Ekspor Makanan Melonjak: Mesin Baru Manufaktur
Ekspor makanan Indonesia adalah seluruh aktivitas penjualan produk pangan olahan dan minuman, dari minyak nabati hingga makanan beku, yang diproduksi industri dalam negeri lalu dikirim ke pasar luar negeri sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan sektor manufaktur dan perekonomian secara keseluruhan. Industri makanan dan minuman tercatat tetap tumbuh 3,68% pada kuartal II 2022 meski dihantam pandemi, naik dari 2,95% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik; ini sinyal bahwa industri pangan nasional telah menjadi mesin utama sektor pengolahan, menyumbang 38,38% terhadap PDB industri nonmigas dan menjadi subsektor dengan kontribusi terbesar.
Lebih jauh, kinerja ekspor makanan Indonesia dalam enam bulan pertama 2022 menembus nilai yang membuat banyak sektor lain tertinggal, meningkat sekitar 9% dibanding periode tahun sebelumnya. Di sisi lain, subsektor industri pangan juga tercatat menyumbang ekspor hingga USD21,35 miliar dan menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD12,95 miliar. Kutipan yang layak digarisbawahi: “Industri makanan dan minuman merupakan salah satu mesin pertumbuhan sektor manufaktur dan perekonomian nasional”. Artinya, bila sektor ini terguncang, dampaknya akan menjalar ke seluruh struktur manufaktur.

Diversifikasi Produk Pangan: Dari Komoditas ke Merek Bernilai Tinggi
Pertumbuhan ekspor tidak akan berumur panjang bila industri pangan nasional hanya mengandalkan komoditas mentah dan produk generik. Di sinilah diversifikasi produk pangan menjadi kunci. Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, menyatakan tekad untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang di semua level, dari nasional hingga perseorangan. Tekad ini tidak hanya soal ketahanan pangan domestik, tetapi juga fondasi reputasi di pasar ekspor yang kian sensitif terhadap isu mutu dan gizi.
Kemenperin mendorong diversifikasi produk olahan berbasis kekayaan hayati lokal: tepung singkong, porang, sorgum, sagu, ganyong, hanjeli, hotong, pisang, sukun, talas, ubi jalar, dan banyak lagi. Contoh konkret adalah transformasi tepung porang menjadi mi dan beras shirataki, produk yang bernilai jual jauh di atas bahan mentah. Melalui pendekatan sentra IKM pangan, pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas di daerah penghasil, memperkuat branding, meningkatkan kemasan, sistem mutu, manajemen usaha, hingga traceability dengan dukungan teknologi industri 4.0. Strategi ini menunjukkan pergeseran penting: dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen merek global.
Tekanan Jepang dan Korea Selatan: Alarm bagi Strategi Ekspor
Sementara ekspor makanan Indonesia naik, panggung Asia tidak sepi pesaing. Produk pertanian, kehutanan, perikanan, dan makanan asal Jepang yang masuk ke pasar domestik mencapai 17,3 miliar yen atau sekitar Rp1,95 triliun, tumbuh 35,5% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan hanya catatan dagang, melainkan alarm: pasar lokal dibanjiri produk impor bernilai tinggi, sementara di level regional persaingan ekspor juga kian tajam. Jepang sendiri menghadapi persaingan ketat dari merek makanan Korea Selatan dan China di kawasan tersebut.
Survei yang dikutip menunjukkan bahwa di Bangkok, pengalaman membeli makanan instan Jepang dan Korea Selatan sudah hampir seimbang. Bahkan di Jakarta dan Ho Chi Minh City, lebih banyak responden mengaku pernah membeli produk Korea Selatan ketimbang Jepang. Artinya, narasi persaingan ekspor regional tidak lagi sebatas soal harga dan kualitas; ia meluas ke ranah budaya populer, gaya hidup, dan strategi pemasaran. Jepang sendiri disarankan memanfaatkan anime, pariwisata, dan media sosial untuk menguatkan hubungan dengan konsumen. Jika Jepang dan Korea Selatan bergerak agresif di lapisan emosional konsumen, ekspor makanan Indonesia tidak bisa bertahan dengan pendekatan produk yang dingin dan generik.
Strategi Bertahan: Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Branding yang Tajam
Pemerintah jelas menyadari bahwa keberhasilan ekspor makanan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari fondasi domestik yang kuat. Komitmen untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pangan yang aman, bermutu, dan bergizi seimbang sudah ditegaskan sebagai implementasi amanat Undang-Undang Pangan. Di tengah ancaman krisis pangan dunia, peningkatan kinerja subsektor pangan dianggap patut disyukuri, tetapi sekaligus harus dipertahankan dan ditingkatkan dengan kewaspadaan.
Langkah lanjutan terlihat dari perpaduan kebijakan fiskal dan nonfiskal untuk memperkuat industri mamin, termasuk usulan insentif seperti tax holiday, tax allowance, super tax deduction, dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah untuk mendorong investasi, penguasaan teknologi, dan penguatan struktur industri. Di level IKM, Kemenperin membentuk ekosistem sentra yang memadukan pelaku usaha, sektor hulu, pemasaran, dan pengurus lokal, lalu memperluas akses pasar melalui link and match antara IKM, eksportir, industri besar, ritel, dan Horeka. Tanpa keberlanjutan kebijakan ini, ekspor hanya akan menjadi ledakan sesaat, bukan tren jangka panjang.
Kesimpulan: Dari Juara Volume ke Juara Nilai
Ekspor makanan Indonesia yang menembus lebih dari USD21,3 miliar menunjukkan bahwa industri ini sudah berdiri di panggung utama manufaktur. Namun, angka besar tidak otomatis berarti posisi aman. Tekanan ekspor produk Jepang yang tumbuh 35,5% ke pasar domestik, ditambah agresivitas Korea Selatan dan China di kawasan, menunjukkan bahwa persaingan ekspor regional kini bergerak cepat dan menyentuh ranah budaya serta gaya hidup konsumen.
Jika ingin bertahan dan menang, strategi ke depan harus jelas: memperdalam diversifikasi produk pangan berbasis kekayaan hayati lokal, memperkuat industrialisasi melalui insentif dan teknologi, dan mengembangkan branding yang berani serta dekat dengan konsumen global. Fokus pada ketersediaan, keterjangkauan, dan mutu pangan bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi tiket masuk ke pasar ekspor yang lebih luas. Saatnya bergeser dari sekadar juara volume menjadi juara nilai, dengan ekspor makanan Indonesia yang tidak hanya laris, tetapi juga melekat di ingatan konsumen Asia dan dunia.






