panel sentuh bawaan game, tetapi pada area input yang dirancang khusus untuk gerakan halus dan flick shot cepat.
Controller gaming mobile ini juga dipersenjatai arsitektur tiga cip berlatensi rendah yang menjanjikan Millisecond-Level Direct Connect, mengurangi lag yang kerap membuat pemain kalah duel meski koneksi internet stabil. Baterai yang mampu bertahan lebih dari 22 jam mempertegas bahwa perangkat ini bukan aksesori “pajangan”, melainkan gear yang siap menemani sesi ranked panjang tanpa harus rajin isi daya. Ditambah FPS Tactical Haptics Sync yang menyelaraskan getaran dengan momen in-game—dari terjun payung hingga safe zone menyusut—GT NX Controller terasa dirancang dengan memahami bahasa gamer, bukan sekadar menambah tombol.
GT NX Station: Dock Gaming 9-in-1 dengan Pendingin TEC, Serius Lawan Throttling
Jika GT NX Controller menyasar kontrol, GT NX Station menyasar masalah klasik lain: panas dan keterbatasan port. Station ini adalah dock gaming 9-in-1 yang diklaim sebagai docking station pertama dengan modul pendingin TEC (Thermoelectric Cooling) terintegrasi, bertugas menjaga suhu ponsel tetap rendah agar performa grafis stabil dan tidak mudah throttling. Ini langkah berani, karena sebagian besar dock hanya berperan sebagai adapter port tanpa memperhatikan termal, padahal panas adalah musuh utama sesi grinding panjang.
Dari sisi konektivitas, GT NX Station terasa ambisius: HDMI, RJ45 Ethernet, dua USB-A, beberapa port USB-C termasuk pass-through charging, slot microSD, hingga jack audio 3,5 mm. Inilah inti kompatibilitas lintas perangkat yang menarik: satu dock gaming 9-in-1 untuk menghubungkan ponsel ke monitor atau TV, keyboard, mouse, headset, dan jaringan kabel sekaligus. Dengan fitur Universal Extend, gamer bisa memindahkan tampilan game ke layar besar lewat HDMI sambil tetap memakai layar ponsel untuk chat atau membuka panduan strategi. Bagi gamer mid-core yang ingin rasa konsol dari ponsel, kombinasi pendingin TEC mobile dan port lengkap ini menawarkan lompatan kenyamanan yang signifikan.
Harga Sejutaan, Kolaborasi Blood Strike, dan Target Gamer Mid-Core
Secara harga, Infinix menempatkan GT NX Series di segmen sejutaan rupiah: GT NX Controller dibanderol Rp999.000, sedangkan GT NX Station Rp1.099.000. Selama periode promo, harga bahkan diturunkan menjadi Rp899.000 untuk Controller dan Rp999.000 untuk Station, menguatkan posisi sebagai opsi yang jauh lebih terjangkau dibanding membeli konsol khusus. Ini jelas menyasar gamer casual hingga mid-core yang sudah menghabiskan banyak waktu di mobile gaming, tetapi belum ingin lompat ke ekosistem konsol atau PC mahal.
Kerja sama dengan game FPS Blood Strike menjadi sinyal bahwa Infinix tidak sekadar menjual perangkat, tetapi mencoba membangun mobile gaming ecosystem yang dioptimalkan dari sisi hardware dan software. Kolaborasi ini diklaim membantu mengoptimalkan keakuratan bidikan, konektivitas bebas hambatan, dan imersi saat bermain di layar eksternal. Dukungan untuk perangkat iOS dan Android hingga lebar 81,7 mm dan tebal 11,8 mm memperluas pasar, sementara pengguna ponsel Infinix mendapat keuntungan tambahan melalui pembaruan OTA bertahap dari September sampai Desember 2026 untuk memaksimalkan Mapping Mode dan integrasi Station di berbagai seri GT, NOTE, HOT, dan ZERO.
Apakah GT NX Series Layak untuk Gamer Mobile Sehari-hari?
Dilihat dari konsep, Infinix GT NX Controller dan GT NX Station menempati ruang menarik: keduanya mengisi celah di antara aksesori murah seadanya dan setup konsol/PC mahal. Untuk gamer yang menghabiskan waktu di FPS dan MOBA mobile, Pixel-Level FPS Precision Touchpad, latensi tingkat milidetik, dan baterai 22 jam adalah kombinasi yang terasa relevan, bukan sekadar daftar fitur di brosur.
Di sisi lain, dock gaming 9-in-1 dengan pendingin TEC mobile dan port lengkap membuat ponsel berubah dari sekadar perangkat layar kecil menjadi pusat gaming yang fleksibel untuk layar besar, jaringan kabel, dan aksesori kabel lainnya. Tentu, ada kompromi: ekosistem ini paling masuk akal untuk pengguna yang mau berinvestasi di dua aksesori sekaligus dan punya game yang bisa memanfaatkan kontrol presisi. Namun jika tolok ukurnya adalah value, GT NX Series berhasil menawarkan rasa “konsol” di dunia mobile tanpa menghancurkan dompet. Bagi gamer casual hingga mid-core, ini bukan lagi soal bisa main atau tidak, melainkan seberapa nyaman dan kompetitif ingin bermain.






