Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Gerobak ke Pasar Ekspor: UMKM Kuliner Menyasar Dunia

Dari Gerobak ke Pasar Ekspor: UMKM Kuliner Menyasar Dunia
Minat|Makanan Kaki Lima

UMKM Kuliner Ekspor: Dari Pinggir Jalan ke Etalase Dunia

UMKM kuliner ekspor adalah usaha kecil dan menengah berbasis makanan atau minuman yang awalnya melayani pasar lokal, lalu mengemas, membiayai, dan mensertifikasi produknya agar memenuhi standar lintas negara sehingga dapat dipasarkan secara berkelanjutan ke konsumen internasional melalui jalur ekspor formal. Dalam beberapa tahun terakhir, loncatan terbesar pelaku kuliner bukan lagi sekadar pindah dari gerobak ke kafe ber-AC, tetapi dari tenda biru ke pasar global. Dukungan lembaga keuangan dan program asistensi ekspor membuat pedagang makanan jalanan global tidak lagi utopia, melainkan pilihan karier nyata. Kuncinya bukan hanya rasa, tetapi kemampuan mengubah brand lokal menjadi produk lokal pasar internasional yang patuh regulasi, bankable, dan sanggup menjaga kualitas di setiap pengiriman.

Di sisi pembiayaan, peran institusi finansial sudah tidak bisa diabaikan. Salah satu bank syariah mencatat pembiayaan UMKM mencapai Rp55,17 triliun dengan lebih dari 340 ribu UMKM binaan, sekaligus memenuhi Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial 33,65 persen, melampaui target 30 persen. Kutipan angka ini menunjukkan prioritas jelas: sektor kecil bukan pelengkap, tetapi motor ekonomi. Namun, akses dana saja tidak cukup. Tanpa pendampingan, banyak pelaku kuliner akan tetap terjebak di level warung RT. Transformasi terjadi ketika pembiayaan disambung dengan pelatihan, sertifikasi, dan akses pameran global. Saat itulah, sambal, kopi, keripik, atau produk rumahan lain mulai diperlakukan sebagai komoditas ekspor, bukan sekadar lauk harian.

Kopi Kingkaf: Ketika Kedai Kecil Berubah Jadi Brand Global

Kisah Kingkaf menunjukkan bahwa UMKM kuliner ekspor lahir dari kegelisahan lokal dan keputusan bisnis yang berani. Berangkat dari kepedulian pada petani kopi di Batang, sebuah perusahaan dirintis sejak 2017 dan kini produknya menjangkau berbagai negara. Jalan menuju pasar dunia tidak mulus. Awalnya, penjualan dilakukan door to door ke rekan, kenalan, dan komunitas. Ini pola klasik pelaku kuliner kecil: mengandalkan jaringan sosial, bukan sistem distribusi. Tetapi begitu respons pasar tumbuh, usaha berkembang menjadi kedai kopi dan restoran dengan enam outlet.

Pandemi memaksa arah baru. Saat kedai terpukul, fokus dialihkan ke produk kemasan dan jaringan reseller, yang kemudian menjadi titik balik: pasar melebar, mitra lokal memperoleh penghasilan, dan brand keluar dari batas kota sendiri. Di fase ini, kemitraan dengan bank menjadi penentu. Penggunaan layanan transfer dan QRIS membantu transaksi harian, sedangkan pembiayaan mikro menjaga modal kerja dan ekspansi. Produk Kingkaf kini menembus Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, hingga Hong Kong. Ini bukti bahwa ketika akses pendanaan, teknologi pembayaran, dan pelatihan bertemu, produk lokal pasar internasional bukan slogan, tetapi realitas yang bisa disesap dalam secangkir kopi.

Asistensi Ekspor: Dari Klinik Ekspor ke Kontainer Barang

Jika bank menyediakan bensin, maka Bea Cukai melalui asistensi ekspor adalah peta jalannya. Di Malang Raya, potensi produk lokal didorong masuk pasar internasional lewat pendampingan terstruktur. Tim Klinik Ekspor menyambangi pelaku usaha tanaman hias CV Bunga Melati di Kota Batu pada Jumat 14 Agustus untuk menguatkan kesiapan ekspor. Perusahaan ini sudah menyasar Jepang, tetapi tetap menghadapi tantangan posisi tawar terhadap buyer dan dinamika ekonomi. Pendamping memberikan masukan strategi pengembangan pasar sekaligus mendorong ikut program seperti UMKM Kemenkeu dan Ngopi Ekspor untuk memperluas jejaring dan informasi.

