Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Iwan Fals Mengubah Panggung Konser Menjadi Suara Perlawanan

Iwan Fals Mengubah Panggung Konser Menjadi Suara Perlawanan
Minat|Musik Rock

Konser yang menolak diam

Konser lingkungan adalah pertunjukan musik yang memakai panggung dan lagu untuk membangun kesadaran tentang persoalan alam, sekaligus mendorong tindakan nyata dari penonton dan pihak yang berwenang. Menembus Awan Hijau menunjukkan bagaimana Iwan Fals menjadikan musik sebagai suara kritik, bukan sekadar hiburan. Digelar pada 31 Oktober 2026 di Panggung Kita, Markas Iwan Fals dan Tiga Rambu, Leuwinanggung, Tapos, Depok, konser ini mengangkat ironi: peringatan tentang kerusakan hutan telah lama dinyanyikan, tetapi ancaman terhadap alam masih berlangsung. Sekitar 5.000 penonton dari berbagai daerah memadati acara tersebut. Besarnya kerumunan memperlihatkan daya tarik sang musisi, tetapi juga menegaskan peluang yang sering terlewat: mengubah perhatian publik menjadi desakan agar perlindungan hutan tidak berhenti pada slogan.

Iwan Fals Mengubah Panggung Konser Menjadi Suara Perlawanan

Lagu lama, krisis yang belum selesai

Relevansi konser ini bertumpu pada kenyataan yang tidak nyaman: kritik yang pernah disampaikan Iwan Fals puluhan tahun lalu masih bergaung karena masalahnya belum tuntas. Melalui album Hijau pada 1992, ia mengangkat kerusakan hutan, pencemaran udara, dan ancaman terhadap keseimbangan alam. Lagu seperti Hutanku Rusak, Langitku Bocor, Udara yang Aku Hisap Tercemar, dan Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi menggambarkan eksploitasi yang mengusir kehidupan dari ruangnya. Dalam konser, lagu-lagu seperti Balada Orang Pedalaman, Esek Esek Udug Udug, Panggilan dari Gunung, dan Hijau membawa isu alih fungsi hutan, pencemaran sungai, gunung gundul, serta kebakaran hutan dan lahan ke hadapan penonton. Tiga dekade kemudian, lagu-lagu itu terasa bukan sebagai nostalgia, melainkan catatan bahwa kerusakan hutan dan pencemaran masih menuntut perhatian serta tindakan.

Salam tiga jari sebagai sikap politik

Makna perlawanan dalam konser itu melampaui tema lingkungan. Seusai mendoakan penonton agar sehat, Iwan Fals melontarkan kritik terhadap korupsi: “Tikus yang paling berbahaya itu bukan tikus di sawah, tapi tikus kantor, para koruptor.” Lagu Tikus-Tikus Kantor menyusul, sementara ribuan penonton mengacungkan salam tiga jari dan bernyanyi lantang. Dalam konteks ini, gestur tersebut menjadikan konser ruang untuk menolak kekuasaan yang menindas dan kebusukan yang tersembunyi di balik meja. Kaitannya dengan isu lingkungan penting: kerusakan alam bukan semata persoalan perilaku individu, tetapi juga menyangkut keputusan, pengawasan, dan penegakan hukum. Simbol perlawanan memberi tenaga pada kritik, tetapi nilainya akan memudar jika berhenti sebagai momen panggung. Ia perlu menjadi keberanian publik untuk menuntut pertanggungjawaban.

Dari tepuk tangan ke tindakan

Iwan Fals tidak membatasi kepedulian pada lirik. Sejak 2010, ia dikenal mengampanyekan penanaman pohon menjelang konser dan mengajak penonton memungut sampah setelah pertunjukan. Ia juga mengingatkan penonton untuk terus menanam dan menjaga kelestarian pohon. Kebiasaan itu membantu membuat pesan lingkungan terasa dekat: orang dapat memulai dari tindakan bersama yang sederhana. Namun, membebankan tanggung jawab hanya kepada masyarakat akan mengaburkan akar masalah. Pencegahan pembakaran, penghentian perusakan hutan, penegakan hukum, serta perlindungan terhadap masyarakat yang bergantung pada alam memerlukan keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Di situlah ukuran keberhasilan konser lingkungan seharusnya berada: bukan hanya pada kuatnya nyanyian atau salam tiga jari, tetapi pada kesediaan semua pihak menghadapi penyebab kerusakan.

Menembus Awan Hijau mengingatkan bahwa musik dapat membuka ruang kritik yang sulit dibungkam, tetapi lagu tidak dapat menggantikan kebijakan dan tindakan. Iwan Fals menyandingkan ironi kerusakan hutan dengan simbol perlawanan, lalu mengajak penonton melihat tanggung jawab mereka sendiri. Kesimpulannya tegas: selama hutan terus dirusak dan pencemaran dibiarkan, pesan lagu-lagunya akan tetap relevan—dan tuntutan untuk bertindak harus terus bergema.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!