Dari lintasan alam menuju promosi wisata
Trail running event adalah perlombaan lari di jalur alam yang memadukan tantangan fisik dengan pengalaman menjelajahi lanskap lokal, sekaligus membuka ruang promosi bagi destinasi yang menjadi tuan rumah. Karena peserta menyusuri tempat secara langsung, ajang ini dapat memperkenalkan wisata lebih kuat daripada promosi yang hanya mengandalkan gambar. Trail Run Tahura Sebatung menunjukkan potensi tersebut dalam skala lokal. Ajang di kawasan wisata Bukit Mamake–Bapake dan Taman Hutan Raya Sebatung, Kotabaru, pada 24 Oktober 2026 diikuti 300 peserta yang menempuh sekitar 5 kilometer. Jalurnya melewati perbukitan, termasuk Gunung Sasapit, sehingga alam bukan sekadar latar lomba, melainkan daya tarik utama. Penyelenggara menjadikan kawasan Mamake dan Tahura sebagai materi promosi destinasi wisata Kotabaru kepada peserta dari luar daerah. Strateginya tepat: pelari yang merasakan jalur secara langsung berpotensi membawa pulang cerita, foto, dan alasan untuk mengajak orang lain berkunjung.
Karangasem membidik panggung internasional
Langkah Kotabaru mendapat skala berbeda di Karangasem. Bali Coast Trail 2026 dijadwalkan berlangsung pada 12–13 Desember, dengan komunitas Bali Trail Running menargetkan 2.000 peserta; sebanyak 1.630 pelari telah mendaftar menurut informasi terakhir. Angka itu menunjukkan daya tarik awal, tetapi tetap merupakan pendaftaran dan sasaran, bukan jumlah peserta yang sudah menyelesaikan lomba. Karangasem menjadi lokasi baru bagi komunitas tersebut setelah tujuh tahun menggelar lari lintas alam di Kintamani. Kali ini, rute dirancang melintasi pesisir, perbukitan, perkebunan, serta kawasan permukiman di Kecamatan Manggis dan Bebandem, dengan start dan finis di Candidasa. Empat pilihan jarak—7, 15, 30, dan 50 kilometer—memungkinkan berbagai tingkat kemampuan ikut serta. Bagi pelari internasional, perpaduan lanskap ini memberi alasan untuk datang; bagi Karangasem, inilah kesempatan menempatkan wilayah timur Bali dalam peta olahraga petualangan alam.
Manfaat ekonomi harus menyebar
Nilai sebuah lomba tidak semestinya diukur hanya dari jumlah peserta atau keramaian pada hari perlombaan. Dampak yang lebih berarti muncul ketika kunjungan pelari ikut menghidupkan hotel, restoran, transportasi, dan usaha warga. Di Karangasem, pelaku hotel dan restoran telah bekerja sama dengan panitia, termasuk menawarkan harga khusus kepada peserta yang memesan melalui jalur kerja sama. Pemesanan kamar untuk periode lomba juga dilaporkan meningkat, terutama di sekitar lokasi kegiatan. Peluang seperti ini menjadikan trail running event alat promosi destinasi wisata yang punya manfaat ekonomi sekaligus jangkauan lintas negara. Namun, manfaatnya tidak otomatis merata. Harapan agar peningkatan pemesanan meluas ke akomodasi di sekitar Candidasa memperlihatkan perlunya menghubungkan usaha lokal dengan kebutuhan peserta. Di Kotabaru, penyelenggara juga berharap ajang Tahura membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar memperkenalkan kawasan wisata. Ukuran keberhasilan semestinya mencakup siapa yang memperoleh manfaat setelah garis finis, bukan hanya siapa yang naik podium.
Promosi yang baik dimulai dari kesiapan
Mendatangkan pelari dari berbagai negara juga berarti memikul tanggung jawab lebih besar. Di Karangasem, persiapan dijadwalkan pada 10–11 Desember sebelum perlombaan dua hari. Panitia masih perlu menyosialisasikan jadwal dan jalur kepada desa dinas serta desa adat di Manggis dan Bebandem, dan memperkuat koordinasi dengan kepolisian serta pecalang. Ini bukan urusan tambahan: rute yang melewati permukiman harus aman bagi pelari sekaligus tetap nyaman bagi warga. Perhatian pada trotoar rusak, pengawasan anjing di sepanjang lintasan, jalur evakuasi, dan layanan kesehatan penting, terlebih kategori 50 kilometer dijadwalkan mulai pukul 04.00 WITA. Di sisi lain, ajang Tahura Sebatung diharapkan meningkatkan kesadaran tentang kelestarian lingkungan. Inilah standar yang patut dijaga: promosi tidak boleh mengorbankan alam atau keselamatan. Jika penyelenggara mampu merawat jalur, mengatur dampak bagi warga, dan membuat manfaat ekonomi lebih luas, olahraga petualangan alam dapat menjadi strategi wisata yang berkelanjutan, bukan keramaian sesaat.






