Rekor Ekspor dan Kepuasan Klaim: Dua Sinyal Sehat dari TPS
Terminal peti kemas Surabaya adalah fasilitas pelabuhan kontainer yang menangani arus peti kemas internasional dan domestik, dan kinerjanya diukur melalui volume TEUs, komposisi ekspor-impor, produktivitas bongkar muat, serta kepuasan klaim pelabuhan yang mencerminkan mutu layanan operasional dan kepercayaan pelanggan pengguna jasa logistik. PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menunjukkan bahwa pelabuhan kontainer regional tidak lagi sekadar gerbang fisik barang keluar-masuk, tetapi juga barometer kesehatan rantai pasok dan kualitas layanan. Pada September, TPS membukukan total arus peti kemas 122.876 TEUs dengan 120.725 TEUs berasal dari layanan internasional. Di saat yang sama, indeks kepuasan klaim mencapai 4,67 dari 5 atau 93,3 persen. Kombinasi arus ekspor peti kemas yang kuat dan kepuasan klaim pelabuhan yang tinggi adalah pesan jelas: TPS sedang naik kelas, bukan hanya dalam angka, tetapi dalam tata kelola layanan.
Dominasi Ekspor 51 Persen: Pelabuhan sebagai Cermin Dinamika Perdagangan
Angka ekspor yang menguasai 51 persen arus peti kemas internasional TPS bukan sekadar statistik; ini adalah indikasi bahwa pelabuhan kontainer mampu mengikuti denyut perdagangan luar negeri yang dinamis. Dari total arus internasional 120.725 TEUs, ekspor menyumbang 61.267 TEUs, sementara impor berada di 59.458 TEUs. Komposisi yang relatif seimbang tetapi tetap didominasi ekspor menunjukkan bahwa pelaku manufaktur dan perdagangan memandang terminal peti kemas Surabaya sebagai gerbang yang cukup efisien untuk mengalirkan barang keluar negeri. "Volume ekspor tercatat sebesar 61.267 TEUs atau sekitar 51 persen dari total arus internasional," kata Direktur Utama TPS, Ali Sodikin, yang menilai dominasi ekspor sebagai sinyal positif aktivitas perdagangan. Bagi pelabuhan regional, capaian ini adalah bukti bahwa investasi operasional mulai berbuah dalam bentuk kepercayaan pasar.

Produktivitas dan Green Port: Operasional Konsisten Bukan Kebetulan
Performa solid dengan volume TEUs September tembus 122.876 bukan hasil keberuntungan sesaat, melainkan konsistensi operasional yang dirawat. Produktivitas bongkar muat kapal internasional mencapai rata-rata 51 box per ship per hour, melampaui standar minimum 48 box per ship per hour yang ditetapkan regulator pelabuhan. Dengan 87 kunjungan kapal internasional dan Yard Occupancy Ratio internasional yang tetap di bawah 40 persen—36,48 persen untuk ekspor dan 39,29 persen untuk impor—TPS menunjukkan bahwa kelancaran flow peti kemas adalah hasil pengelolaan lapangan penumpukan yang terkendali. Di balik angka tersebut, modernisasi peralatan berbasis listrik seperti Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) menjadi tulang punggung produktivitas sekaligus langkah menuju konsep green port. Pelabuhan yang efisien dan lebih ramah lingkungan memberi nilai tambah nyata bagi layanan pelabuhan kontainer.
Indeks Kepuasan Klaim 93,3 Persen: Transparansi sebagai Keunggulan Kompetitif
Di industri logistik yang kompetitif, kecepatan dan keterbukaan informasi dalam penanganan klaim sering kali menentukan apakah pelanggan bertahan atau pindah. TPS tampaknya memahami hal ini dan menjadikannya prioritas. Tata kelola klaim yang cepat, transparan, dan profesional menghasilkan indeks kepuasan 4,67 dari skala 5,00, setara 93,3 persen, dengan 100 persen responden menyatakan pengalaman positif. Maersk dan MSC, dua operator global, secara terbuka memuji layanan klaim TPS yang dinilai cepat dan transparan. "TPS meraih indeks kepuasan klaim 4,67 dari 5 atau 93,3 persen," menjadi pernyataan yang menggambarkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan bukan slogan kosong. Pencapaian ini mencerminkan investasi dalam tata kelola operasional dan transparansi proses klaim, sekaligus memperkuat hubungan jangka panjang dengan mitra pelayaran yang menjadi tulang punggung arus ekspor peti kemas.
Ke Depan: TPS Harus Menjaga Momentum dan Menghindari Zona Nyaman
Dengan arus peti kemas yang tetap terjaga dan dominasi ekspor, TPS berpotensi mengukuhkan diri sebagai gerbang logistik utama di kawasan timur negeri, seperti yang dinyatakan manajemen. Namun, angka-angka September yang mengesankan bisa menjadi pedang bermata dua: ia mengangkat reputasi, tetapi juga menaikkan ekspektasi pengguna jasa terhadap layanan pelabuhan kontainer. TPS sudah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, produktivitas operasional, serta menguatkan peran dalam rantai pasok melalui penguatan produktivitas, optimalisasi fasilitas, dan modernisasi peralatan. Tantangannya adalah menjaga agar kepuasan klaim pelabuhan tetap tinggi ketika volume meningkat dan persaingan makin ketat. Kesimpulannya, terminal peti kemas Surabaya sedang berada di jalur yang tepat: arus ekspor peti kemas kuat, volume TEUs September solid, dan kepuasan klaim pelabuhan tinggi. Tugas berikutnya adalah menjadikan konsistensi ini sebagai standar baru, bukan pencapaian sesaat.