Lebih relevan bagi kuliner, pendampingan juga menyentuh PT Arjuna 999, produsen keripik buah dan sayur yang dinilai berpotensi diekspor. Di sinilah asistensi ekspor makanan menunjukkan peran praktis: edukasi ketentuan ekspor, standar mutu, hingga solusi pengiriman. Pernyataan resmi menyebut, melalui kegiatan ini diberikan edukasi, pendampingan, serta solusi agar pelaku usaha siap memahami dan memenuhi ketentuan ekspor. Harapannya, pendampingan berkelanjutan akan membantu UMKM mengoptimalkan usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing. Tanpa klinik seperti ini, banyak produk lezat akan berhenti di pasar tradisional, tersandung dokumen, sertifikasi, atau standar negara tujuan.

Peran Bank dan Digitalisasi: Dari QRIS ke Pameran Global

Ekspor kuliner bukan hanya urusan rasa dan resep; ini soal mengelola arus uang, stok, dan informasi. Di sinilah bank memainkan peran ganda: pemberi dana sekaligus mentor. Salah satu bank syariah memperkuat UMKM melalui UMKM Center, pendampingan sertifikasi halal, dan partisipasi di pameran domestik maupun global. Pembiayaan segmen Small Medium Enterprise mencapai Rp26,86 triliun, tumbuh 20 persen secara tahunan. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan keberanian institusi finansial mengambil risiko pada pelaku kecil. Komitmen tersebut diperkuat dengan solusi pembiayaan kompetitif dan fleksibel sesuai prinsip syariah untuk membantu pengusaha memperluas pasar dan memperkuat permodalan.

Contoh lain, Kingkaf memanfaatkan layanan transfer dan QRIS untuk mempercepat transaksi dan memudahkan pelanggan membayar. Pembiayaan mikro dari bank yang sama membantu menjaga kelancaran operasional dan pengembangan usaha. Dukungan tidak berhenti di dana: Rumah BUMN menjadi ruang belajar, konsultasi, dan perluasan jejaring bagi pelaku seperti Ika, yang kemudian mendapatkan pelatihan dan pendampingan bisnis. Bekal pengetahuan, akses layanan, dan jejaring ini mendorong Kingkaf memasuki tahap pertumbuhan berikutnya. Digitalisasi—dari portal UMKM, aplikasi pembayaran, hingga QRIS—membuat pedagang makanan jalanan global punya alat setara dengan perusahaan besar, asalkan mereka mau keluar dari zona nyaman dagang tunai dan catatan buku tulis.

Dari Sambal ke Keripik: Apa Langkah Berikutnya?

Rangkaian contoh sambal, kopi, tanaman hias, hingga keripik buah dan sayur menunjukkan pola yang sama: produk lokal punya jalan masuk ke pasar global ketika tiga unsur bertemu—akses pembiayaan, asistensi ekspor, dan keberanian pelaku usaha bertransisi dari jualan harian ke bisnis terukur. Salah satu pimpinan bank menjelaskan bahwa UMKM didorong kualitas dan kapasitasnya agar menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Di lapangan, Bea Cukai menyebut bahwa produk tanaman hias dan olahan pangan dari Kota Batu yang menembus pasar internasional menjadi bukti produk lokal punya peluang bersaing.

Pertanyaannya: ke mana arah berikutnya? Jawabannya bukan sekadar memperbanyak kontainer, tetapi memperbaiki fondasi. Pertama, pelaku kuliner harus menganggap sertifikasi, standar, dan administrasi sebagai bagian resep bisnis, bukan beban. Kedua, pemerintah dan bank perlu mempertahankan model pendampingan intensif, bukan sekadar menyalurkan kredit. Ketiga, konsumen dan komunitas lokal harus terus mendukung brand rumahan, karena dari setiap sambal kemasan atau kopi sachet yang dibeli, ada peluang kerja dan devisa yang tercipta. Jika pola Kingkaf, CV Bunga Melati, dan PT Arjuna 999 diperbanyak, maka narasi UMKM kuliner ekspor tidak lagi “cerita inspiratif”, melainkan norma baru dalam ekonomi berbasis produk lokal pasar internasional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!