BUMDes Bukan Lagi Lembaga Pasif, tapi Mesin Bisnis Desa
BUMDes Payang Sejahtera adalah badan usaha milik desa di Sungai Payang yang bertransformasi menjadi mesin bisnis multi-unit, mengelola beragam usaha produktif, melibatkan ratusan warga, dan mencatat pertumbuhan omzet signifikan, sehingga menjadi contoh konkret bagaimana ekonomi desa berkelanjutan dapat dibangun melalui penguatan kelembagaan, kemitraan strategis, dan manajemen profesional.
Kisah Payang Sejahtera menggugat cara pandang lama bahwa BUMDes cukup puas jadi penyalur bantuan. Dengan pendampingan usaha desa yang tepat, BUMDes mampu bertindak layaknya holding bisnis lokal: mengelola unit-unit usaha, menggandeng UMKM pedesaan Kalimantan, dan menyuplai layanan vital ke industri sekitar. Pertumbuhan omzet BUMDes dari Rp4,67 miliar pada 2019 menjadi Rp27,67 miliar pada 2023 adalah loncatan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tambahan modal. Di balik angka ini ada perubahan pola pikir, sistem, dan skala operasi. Inilah inti BUMDes transformasi bisnis: bergerak dari logika proyek ke logika perusahaan yang hidup dari kinerja pasar.
Mesin Pertumbuhan: Dari Rp4,67 Miliar ke Rp27,67 Miliar
Lonjakan omzet BUMDes Payang Sejahtera dari Rp4,67 miliar (2019) menjadi Rp27,67 miliar (2023) menunjukkan bahwa desa mampu mencapai akselerasi bisnis yang biasanya hanya diasosiasikan dengan korporasi. Secara kumulatif, omzet yang dibukukan sepanjang 2019–2025 mencapai Rp115,11 miliar—bukan angka kecil untuk sebuah lembaga ekonomi desa. Angka-angka ini penting, bukan karena sensasi nominalnya, melainkan karena menandai lahirnya sumber daya ekonomi baru di tingkat desa saat ketergantungan pada aktivitas industri besar mulai berkurang.
Dampaknya terasa hingga ke kas desa dan warga. BUMDes Payang Sejahtera menyumbang Rp1,68 miliar terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) dan berkontribusi Rp589 juta bagi program CSR desa. Artinya, pertumbuhan omzet BUMDes langsung menambah ruang fiskal desa untuk layanan publik dan kegiatan sosial. Lebih jauh lagi, 195 warga—103 laki-laki dan 92 perempuan—terlibat dalam 14 unit usaha yang dikelola. Ini bukan sekadar penciptaan kerja; ini adalah redistribusi peluang usaha yang memperkuat ekonomi desa berkelanjutan melalui partisipasi luas, bukan segelintir elite.
Strategi Multi-Unit: Mengubah Potensi Lokal Jadi Portofolio Bisnis
Kekuatan utama Payang Sejahtera bukan hanya besarnya omzet, melainkan model bisnis multi-unit yang tekun dibangun. BUMDes ini mengelola 14 unit usaha: jasa boga, transportasi, pengelolaan perkebunan, penyediaan air bersih, perikanan, konstruksi, hingga layanan pendukung operasional perusahaan. Diversifikasi ini adalah strategi sadar untuk mengurangi risiko, memperluas sumber pendapatan, dan menjahit berbagai potensi lokal menjadi portofolio usaha yang saling menguatkan.
Model multi-unit juga membuka ruang integrasi dengan UMKM pedesaan Kalimantan. Payang Sejahtera telah menjalin kemitraan dengan tujuh UMKM lokal, menjadikan BUMDes bukan pesaing, tetapi orkestrator ekosistem usaha desa. Pengembangan usaha sengaja disesuaikan dengan peluang ekonomi masyarakat setempat, sehingga setiap unit usaha punya basis pasar dan pasokan yang jelas. Dalam konteks BUMDes transformasi bisnis, ini adalah pelajaran penting: desa tidak perlu mengejar usaha yang “keren”, tetapi usaha yang menempel erat pada kebutuhan nyata di sekelilingnya dan dapat menampung partisipasi luas warga.
Peran Kritis Pendampingan MHU: Dari Kelembagaan ke Kepercayaan Sosial
Keberhasilan Payang Sejahtera tidak bisa dipisahkan dari pendampingan MHU yang berlangsung sejak 2017. Berbeda dari pola bantuan yang serba seremonial, pendampingan usaha desa ini menyasar inti persoalan: kelembagaan, kapasitas SDM, dan pemetaan peluang ekonomi. MHU menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Menurut Presiden Direktur MHU, program tidak hanya berfokus pada modal dan bantuan usaha, tetapi juga penguatan kelembagaan dan pengembangan peluang ekonomi produktif. Pendekatan ini menjelaskan mengapa model usaha yang lahir terasa organik dengan konteks desa, bukan “titipan proyek” dari luar.
Dampak lain yang sering diremehkan adalah tumbuhnya kepercayaan sosial. Warga menyertakan modal hingga Rp650 juta ke BUMDes—angka yang menunjukkan mereka percaya dana kolektif dikelola profesional. Kepercayaan seperti ini mustahil tanpa tata kelola yang jelas, transparansi, dan kinerja yang konsisten. Tak heran, program pendampingan ini meraih penghargaan Best Stewardship in Growing an Economy from Within pada ajang bertema penguatan fondasi pembangunan berkelanjutan. Di sini, ekonomi desa berkelanjutan bukan slogan, melainkan hasil dari kombinasi kedisiplinan bisnis dan rasa memiliki komunitas.
Pelajaran untuk Desa Lain: Menyalin Prinsip, Bukan Menggandakan Usaha
Kisah Payang Sejahtera memberi pesan tajam: desa lain tidak perlu menyalin jenis usahanya, tetapi prinsip di balik pertumbuhan. Pertama, perlakukan BUMDes sebagai entitas bisnis, bukan kotak amal—ukur dampak lewat pertumbuhan omzet BUMDes, kontribusi ke PADes, dan jumlah warga yang terlibat, bukan sekadar banyaknya rapat. Kedua, bangun portofolio usaha yang menyebar di beberapa sektor, dengan kaitan jelas pada kebutuhan lokal dan rantai nilai sekitar.
Ketiga, pendampingan bukan bonus, melainkan kebutuhan struktural. Tanpa dukungan seperti yang diberikan MHU—mulai dari penguatan kelembagaan hingga peningkatan kapasitas pengelola—BUMDes berisiko kembali jadi entitas administratif. Keempat, jangan abaikan komunitas: modal warga Rp650 juta dan pelibatan 195 orang menunjukkan bahwa BUMDes kuat adalah BUMDes yang diterima sebagai milik bersama, bukan “proyek kantor desa”. Kesimpulannya, bila desa ingin membangun ekonomi desa berkelanjutan, Payang Sejahtera membuktikan bahwa kuncinya ada pada kombinasi disiplin bisnis, pendampingan yang serius, dan partisipasi sosial yang nyata.






