Halal sebagai pengalaman, bukan sekadar label
Kosmetik halal adalah produk kecantikan yang memenuhi ketentuan halal sekaligus mencerminkan nilai tanggung jawab dalam bahan, proses pembuatan, dan pengalaman pemakaiannya. Gagasan ini menjadi inti pendekatan ParagonCorp saat memaparkan strategi membangun ekosistem kosmetik halal di BeautyMatter NEXT50 Summit 2026, Los Angeles, Amerika Serikat. Wakil CEO sekaligus Kepala Riset dan Pengembangan ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, menyampaikan bahwa sertifikasi merupakan persyaratan teknis penting, tetapi belum cukup untuk membangun kepercayaan. Produk juga perlu sesuai dengan keseharian konsumen, termasuk ketika beribadah dan berwudhu, sementara merek harus konsisten menjalankan nilai yang dijanjikan. Sudut pandang ini lebih menuntut daripada menempelkan klaim pada kemasan: ia menguji apakah janji merek tetap terasa setelah produk dibeli dan digunakan.
Nilai halal harus tampak dalam cara berbisnis
Pesan ParagonCorp di forum tersebut tegas: halal tidak berhenti pada daftar bahan. Nilainya perlu terlihat dalam pemilihan bahan baku, riset, produksi, hingga kontribusi kepada masyarakat. Sari menekankan, “Halal bukan hanya soal bahan yang digunakan, tetapi juga bagaimana produk dibuat dan bagaimana bisnis dijalankan.” Penekanan ini penting karena kepercayaan tak bisa dibangun oleh label saja; konsumen menilainya melalui kualitas produk, proses pembuatannya, dan perilaku perusahaan dari waktu ke waktu. Pengalaman Wardah, yang hadir sejak 1995 dengan komitmen pada kosmetik halal serta perhatian terhadap kualitas dan proses produksi, menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dengan mengaitkan halal pada kejujuran, pilihan sadar, tanggung jawab, dan keberlanjutan, ParagonCorp menempatkannya sebagai prinsip operasional, bukan sekadar pembeda pemasaran.
Memahami konsumen di pasar yang beragam
Pendekatan consumer-first ParagonCorp berangkat dari kenyataan bahwa perempuan Muslim bukan satu kelompok dengan kebutuhan seragam. Keyakinan dapat sama, tetapi latar belakang, rutinitas, cara berpakaian, pilihan berhijab, dan ekspresi kecantikan berbeda di tiap komunitas. Karena itu, relevansi lintas pasar tidak bisa dibangun dengan satu gambaran konsumen atau satu formula produk. Merek perlu mendengar perempuan dan memastikan representasi yang ditampilkan tidak membuat mereka merasa asing terhadap merek tersebut. Perjalanan konsumen pun melintasi pembuat konten media sosial, pengalaman mencoba produk secara langsung, acara luring, dan pembelian digital. Kini, rekomendasi kecerdasan buatan menambah titik temu baru, sehingga informasi merek di berbagai kanal ikut membentuk pengalaman konsumen. Strategi ini masuk akal: menjaga konsistensi di setiap titik interaksi sama pentingnya dengan mengenali siapa yang dilayani.
Ekosistem terintegrasi menjadi modal utama
ParagonCorp membangun ekosistem kosmetik selama lebih dari 40 tahun dengan menghubungkan pemahaman konsumen, riset dan pengembangan, manufaktur, distribusi, serta kanal yang menjangkau konsumen secara langsung. Ekosistem tersebut menaungi 15 merek dan didukung lebih dari 200 peneliti. Skala ini menunjukkan bahwa klaim consumer-first membutuhkan kerja lintas fungsi: masukan konsumen harus dapat memengaruhi riset, produk, dan cara merek hadir di pasar. Kontribusi sosial juga menjadi bagian dari ukuran manfaat bisnis. Program Wardah Inspiring Teacher, yang dimulai pada 2017, telah menjangkau lebih dari 36.000 guru dan mendukung perkembangan mereka serta lingkungan belajar. Paparan di BeautyMatter NEXT50 Summit memperlihatkan upaya membawa pengalaman tersebut ke percakapan global sekaligus membangun relevansi di berbagai pasar. Pada akhirnya, keunggulan kosmetik halal tidak ditentukan oleh label saja, melainkan oleh konsistensi nilai dalam produk dan praktik perusahaan.






