Co-Parenting Bukan Sekadar Rukun, Tapi Proyek Kesehatan Mental Anak
Co-parenting setelah perceraian adalah bentuk kerja sama terstruktur antara mantan pasangan untuk tetap berbagi tanggung jawab pengasuhan, menjaga komunikasi, dan menyusun kesepakatan yang konsisten demi stabilitas emosional anak, meski ikatan pernikahan sudah berakhir dan kehidupan pribadi masing-masing telah berubah.
Kasus Sule dan mantan istrinya, Nathalie Holscher, menunjukkan bahwa perceraian tidak otomatis menjadikan mantan pasangan musuh abadi; mereka memilih menjadi tim pengasuhan yang kompak untuk putra mereka, Adzam. Di tengah budaya gosip yang gemar mengabadikan konflik, keputusan ini bukan langkah manis-manisan, melainkan strategi sadar untuk melindungi kesehatan mental anak. Sule menegaskan, “Kalau misalkan kita berpisah itu tidak perlulah kita sampai bertengkar, apalagi ada anak”. Sikap ini menggeser fokus dari luka ego orang dewasa ke kebutuhan emosional anak. Co-parenting yang sehat, dengan mantan pasangan kerja sama, seharusnya menjadi standar minimum, bukan prestasi luar biasa.
Ketika Mantan Jadi ‘Bestie’: Model Kerja Sama yang Menenangkan Anak
Yang membuat publik terpukau bukan sekadar fakta bahwa Sule dan Nathalie tetap berhubungan baik, melainkan cara mereka tampil sebagai satu tim di ruang publik. Hubungan co-parenting mereka menuai banyak apresiasi warganet karena tetap kompak mengasuh Adzam meski rumah tangga sudah berakhir. Momen keduanya datang bersama ke sekolah untuk mengambil rapor, berdiri berdampingan, dan menyaksikan Adzam berlari memeluk ayahnya adalah gambaran konkret stabilitas emosional anak di tengah keluarga yang sudah bercerai.
Sule menyebut hubungan mereka kini santai bak sahabat, bahkan menyebut diri dan Nathalie sebagai “bestie” dalam membesarkan anak. Mantan pasangan kerja sama seperti ini mengirim pesan kuat kepada anak: meski struktur keluarga berubah, ia tetap dicintai dua orang tua yang hadir dan tidak saling menjatuhkan. Inilah pondasi stabilitas emosional anak yang sering hilang ketika perceraian berubah menjadi perang dingin berkepanjangan.

Jejak Digital: Medan Tempur Baru Kesehatan Mental Anak
Di era media sosial, perceraian orang tua tidak berhenti di ruang sidang; ia hidup selamanya dalam jejak digital. Sule secara sadar menolak mengumbar konflik saat proses perpisahan karena tahu “jejak digital akan terus bergulir”. Keputusan diam ini bukan soal menjaga citra, melainkan bentuk perlindungan jejak digital anak. Apa pun yang diucapkan hari ini bisa dibaca Adzam beberapa tahun lagi, tepat di masa ia mencari jati diri.
Sule mengaku langkah itu ia ambil demi membentengi kondisi psikologis anak di masa depan dan menegaskan, “Karena yang kita jaga adalah mental anak”. Di sini terlihat jelas: co-parenting setelah perceraian bukan hanya soal jadwal kunjungan, tetapi juga disiplin menahan diri di ruang publik. Orang tua yang saling serang di media sosial sedang menanam bom waktu di kepala anaknya sendiri. Perlindungan jejak digital anak adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kesehatan mental anak jangka panjang.
Kompak, Tapi Tidak Berlebihan: Menemukan Titik Seimbang Co-Parenting
Menariknya, Sule meminta publik tidak berlebihan memuji pola co-parenting yang ia jalani dengan Nathalie, karena menurutnya memang seharusnya orang tua bersikap demikian. Ini penting: co-parenting yang sehat tidak boleh diperlakukan sebagai keajaiban, melainkan kewajiban dasar. Namun di sisi lain, ada risiko baru: orang tua yang berusaha “terlalu sempurna” demi citra, lalu mengabaikan kebutuhan autentik anak.
Keseimbangan itu tampak ketika mereka menjaga komunikasi terbuka dan santai bak sahabat, tanpa drama, tapi juga tanpa teatrikal berlebihan. Kehadiran pasangan baru dalam hidup Nathalie tidak menghalangi Sule untuk tetap dekat dengan anak. Ini menunjukkan bahwa komitmen co-parenting tidak harus berubah menjadi pengasuhan posesif atau kompetitif. Fokusnya bukan siapa yang paling disayang anak, melainkan bagaimana stabilitas emosional anak terjaga di dua rumah yang berbeda.
Dari Kisah Publik ke Praktik Sehari-hari: Pelajaran untuk Orang Tua Bercerai
Harapan Sule jelas: pola co-parenting harmonis dan santai yang ia jalani bersama Nathalie bisa menjadi teladan positif bagi masyarakat luas. Bukan untuk diidolakan, tetapi untuk ditiru prinsip-prinsipnya. Co-parenting setelah perceraian yang kompak terbukti mampu melindungi kesehatan mental anak, terutama ketika orang tua menahan ego, menjaga jejak digital, dan menempatkan kebutuhan psikologis anak di atas drama pribadi.
Bagi orang tua yang bercerai, pelajarannya tegas. Pertama, berhenti menjadikan anak sebagai perpanjangan konflik. Kedua, jadikan mantan pasangan mitra kerja sama, bukan lawan abadi. Ketiga, ingat bahwa setiap kalimat di dunia maya bisa menjadi beban di kepala anak kelak. Praktik co-parenting yang sehat bukan hanya menyelamatkan satu anak, tetapi juga mengubah standar sosial: perceraian boleh menyakitkan, tetapi tidak wajib meninggalkan luka permanen pada generasi berikutnya.






