Tiga tekanan bertemu pada saat yang sama
Pasokan CPO adalah jumlah minyak sawit mentah yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan ekspor; ketika produksi turun sementara permintaan domestik naik, ruang bagi pembeli luar negeri menyempit. Inilah risiko yang kini membayangi industri sawit: El Niño, kewajiban B50, dan kebun rakyat yang belum cukup diremajakan datang bersamaan.
Dalam Indonesian Palm Oil Stakeholders Forum di Medan pada akhir Oktober, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono memperingatkan bahwa produksi selama enam tahun terakhir cenderung stagnan, berkisar 52 juta hingga 56 juta ton per tahun. Ia memperkirakan El Niño dapat memangkas produksi sawit Indonesia sekitar 2 juta hingga 3 juta ton pada 2027. Itu bukan sekadar gangguan cuaca sesaat: tanpa kenaikan produktivitas, industri akan kesulitan menjaga pasokan ketika kebutuhan energi turut bertambah.

B50 mempersempit ruang ekspor
Mandatori B50 secara penuh diproyeksikan membutuhkan 17,4 juta ton CPO pada 2027, menurut Eddy Martono. Kebutuhan sebesar itu menempatkan pasokan CPO B50 di tengah persaingan langsung dengan pangan dan ekspor. Mengutamakan kebutuhan domestik mungkin menjadi keputusan yang masuk akal, tetapi pemerintah tak seharusnya menganggap pasokan bahan baku akan tersedia tanpa batas.
Jika penurunan produksi akibat El Niño berbarengan dengan tambahan serapan biodiesel, ekspor CPO Indonesia berisiko menyusut hingga 5 juta ton. Dampaknya bukan hanya bagi pelaku perdagangan: pasokan yang lebih ketat dapat mengurangi pilihan pembeli dan menambah ketidakpastian bagi industri yang bergantung pada minyak sawit. Angka proyeksi ini bukan kepastian, tetapi cukup serius untuk menjadikan kesiapan pasokan bagian utama dari rencana B50, bukan urusan yang ditangani belakangan.
Peremajaan kebun rakyat tak bisa ditunda
Risiko iklim dan kebutuhan biodiesel menyoroti masalah yang lebih lama: produktivitas kebun yang stagnan dan tanaman tua. Kebun rakyat mencakup sekitar 41 persen dari luas perkebunan sawit, tetapi peremajaan kebun sawit baru mencapai 21 persen menurut angka yang dilaporkan dalam bahan sumber. Tanaman tua yang belum diganti menambah tekanan pada hasil panen, sehingga ancaman pasokan bukan semata perkara cuaca.
Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) harus menjadi prioritas nyata pemerintah dan pemangku kepentingan, bukan sekadar seruan. Mengganti tanaman yang kurang produktif dapat membantu meningkatkan hasil petani sekaligus memperkuat pasokan nasional. Namun peremajaan memerlukan pelaksanaan yang menjangkau petani dan kebun yang paling membutuhkan, sementara hasilnya tidak akan muncul seketika. Karena itu, persiapan menghadapi 2027 tetap harus memperhitungkan risiko penurunan produksi.
B50 perlu berjalan seiring dengan penguatan produksi
Kebijakan energi tidak boleh dibangun dengan asumsi bahwa produksi sawit akan otomatis mengejar permintaan. Sebelum B50 diterapkan penuh, pemerintah dan industri perlu menyelaraskan proyeksi pasokan, kebutuhan pangan, dan target ekspor, sekaligus mempercepat peremajaan kebun rakyat. Jika tidak, konsekuensi pengetatan pasokan akan ditanggung petani, industri hilir, dan pembeli di pasar ekspor.
Tantangan ini menuntut dua langkah yang berjalan bersamaan: mengantisipasi dampak El Niño dan meningkatkan produktivitas perkebunan, terutama kebun rakyat. Kesimpulannya, B50 tidak bisa dinilai hanya dari besarnya kebutuhan energi. Tanpa peremajaan yang lebih cepat dan rencana pasokan yang realistis, produksi yang stagnan dapat bertemu dengan penurunan akibat iklim—dan ekspor menjadi korban pertama.






