Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Inbound Mobility UNTAN-UNIMAS dan Lompatan Karir Mahasiswa

Program Inbound Mobility UNTAN-UNIMAS dan Lompatan Karir Mahasiswa
Minat|Asia Tenggara

Inbound Mobility: Dari Pertukaran Mahasiswa ke Aset Pembangunan Kota

Program inbound mobility adalah skema pertukaran mahasiswa lintas perguruan tinggi dan lintas negara yang dirancang bukan hanya sebagai kunjungan singkat, tetapi sebagai ruang intensif untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan gagasan sehingga menghasilkan wawasan baru bagi pengembangan akademik, karir, dan pembangunan daerah tuan rumah maupun daerah asal peserta. Program Inbound Mobility yang mempertemukan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) persis mengarah ke tujuan itu. Selama 27 September hingga 3 Oktober 2026, delegasi UNIMAS berada di Pontianak untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar mahasiswa dari dua negara jiran di Asia Tenggara. Ini bukan wisata akademik, melainkan eksperimen nyata bagaimana pertukaran mahasiswa Asia Tenggara bisa memberi manfaat langsung bagi kota yang dikunjungi.

Sekretaris Daerah Kota Pontianak, Amirullah, memberi garis tegas: program inbound mobility tidak boleh berhenti pada seremonial makan malam dan foto bersama. Ia mengajak mahasiswa UNTAN dan UNIMAS memanfaatkan ruang ini untuk bertukar ilmu, pengalaman, dan gagasan yang bisa dipakai membaca persoalan dan peluang pembangunan kota. Pesan itu penting, karena terlalu banyak program mobilitas akademik internasional yang berakhir pada kesan, bukan aksi. Jika mahasiswa hanya pulang dengan album foto, program gagal. Jika mereka pulang dengan ide yang bisa diterapkan pada pengelolaan kota, transformasi mulai terjadi.

Lebih dari Seremonial: Mahasiswa Dituntut Menghasilkan Gagasan Konkret

Ada sikap kritis yang layak diapresiasi dalam pernyataan Amirullah: ia menolak menjadikan inbound mobility sebagai agenda seremonial kosong. Ia menekankan bahwa pertemuan mahasiswa dan akademisi dari UNTAN dan UNIMAS harus melahirkan pengetahuan yang bisa digunakan untuk memahami persoalan dan melihat peluang pembangunan daerah. Kutipan yang paling lugas, dan layak dijadikan pengingat untuk setiap peserta, adalah kalimatnya: “Jangan hanya sekadar makan malam, tetapi harus ada ilmu yang kita peroleh dari kunjungan kawan-kawan dari Malaysia ini”.

Pesan itu mengandung kritik terhadap pola lama pertukaran mahasiswa yang cenderung berorientasi kunjungan. Program mobilitas akademik internasional terlalu sering diposisikan sebagai pengalaman pribadi, bukan tugas intelektual. Dalam kegiatan yang berlangsung beberapa hari di Pontianak ini, mahasiswa seharusnya memetakan praktik pengelolaan kota di Sarawak dan membandingkannya dengan Pontianak dan Kalimantan Barat. Dengan cara itu, pertukaran mahasiswa Asia Tenggara tidak berhenti pada “study tour”, tetapi menjadi laboratorium kebijakan mikro: bagaimana mengelola ruang kota, ekonomi lokal, dan pelayanan publik dengan perspektif lintas negara. Jika mahasiswa mampu pulang dengan rekomendasi kecil—misalnya tentang tata kelola UMKM atau transportasi—program inbound mobility membuktikan nilai praktisnya.

