Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Dream Pop ke Surf Rock: Tiga Band Lokal yang Mengguncang Identitas Rock Modern

Dari Dream Pop ke Surf Rock: Tiga Band Lokal yang Mengguncang Identitas Rock Modern
Minat|Musik Rock

Rock Lokal yang Menolak Seragam: Mengapa Identitas Baru Lahir dari Skena Indie

Band rock Indonesia yang bergerak di skena independen kini tidak lagi terpaku pada metalcore dan hard rock; mereka mengembangkan subgenre seperti dream pop shoegaze, surf rock dengan sentuhan narasi biblika, serta format kolektif berbasis komunitas yang menghubungkan langsung dengan penggemar melalui panggung-panggung kecil, rilis mandiri, dan acara lintas disiplin kreatif yang merayakan musik sekaligus identitas lokal mereka.

Jika identitas rock modern masih kita ukur dari kerasnya distorsi dan kecepatan riff, kita sedang melihat ke arah yang salah. Wajah baru band rock Indonesia tumbuh pelan, di ruang-ruang alternatif, lewat kelompok seperti Themilo, The Joo’s, dan JalanJalan. Ketiganya menolak dikurung dalam template arus utama, memilih menjahit pengaruh global dengan konteks kota dan komunitas mereka sendiri. Hasilnya adalah lanskap rock yang lebih emosional, lebih naratif, dan lebih akrab dengan penontonnya. Ini bukan sekadar diversitas gaya; ini adalah penolakan halus terhadap gagasan bahwa rock harus terdengar seragam untuk diakui.

Themilo: Dream Pop Shoegaze dari Bandung yang Menjadikan Introspeksi sebagai Arah Rock

Dalam sejarah musik indie Bandung, Themilo adalah salah satu nama yang menggeser persepsi tentang bagaimana rock bisa terdengar pelan namun tetap mengguncang. Terbentuk pada 1 Juli 1996 di Bandung, awalnya sebagai proyek sampingan beberapa musisi skena lokal, mereka berkembang menjadi band serius yang dikenal lewat warna dream pop shoegaze. Lapisan gitar yang tebal, melodi mengawang, dan nuansa melankolis membuat musik mereka lebih cocok untuk refleksi tengah malam dibanding moshing di pit. Pengaruh dari My Bloody Valentine, Cocteau Twins, dan Slowdive terang terasa, namun bukan sekadar tiruan; ada ruang dingin dan misterius yang sangat khas kota asal mereka.

Album Photograph yang berisi delapan lagu digambarkan menampilkan instrumen bernuansa dreamy serta lirik reflektif, menjadikan Themilo pilar penting bagi pendengar lintas generasi yang mencari rock sebagai tempat merenung, bukan melarikan diri. Lagu seperti “Malaikat”, “Dreams”, “Romantic Purple”, dan “Daun dan Ranting Menuju Surga” memperkenalkan karakter musik yang menempatkan perasaan rapuh di pusat komposisi. Ketika mereka kembali aktif dengan versi terbaru “Malaikat”, single “Nowhere, Now Here”, hingga “The Lights” yang didedikasikan bagi pendengar setia, terasa jelas bahwa identitas musik indie Bandung menemukan salah satu bentuk paling halusnya dalam sound introspektif Themilo: lembut, tapi menantang gagasan lama tentang apa itu rock.

The Joo’s: Surf Rock Surabaya yang Mengganti Lirik Pesta Pantai dengan Kisah Kitab Suci

Di Ketintang, Surabaya, The Joo’s memilih jalur yang nyaris tak terbayangkan: surf rock yang dipasangkan dengan tema-tema kitab suci. Terbentuk pada 2023 dari sekelompok mahasiswa UKM Musik di Universitas Negeri Surabaya, mereka menolak ikut arus pop dan rock generik kampus, lalu merumuskan konsep yang mereka sebut biblical surf rock. Dengan tagline “Geng Rok Selancar dari Ketintang!”, formasi Cimz (vokal), Bima (bass), Moreno (gitar), dan Melpin (drum) mengubah citra surf rock dari genre ceria tanpa beban menjadi medium narasi spiritual yang tetap enerjik.

