Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi
Minat|Solusi Pintar

Tonggak Baru Robot Humanoid dan Teknologi Robotik Konsumen

Robot humanoid Mornine dan robot anjing pintar Argos adalah robot AI asisten pribadi yang dirancang untuk mendukung aktivitas manusia di ruang publik maupun rumah tangga, memanfaatkan Embodied Intelligence agar dapat memahami lingkungan, merespons perintah, dan berinteraksi secara lebih alami layaknya rekan kerja atau pendamping sehari-hari, bukan sekadar mesin yang menjalankan instruksi kaku.

Kehadiran dua robot ini bukan sekadar peluncuran produk baru, tetapi sinyal bahwa pasar teknologi robotik konsumen sedang memasuki fase lebih serius. AiMOGA Robotics, di bawah naungan Chery Group, resmi membuka AiMOGA Experience Store pertamanya di Agora Mall, Jakarta Pusat, sebagai panggung utama untuk memperkenalkan robot humanoid Mornine dan robot quadruped Argos. Langkah ini menegaskan ambisi menjadikan robot AI asisten pribadi sebagai kategori produk yang nyata, bukan lagi sekadar konsep pameran. Namun sejak awal sudah jelas: ini adalah teknologi premium, bukan barang massal. Pertanyaannya, seberapa besar nilai praktisnya untuk harga setinggi itu?

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi

Mornine: Robot Humanoid Indonesia Pertama yang Serius Menyasar Layanan Publik

Jika bicara robot humanoid Indonesia, Mornine adalah kandidat paling ambisius saat ini. Dengan tinggi 167 cm, bobot 70 kg, dan wajah berkulit silikon biomimetik dengan 15 derajat kebebasan gerak ekspresi, Mornine dibuat agar terasa sedekat mungkin dengan interaksi manusia nyata. Dari sisi AI, ia menggabungkan model multimodal seperti Google AI, DeepMind, ChatGPT, dan DeepSeek pada level AI L3, membuatnya mampu memahami konteks percakapan, mengenali emosi lawan bicara, dan berkomunikasi dalam lebih dari 10 bahasa.

Fungsinya jelas: robot AI asisten pribadi untuk skenario layanan publik. Di mal, diler otomotif, atau rumah sakit, Mornine bisa menyambut tamu, menjawab pertanyaan arah, sampai menjelaskan produk secara konsisten tanpa lelah. Ia dilengkapi sensor 3D LiDAR, kamera kedalaman 3D, dan radar ultrasonik untuk bergerak mandiri, ditopang baterai yang dapat dipakai aktif sekitar 2–3 jam setelah pengisian satu jam. Menurut AiMOGA, Mornine dipasarkan di kisaran Rp800 jutaan, angka yang jelas menempatkannya di segmen korporat atau institusi, bukan rumah tangga biasa.

Secara prinsip, Mornine menarik karena menjawab masalah klasik frontliner: informasi yang tidak konsisten, jam layanan terbatas, dan ketergantungan pada SDM yang mudah lelah. Tetapi untuk membenarkan harga di sekitar Rp800 juta, perusahaan perlu melihatnya bukan sebagai "robot lucu", melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk standardisasi layanan, pengumpulan data interaksi pelanggan, dan citra futuristik brand. Tanpa integrasi proses kerja yang serius, Mornine berisiko hanya menjadi gimmick mahal di lobby.

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi

Argos: Mornine Argos Harga dan Kelas Baru Robot Pendamping Rumah

Berbeda dari Mornine yang berorientasi layanan publik, Argos menyasar sisi emosional dan praktis pengguna rumahan. Argos adalah robot quadruped (berkaki empat) yang mendukung perintah suara, merespons sentuhan, bisa mengikuti pengguna, membantu membawa barang, hingga dipakai untuk kebutuhan pemantauan. Menurut penjelasan tim AiMOGA, Argos bahkan disebut cocok sebagai pemantau anak di rumah saat orang tua bekerja, mempertegas positioning-nya sebagai robot AI asisten pribadi di sektor domestik.

Soal daya pakai, Argos punya baterai yang diklaim mampu bertahan sekitar 3–4 jam dalam pemakaian aktif, sedikit lebih lama dari Mornine. Inilah salah satu faktor yang membuatnya lebih logis digunakan sebagai pendamping bergerak di rumah atau ruang komersial yang tidak terlalu luas. Dari sisi Mornine Argos harga, Argos dibanderol sekitar Rp50 jutaan, menjadikannya opsi jauh lebih terjangkau dibanding Mornine, meski tetap jelas berada di kelas premium bagi konsumen individu.

