Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Doom Spending Gen Z: Belanja Impulsif di Tengah Timeline Suram

Doom Spending Gen Z: Belanja Impulsif di Tengah Timeline Suram
Minat|Kesehatan Mental

Doom Spending: Saat Kecemasan Digital Menyamar Jadi Diskon

Doom spending Gen Z adalah pola belanja impulsif yang muncul setelah doomscrolling, ketika seseorang terus menggulir berita buruk dan konten negatif di media sosial, merasa cemas dan kewalahan, lalu mengklik tombol checkout sebagai pelarian cepat dari rasa takut dan ketidakpastian tentang masa depan finansial dan hidupnya.

Mahasiswa dan anak muda hidup di dua dunia sekaligus: kampus yang penuh tuntutan dan feed digital yang tidak pernah berhenti menyajikan krisis ekonomi, ketidakpastian karier, hingga gaya hidup mewah orang lain. Kombinasi ini menciptakan tekanan psikologis yang berat. Doomscrolling kesehatan mental tidak hanya menguras energi emosional, tetapi juga mulai menggeser cara Gen Z mengambil keputusan finansial: dari rasional menjadi reaktif. Saat stres kronis menumpuk, otak mencari coping mechanism digital yang instan. Di sinilah belanja impulsif anxiety muncul: “klik beli” terasa lebih mudah dibanding duduk diam menghadapi rasa takut akan masa depan.

Siklus Jahat: Berita Buruk → Cemas → Checkout → Menyesal

Doomscrolling mengisi kepala dengan berita buruk, krisis, dan standar hidup yang tampak tak terjangkau. Dari sini, kecemasan tumbuh: takut tertinggal, takut gagal, takut tak akan mampu menghadapi masa depan. Alih-alih memproses rasa ini, banyak Gen Z memilih belanja sebagai pelarian jangka pendek. Doom spending pun terjadi: belanja impulsif tanpa menghitung efek keuangan jangka panjang, demi sedikit dopamine yang terasa seperti napas lega sementara.

Masalahnya, pelarian ini menciptakan siklus negatif yang nyaris sempurna: berita buruk memicu anxiety, anxiety memicu belanja impulsif, belanja melahirkan rasa bersalah dan krisis finansial, lalu beban baru ini mendorong lebih banyak doomscrolling. Mahasiswa yang terjebak melaporkan konsentrasi akademik menurun karena beban finansial yang menumpuk, menambahkan lapisan kecemasan baru ke dalam hidup mereka. Dalam siklus ini, setiap transaksi bukan sekadar pembelian barang, melainkan penundaan menghadapi masalah emosional yang sesungguhnya.

Media Sosial, Tidur yang Hilang, dan Otak yang Lelah Berhitung

Doom spending Gen Z tidak lahir di ruang hampa; ia tumbuh di ekosistem media sosial yang merusak ritme hidup pelakunya. Penggunaan media sosial yang tinggi, terutama di malam hari, berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk, harga diri yang lebih rendah, serta tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada remaja. Ketika tidur terganggu dan otak kelelahan, kemampuan menilai risiko dan mengendalikan impuls juga ikut menurun.

Penelitian terhadap 467 remaja menunjukkan hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan turunnya kualitas tidur serta naiknya kecemasan dan depresi. Pada saat yang sama, rasa FOMO membuat Gen Z merasa wajib terus terhubung dengan unggahan dan tren terbaru, mengorbankan waktu istirahat dan interaksi langsung. Dalam kondisi mental seperti ini, tawaran paylater, dompet digital, dan kemudahan transaksi dalam hitungan detik ibarat jebakan yang sudah disiapkan rapi. Begitu notifikasi promo muncul di tengah scroll yang cemas, rasionalitas finansial sering kalah cepat dari satu ketukan jari.

Belanja sebagai Coping Mechanism Digital: Pelarian yang Mahal

Belanja impulsif anxiety adalah bentuk coping mechanism digital yang tampak modern, tetapi logikanya kuno: lari dari rasa sakit, cari kesenangan instan. Bedanya, pelariannya kini dibungkus fitur “checkout” dan “bayar nanti”. Bagi banyak mahasiswa, logika nihilistik pun muncul: masa depan terasa makin mahal dan tak pasti, jadi untuk apa menabung? Lebih baik menikmati hidup sekarang.

Manifestasi doom spending Gen Z beragam: kopi kekinian setiap kali cemas mengerjakan tugas, pakaian baru demi mengejar micro-trends di TikTok, hingga checkout keranjang tengah malam untuk sedikit dopamine sebelum tidur. Belanja tidak lagi soal kebutuhan fisik, melainkan penawar rasa atas beban psikologis. Kepuasan ini singkat, dan segera digantikan oleh buyer’s remorse serta kekacauan saldo. Pada titik ini, doom spending bukan sekadar pemborosan, melainkan gejala krisis psikologis dan sosial di era digital.

Memutus Lingkaran: Digital Wellness dan Melek Finansial, Bukan Sekadar Ngehemat

Solusi atas doom spending Gen Z tidak cukup dengan nasihat “lebih hemat”. Akar masalahnya adalah hubungan yang sakit antara pikiran, layar, dan dompet. Dibutuhkan strategi digital wellness dan kesadaran finansial yang berjalan bersama. Membatasi paparan media sosial, membangun digital mindfulness, dan memilih pelarian yang lebih sehat adalah langkah pertama untuk memutus siklus berita buruk–belanja impulsif–rasa bersalah.

Sebuah penelitian terhadap 143 mahasiswa menunjukkan bahwa membatasi penggunaan Facebook, Instagram, dan Snapchat menjadi 10 menit per platform per hari selama tiga minggu menurunkan rasa kesepian dan gejala depresi dibanding kelompok yang memakai seperti biasa. Ini bukti konkret bahwa mengurangi waktu online berdampak nyata pada kesehatan mental. Gen Z bisa mulai dengan mengatur waktu penggunaan, mematikan notifikasi tak penting, memilih konten yang bermanfaat, dan menyisihkan waktu untuk olahraga, hobi, serta pertemuan langsung dengan orang dekat. Kontrol diri tidak ditemukan di tombol checkout, melainkan pada kemampuan mengelola emosi dan interaksi digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!