Dari Polemik ke Peta Kebisingan: Inti Gagasan EWS Sound Horeg
Peta kebisingan real-time adalah peta digital yang menampilkan lokasi sumber suara bising dan radius paparan suaranya secara langsung, sehingga pengguna dapat memperkirakan seberapa jauh gangguan suara akan terdengar dan menyesuaikan aktivitas atau rute perjalanan sebelum berangkat. Dalam konteks kota yang dipenuhi acara dengan sound system berdaya besar, peta semacam ini mengubah informasi yang tersebar di media sosial menjadi panduan visual tentang risiko kebisingan di suatu wilayah. Dengan kata lain, ini bukan sekadar daftar acara, melainkan alat perencanaan perjalanan yang berfokus pada kenyamanan penduduk sehari-hari.
Di tengah polemik berkepanjangan soal sound horeg, Andi Surya, pemuda dari Kecamatan Sukun, memilih jalur berbeda: mengubah keresahan pribadi menjadi solusi teknologi berbasis peta digital. Alih-alih ikut berdebat, ia membangun Early Warning System (EWS) Sound Horeg, sebuah platform yang memungkinkan masyarakat mengetahui lokasi penyelenggaraan sound horeg sekaligus perkiraan jangkauan kebisingannya secara real-time. Langkah ini penting karena menggeser percakapan dari sekadar pro-kontra menjadi pertanyaan praktis: bagaimana warga bisa melindungi ruang dengar mereka tanpa harus menunggu kebijakan formal?
Cara Kerja Peta Digital Kebisingan Berbasis AI
Inti kekuatan EWS Sound Horeg aplikasi ada pada cara ia menyulap data tercecer di media sosial menjadi peta kebisingan real-time yang terstruktur. Andi mengumpulkan informasi jadwal dan lokasi karnaval sound horeg dari platform seperti TikTok dan Instagram, lalu memprosesnya untuk memperkirakan tingkat kebisingan berdasarkan lokasi acara. Dari data yang ada, sistem memperkirakan paparan suara berkisar antara 100 hingga 135 desibel, kemudian membaginya ke dalam tiga kategori visual: radius di atas 75 dB, 65 dB, dan 55 dB yang ditampilkan sebagai lingkaran di peta digital.
Yang membuat platform ini menarik bukan hanya ide pemetaan, tetapi kecepatan eksekusi: situs dikembangkan sekitar tiga hari dengan bantuan teknologi AI pemetaan untuk mempercepat proses coding. “Saya menggunakan AI untuk membantu proses coding sehingga pengembangannya lebih cepat,” ujar Andi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan bukan monopoli perusahaan besar; pemuda lokal pun bisa menggunakannya untuk memecahkan masalah lingkungan bunyi di sekitarnya. Dengan visualisasi radius kebisingan, pengguna tidak hanya tahu di mana acara berlangsung, tetapi juga seberapa jauh suara berpotensi mengganggu rumah, kantor, atau rute perjalanan mereka.

Dampak Nyata bagi Warga: Dari Rute Tenang hingga Kelompok Rentan
Manfaat peta kebisingan real-time baru terasa penuh ketika kita melihat praktik sehari-hari: warga ingin hindari zona bising, mengatur jam istirahat, atau sekadar memilih rute yang tidak membuat kepala pening. Platform EWS Sound Horeg memungkinkan masyarakat mengecek apakah rumah atau lokasi yang akan dituju berada dalam radius paparan suara dari sebuah acara sound horeg. Fitur “Cek Lokasi Saya” memberi gambaran langsung apakah posisi pengguna sedang atau akan masuk ke zona kebisingan tertentu.
Dampaknya paling terasa bagi kelompok rentan: keluarga dengan bayi, lansia, atau orang yang sensitif terhadap suara berintensitas tinggi. Dengan mengetahui lokasi acara lebih dini, mereka bisa mengurangi risiko terpapar kebisingan dalam waktu lama atau menghindari kawasan yang berpotensi ramai dan bising. Saat ini, situs sudah memuat sedikitnya 31 agenda sound horeg di wilayah Malang Raya, lengkap dengan lokasi, waktu pelaksanaan, dan perkiraan jarak kegiatan dari posisi pengguna. Dengan kata lain, platform ini memindahkan kendali dari penyelenggara acara ke tangan warga: mereka berhak tahu, lalu memilih sendiri bagaimana menjaga kenyamanan telinga dan rutinitas.
Melampaui Headphone: Perencanaan Perjalanan yang Lebih Cerdas
Selama ini, respon paling populer terhadap kota yang bising adalah membeli headphone noise cancellation. Itu membantu, tapi sifatnya defensif dan individual. Peta kebisingan real-time seperti EWS Sound Horeg membuka lapisan baru: perencanaan perjalanan yang lebih cerdas. Alih-alih pasrah dan menutup telinga, pengguna bisa mengatur waktu berangkat, memilih rute alternatif, atau bahkan menghindari kemacetan yang sering menyertai karnaval sound horeg. Platform ini memberi kesempatan untuk merencanakan ketenangan, bukan sekadar menahan kebisingan.
Menariknya, EWS Sound Horeg tidak anti-acara. Penggemar sound horeg justru bisa menggunakan peta ini untuk mencari lokasi dan jadwal karnaval yang sedang berlangsung. Dengan begitu, satu sistem melayani dua sisi: mereka yang ingin menikmati suara keras, dan mereka yang ingin menjauh dari keramaian. Ini bentuk commuter noise awareness yang lebih dewasa—mengakui keberagaman selera, sambil memberi alat bagi warga untuk saling menghargai ruang dengar masing-masing.
Langkah Lanjut: Dari Situs Informasi ke Ekosistem Pelaporan Warga
Saat ini EWS Sound Horeg masih berupa situs, namun arah pengembangannya menunjukkan ambisi lebih luas. Ke depan, Andi berencana menghadirkan aplikasi mobile dengan fitur notifikasi ketika ada acara sound horeg di sekitar lokasi pengguna. Ini masuk akal: notifikasi real-time membuat peta kebisingan tidak lagi pasif, tetapi aktif memperingatkan warga yang sedang bersiap berangkat atau beristirahat. Rencana lain yang tak kalah penting adalah membuka kanal laporan warga, sehingga masyarakat dapat mengirim informasi kegiatan yang belum tercantum.
Jika dua rencana ini terwujud, kita sedang melihat embrio ekosistem awareness kebisingan lingkungan yang digerakkan dari basis komunitas. Data tidak hanya dihimpun dari media sosial, tetapi dikoreksi dan diperkaya oleh pengalaman lapangan warga sendiri. Di tengah keterbatasan regulasi dan penegakan aturan kebisingan, solusi inovatif dari pemuda lokal ini menunjukkan satu hal: teknologi AI pemetaan bisa menjadi alat demokratisasi informasi, memberi warga dasar yang jelas untuk menegosiasikan hak atas kota yang lebih tenang, tanpa mematikan ekspresi budaya yang ingin tetap hidup.