Apakah masuk akal membeli robot berkaki empat seharga puluhan juta? Jawabannya bergantung pada cara kita menilai teknologi robotik konsumen. Di satu sisi, Argos memberikan kombinasi unik: mobilitas fisik, kecerdasan dasar, dan fungsi hiburan/pendamping. Di sisi lain, tanpa ekosistem aplikasi dan integrasi rumah pintar yang matang, ia bisa berakhir seperti gadget mahal yang menghibur di awal lalu menganggur di sudut rumah. Saat ini, Argos lebih tepat dipandang sebagai eksperimen awal adopsi robot personal di kalangan enthusiast dan keluarga berdaya beli tinggi, bukan solusi mainstream.

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi

Skema Beli atau Sewa: Jalan Tengah Agar Robot AI Tidak Eksklusif Selamanya

Sadar bahwa harga Mornine dan Argos belum ramah kantong kebanyakan orang, AiMOGA tidak hanya menjual unit secara langsung. Melalui AiMOGA Experience Store, mereka menawarkan skema pembelian maupun penyewaan yang bisa disesuaikan kebutuhan pelanggan, dilengkapi pendampingan operasional oleh operator terlatih, dukungan teknis, pembaruan perangkat lunak, dan paket pemeliharaan untuk menjaga kesiapan operasional robot. Ini langkah penting: membuat teknologi mahal bisa diakses secara proyek atau periodik, bukan hanya lewat pengadaan permanen bernilai besar.

Pendekatan Embodied Intelligence yang ditekankan AiMOGA juga menunjukkan arah filosofi yang cukup sehat. Menurut manajemen, robot-robot ini dirancang bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan sebagai asisten cerdas yang bisa berinteraksi secara natural dan memahami lingkungan sekitar. Dengan kata lain, mereka menjual gagasan kolaborasi manusia–robot, bukan narasi "otomasi total" yang sering menimbulkan kecemasan. Bagi pelaku bisnis, skema sewa dan pendampingan ini mengurangi risiko: mereka bisa menguji penerapan robot humanoid Indonesia dalam skenario nyata sebelum memutuskan investasi penuh. Di sinilah Experience Store berperan sebagai laboratorium publik: tempat mencoba, gagal, lalu memperbaiki konsep penggunaan.

Menurut Yuri Yin, kehadiran toko fisik ini dimaksudkan agar masyarakat dan pelaku industri dapat mengenal dan mengeksplorasi teknologi Embodied Intelligence secara langsung, sekaligus melihat penerapannya dalam berbagai skenario nyata untuk membantu aktivitas manusia. Pernyataan ini penting karena menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar penjualan unit, tetapi membangun pemahaman dan kebiasaan baru berinteraksi dengan robot dalam kehidupan sehari-hari.

Robot Humanoid Mornine dan Argos: Mahal, Tapi Mengubah Cara Kita Memahami Asisten Pribadi

Kesimpulan: Investasi Mahal Hari Ini, Normal Baru Besok?

Dari sudut pandang konsumen arus utama, robot humanoid Mornine dan Argos masih berada di wilayah kemewahan eksperimental. Harga ratusan juta untuk Mornine dan puluhan juta untuk Argos membuatnya belum relevan bagi kebanyakan rumah tangga, meski secara teknologi keduanya memberi gambaran jelas tentang masa depan robot AI asisten pribadi. Namun di level bisnis, terutama ritel, otomotif, layanan kesehatan, hingga properti komersial, keduanya adalah alat diferensiasi yang kuat—dan bisa menjadi investasi wajar jika dipadukan dengan perhitungan efisiensi operasional dan penguatan citra merek.

Pasar teknologi robotik konsumen kini memasuki fase yang mirip dengan awal kelahiran smartphone dan mobil listrik: mahal, niche, penuh rasa penasaran. Bedanya, robot membawa konsekuensi sosial yang lebih besar karena menyentuh ranah interaksi manusia. Keputusan AiMOGA membuka experience store dan menyediakan skema sewa adalah langkah cerdas untuk menurunkan hambatan adopsi dan menguji skenario penggunaan nyata. Pada akhirnya, pertanyaan "kapan robot humanoid akan ada di setiap rumah" mungkin kurang tepat; yang lebih relevan adalah seberapa cepat bisnis dan masyarakat menemukan kegunaan yang benar-benar masuk akal, di luar sekadar efek wow sesaat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!