Ketidakpastian insentif melemahkan pijakan industri
Insentif motor listrik adalah bantuan pemerintah untuk meringankan pembelian kendaraan listrik dan memperluas akses konsumen, sekaligus memberi kepastian bagi produsen dalam merencanakan produksi serta penjualan. Namun, hingga Oktober 2026, bantuan pembelian belum terealisasi, dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) belum memperoleh kepastian mengenai kelanjutan kebijakan tersebut. Ini bukan sekadar urusan harga: tanpa keputusan yang jelas, industri sulit menentukan langkah untuk menghadapi permintaan dan menyusun strategi pasar. Wakil Sekretaris Jenderal Aismoli Peter Kho menyebut ketidakpastian subsidi sebagai persoalan yang lebih merusak dibanding kepastian bahwa bantuan tersedia atau tidak. Penilaiannya masuk akal. Produsen bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan yang tegas, tetapi masa tunggu tanpa kepastian menghambat keputusan bisnis dan membuat konsumen ragu.
Target perluasan pasar berhadapan dengan penjualan yang seret
Pemerintah menargetkan perluasan penjualan motor listrik pada 2027, tetapi Peter menilai target itu tidak realistis jika dibandingkan dengan kondisi di lapangan. Ia mengatakan hanya beberapa anggota asosiasi yang masih bertahan, sementara banyak lainnya kesulitan; penjualan kepada konsumen perorangan (B2C) disebut tidak berjalan, sedangkan transaksi bisnis-ke-bisnis (B2B) masih menjadi jalur yang bergerak. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa target motor listrik tidak cukup ditopang oleh ambisi kebijakan. Pasar motor listrik perlu permintaan ritel yang lebih kuat, bukan hanya pembelian oleh perusahaan atau lembaga. Ketika penjualan motor listrik melambat di tengah ketidakpastian, menetapkan sasaran ekspansi tanpa langkah konkret berisiko menjadikan angka target sekadar harapan. Pemerintah dan industri perlu lebih dulu menjawab mengapa konsumen perorangan belum beralih.
Persaingan dengan sepeda listrik juga perlu ditata
Menurut Peter, motor listrik juga bersaing langsung dengan sepeda listrik yang harganya lebih murah, sementara aturan untuk sepeda listrik belum jelas. Perbedaan itu membentuk pilihan praktis bagi konsumen: kendaraan yang lebih murah dapat terasa menarik, meski sepeda listrik tidak memiliki STNK dan standar keamanan seperti yang disoroti Peter. Ia juga menilai pelaku sepeda listrik menghadapi persyaratan usaha yang lebih ringan, sehingga produsen motor listrik merasa terbebani oleh persaingan yang tidak seimbang. Ini membuat persoalannya lebih luas daripada subsidi. Bantuan dapat membantu konsumen memperoleh motor listrik yang lebih terjangkau, tetapi tanpa aturan yang jelas untuk kategori kendaraan pesaing, insentif saja tidak akan merapikan pasar. Kebijakan yang konsisten harus menyentuh dukungan pembelian sekaligus kejelasan standar dan pengawasan.
Keputusan untuk 2027 belum final
Pembahasan mengenai bantuan untuk 2027 masih berlangsung, dan Aismoli belum dapat memastikan apakah pemerintah akan kembali memberikan insentif. Artinya, produsen dan calon pembeli tetap harus menghadapi ketidakjelasan saat merencanakan keputusan berikutnya. Di sisi lain, kenaikan harga BBM dan ketersediaannya di sejumlah wilayah dapat mendorong sebagian orang mempertimbangkan motor listrik untuk kebutuhan sehari-hari. Peluang itu nyata, tetapi belum cukup untuk menggantikan kepastian kebijakan dan mengatasi hambatan penjualan ritel. Kesimpulannya, target perluasan pasar pada 2027 hanya akan masuk akal jika pemerintah segera memberi kejelasan tentang bantuan dan menata aturan persaingan. Tanpa dua hal itu, industri diminta tumbuh dengan landasan yang belum kokoh—dan konsumen tetap menunggu alasan yang cukup untuk beralih.