Nama The Joo’s mulai dikenal di skena musik independen Surabaya lewat karakter surf rock yang mereka padukan dengan cerita dan tema terinspirasi kisah-kisah kitab suci. Keberanian mengusung surf rock Surabaya dengan sudut pandang biblika bukan sekadar gimmick; ini adalah klaim identitas yang kuat bahwa referensi keagamaan bukan monopoli musik rohani yang kaku. Dengan gitar selancar yang riang dan ritme yang mengajak bergoyang, mereka menempatkan diskursus iman di ruang yang tidak menggurui. Di tengah dominasi riff berat dan scream, The Joo’s menawarkan opsi: rock yang boleh berselancar di atas ombak kepercayaan, tanpa kehilangan rasa bersenang-senang.

JalanJalan: Kolektif Rock yang Menjadikan Release Party sebagai Ruang Ekosistem Komunitas

Berbeda dari dua band lain yang menonjol lewat estetika suara, JalanJalan menguatkan identitas lewat cara mereka berhubungan dengan kota dan komunitas. Dalam release party single “Bebas” di Sinau Tabalong Cirebon, mereka tidak tampil sendirian; JalanJalan mengajak band sejawat TROLL, WITANA, AYU UKATA, OT THE HENDRIX, dan ELSA BERLAND untuk berbagi panggung dan merayakan perilisan secara kolektif. Kehadiran lima nama tersebut menghadirkan beragam warna musik dalam satu pentas, sekaligus menunjukkan bahwa bagi mereka, rilis karya bukan momen ego, melainkan alasan untuk mengumpulkan skena.

Perayaan “Bebas” digelar bersamaan dengan Pasar Soak yang menghadirkan lapakan lokal berisi kerajinan, kuliner, hingga barang-barang loak. Konsep ini mengubah acara band rock Indonesia menjadi ruang temu komunitas dan pelaku usaha kreatif lokal, bukan sekadar gig musiman. Pernyataan Opikstones bahwa dukungan TROLL, WITANA, AYU UKATA, OT THE HENDRIX, dan ELSA BERLAND adalah bukti ekosistem musik Cirebon yang solid memperjelas sikap JalanJalan: identitas mereka tidak berhenti di atas panggung, tetapi meluas ke pasar, obrolan, dan jejaring sehari-hari. Di tengah budaya rilis digital yang serba soliter, JalanJalan memilih format pesta musik gratis sebagai pernyataan politik kecil: rock modern butuh tubuh komunitas, bukan hanya angka streaming.

Di Luar Metalcore dan Hard Rock: Masa Depan Rock Lokal Ada di Sisi yang Paling Liar

Themilo, The Joo’s, dan JalanJalan memperlihatkan satu hal yang sering diabaikan: diversitas genre rock tidak lahir dari label, melainkan dari keberanian musisi lokal mengutak-atik referensi dan konteks. Ketiganya sama sekali tidak berdiri di arus utama metalcore atau hard rock; mereka sepakat secara tak tertulis bahwa rock bisa menjadi dream pop shoegaze yang reflektif, surf rock Surabaya bernuansa biblika, atau kolektif gig yang bertumpu pada ekosistem komunitas.

Kehadiran beragam warna musik dalam satu panggung di release party JalanJalan, serta wajah-wajah baru seperti The Joo’s yang berangkat dari UKM kampus, menegaskan bahwa masa depan rock modern ada di tangan mereka yang berani memadukan identitas lokal dengan pengaruh global. Di Bandung, musik indie menemukan bentuk lembutnya lewat Themilo; di Ketintang, surf rock tak takut menyebut kitab suci; di Cirebon, pesta rilis berubah menjadi pasar komunitas. Kesimpulannya sederhana: jika ingin memahami ke mana rock lokal akan pergi, jangan menatap panggung festival besar; datanglah ke gig kecil, dengarkan band-band ini, dan terima bahwa rock yang paling hidup hari ini mungkin terdengar paling berbeda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!