Mobilitas Akademik dan Tanggung Jawab Mahasiswa terhadap Daerah Asal

Menariknya, pemerintah kota tidak sekadar mendorong pertukaran gagasan; mereka juga mengingatkan tanggung jawab mahasiswa untuk mengembalikan ilmu ke daerah. Amirullah menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa UNTAN, terutama yang berasal dari Pontianak: bangun kotanya melalui ilmu yang dimiliki. Artinya, mobilitas akademik internasional dipandang bukan hanya sebagai jalan pembentukan karir individu, tetapi sebagai investasi daerah. Mahasiswa menjadi penghubung antara praktik pengelolaan kota di Sarawak dan realitas Pontianak, lalu menerjemahkannya ke dalam gagasan kebijakan atau inisiatif sosial yang lebih tepat konteks.

Poin ini penting untuk menyeimbangkan narasi karir global. Pertukaran mahasiswa Asia Tenggara memang membuka jaringan internasional, tetapi tanpa komitmen kembali ke daerah, mobilitas hanya memproduksi “brain drain” baru. Dengan menuntut mahasiswa membawa pulang wawasan dan ide baru yang bisa dikembangkan untuk kebutuhan pembangunan, pemerintah kota seolah berkata: silakan berjejaring secara internasional, tetapi jadikan Pontianak sebagai tempat uji coba ide tersebut. Dalam jangka panjang, ini bisa melahirkan kelas profesional muda yang punya pengalaman lintas negara namun tetap berorientasi membangun daerah asal.

Kolaborasi Universitas Regional sebagai Gerbang Karir Lintas Negara

Kekuatan utama program inbound mobility UNTAN-UNIMAS terletak pada kolaborasi universitas regional yang saling berdekatan secara geografis namun sering berjauhan secara akademik. Hubungan akademik antara dua kampus ini diharapkan semakin kuat, dan kedekatan Kalimantan Barat dengan Sarawak disebut membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi, budaya, dan pengembangan sumber daya manusia. Jika dirawat konsisten, jejaring ini bisa menjadi prototipe jaringan pendidikan Asia Tenggara yang organik: dimulai dari perbatasan, tumbuh menjadi koridor pengetahuan dan karir lintas negara.

Dari perspektif mahasiswa, program inbound mobility seperti ini adalah gerbang awal karir internasional. Berada beberapa hari di Pontianak bersama rekan dari Sarawak memungkinkan mereka melihat potensi kolaborasi bisnis, riset, bahkan peluang kerja yang melampaui batas administratif negara. Mobilitas pemuda dan pertukaran pengetahuan di kawasan tidak lagi berhenti di seminar, tetapi bergerak ke proyek tugas akhir bersama, magang lintas negara, hingga mungkin pendirian start-up regional. Namun semua itu hanya mungkin jika universitas memposisikan diri sebagai simpul jaringan, bukan sekadar tuan rumah kegiatan jangka pendek.

Pontianak–Sarawak: Koridor Pengetahuan yang Harus Dijaga Konsistensinya

Dalam jangka panjang, yang paling menentukan bukanlah ramah tamah di aula pemerintah kota, melainkan keberlanjutan hubungan akademik setelah delegasi UNIMAS kembali ke Sarawak pada 3 Oktober 2026. Amirullah berharap hubungan ini terus menguat dan meluas, bukan hanya antar mahasiswa tetapi juga antar kota dan daerah. Harapan itu realistis, karena kedekatan geografis membuat pertukaran pengetahuan dan mobilitas pemuda di kawasan menjadi lebih mudah secara logistik dan kultural.

Namun konsistensi menjadi kata kunci. Tanpa tindak lanjut berupa riset bersama, program lanjutan, atau forum kebijakan lokal yang menampung gagasan mahasiswa, inbound mobility akan kembali tergelincir menjadi rutinitas seremonial. Pemerintah kota sudah memberi sinyal politik yang positif: mereka melihat mahasiswa sebagai generasi yang menentukan arah pembangunan. Kini giliran kampus dan mahasiswa membuktikan bahwa mereka sanggup mengubah pertukaran jangka pendek menjadi kolaborasi jangka panjang. Jika itu tercapai, Pontianak–Sarawak bisa menjadi contoh bagaimana koridor pendidikan regional mampu mendorong pembangunan lokal sekaligus membuka jalan karir lintas negara.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!