Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengikuti Tren Olahraga Tanpa Persiapan, Resep Cedera Massal

Mengikuti Tren Olahraga Tanpa Persiapan, Resep Cedera Massal
Minat|Olahraga untuk Kesehatan

Demam Tren Olahraga: Sehat di Timeline, Cedera di Lapangan

Mengikuti tren olahraga tanpa penilaian kondisi tubuh terlebih dahulu adalah praktik ketika seseorang melihat latihan populer di media sosial—seperti HIIT, padel, atau kelas intensif lain—lalu menirukannya dengan intensitas yang sama tanpa cek kesehatan, tanpa pemanasan memadai, dan tanpa mempertimbangkan usia, berat badan, serta kemampuan gerak, sehingga risiko pencegahan cedera olahraga gagal dan cedera meningkat drastis. Tren olahraga terus bermunculan di media sosial dan menarik perhatian banyak orang, khususnya anak muda. Konten latihan yang tampak seru membuat orang tertarik menyalin gerakan seolah semua tubuh punya kemampuan yang sama. Di balik citra “fit” yang dibangun di kamera, ada fenomena baru: cedera yang lahir karena ego dan FOMO, bukan karena kebutuhan kesehatan. Pertanyaannya bukan lagi, "olahraga apa yang sedang hits?" melainkan, "tubuh saya sanggup apa?"

Setiap Tubuh Berbeda: Mengapa Asal Ikut Tren Jadi Berbahaya

Inti masalah tren olahraga berbahaya adalah asumsi keliru bahwa semua orang bisa mengeksekusi latihan viral dengan standar yang sama. Fitness Development Trainer Celebrity Fitness, Ahmad Dimyathi, menegaskan pentingnya mengetahui kondisi tubuh sebelum menentukan aktivitas olahraga yang ingin dilakukan. Ia mengkritik kebiasaan mengikuti tren di media sosial tanpa cek kesehatan dan assessment fitness level terlebih dahulu. Bahkan pada kembar identik, ia mengingatkan bahwa kondisi fisik mereka tetap berbeda. Memaksakan gerakan yang belum dikuasai atau belum cocok dengan kualitas gerak seseorang bisa berisiko cedera. Di sini, pencegahan cedera olahraga bukan soal memakai sepatu mahal, tetapi soal kejujuran mengakui kapasitas tubuh sendiri. Latihan aman untuk pemula mestinya dimulai dari penilaian jujur: apa yang bisa dilakukan hari ini, bukan apa yang sedang ngetren di linimasa.

Pemanasan yang Dianggap Sepele, Padahal Penjaga Utama Sendi dan Otot

Kita suka membahas nama kelas dan jenis workout, tetapi sering melewatkan satu ritual sederhana: pemanasan. Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi RSU Unmuh Jember, dr. Dwiyanto Oktavia, menyebut tidak melakukan pemanasan sebagai kesalahan yang kerap terjadi saat berolahraga. Ia menjelaskan bahwa pemanasan berupa peregangan otot diperlukan untuk mengondisikan otot dan tulang agar tidak kaget menerima aktivitas. Tubuh diibaratkan mesin yang harus dipanaskan sebelum dipacu ke kecepatan tinggi. Mengabaikan pemanasan membuat latihan intensif—seperti lari cepat, HIIT Tabata, atau kelas berintensitas tinggi—berubah dari upaya sehat menjadi tren olahraga berbahaya. Di era konten 15 detik, orang ingin cepat berkeringat tanpa mau menyediakan lima menit untuk menggerakkan sendi perlahan. Sikap terburu-buru inilah yang diam-diam mengundang cedera ligamen, nyeri lutut, dan masalah otot yang sebenarnya bisa dicegah.

Overuse Injury: Ketika Ambisi Olahraga Melampaui Batas Tubuh

Cedera bukan hanya terjadi pada gerakan yang salah, tetapi juga pada gerakan yang benar namun dilakukan secara berlebihan. Dwiyanto mengingatkan bahwa penggunaan tubuh secara berlebihan atau overuse perlu dihindari. Pesannya jelas: “Tahui batasan diri, bukan lampaui batasannya”. Overuse injury lahir ketika orang memaksa frekuensi, durasi, atau beban latihan demi mengejar target atau trend challenge, bukan demi kesehatan jangka panjang. Masyarakat diminta mengenali kemampuan masing-masing ketika memilih jenis maupun intensitas olahraga. Pada berat badan berlebih, misalnya, ia menyarankan Japanese walking atau jalan cepat sebagai pilihan, serta bersepeda karena tumpuan tubuh berada pada saddle, bukan lutut yang menanggung beban penuh seperti saat lari. Saran ini bukan untuk memanjakan kemalasan, tetapi strategi latihan aman untuk pemula dan mereka yang rentan cedera.

Usia, Pilihan Olahraga, dan Sikap Sehat terhadap Tren

Satu kesalahan umum adalah menganggap tren olahraga berlaku seragam di semua usia. Dwiyanto membedakan pilihan olahraga berdasarkan usia: untuk rentang 0–30 tahun, berbagai jenis olahraga masih mungkin dilakukan selama tidak terjadi overuse dan pemanasan tidak ditinggalkan. Sementara usia 30 tahun ke atas, ia menilai olahraga tanpa beban berat sebagai pilihan ideal, seperti bersepeda, berenang, dan nge-gym dengan beban yang tidak berat. Dalam konteks pencegahan cedera olahraga, sikap sehat terhadap tren berarti berani menyaring: mana latihan yang sesuai fase hidup, mana yang hanya memicu ego. Latihan aman untuk pemula dan untuk mereka di usia lebih matang bukan berarti membosankan, tetapi disesuaikan agar sendi, tulang, dan otot tetap terjaga. Pada akhirnya, tren boleh diikuti, tetapi keputusan akhir harus tunduk pada satu hal: batas tubuh yang kita kenali dan hormati.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!