Apa itu tren My Favorite Person dan mengapa semua orang membicarakannya?
Tren My Favorite Person adalah fenomena di media sosial ketika seseorang menyoroti, mengakui, dan mengapresiasi orang yang ia anggap paling berarti dalam hidupnya, baik pasangan, sahabat, anggota keluarga, maupun dirinya sendiri, sebagai bentuk ungkapan sayang, rasa syukur, dan penghargaan yang lebih eksplisit dan penuh kesadaran.
Ketenaran tren My Favorite Person bukan sekadar soal mengikuti arus media sosial; tren ini menyentuh kebutuhan paling dasar manusia: ingin merasa dilihat dan dihargai. Di satu sisi, fenomena ini dapat menjadi angin segar bagi kesehatan mental hubungan karena orang jadi terdorong mengungkapkan apresiasi yang selama ini dipendam. Di sisi lain, bila dilakukan tanpa refleksi, tren ini mudah berubah menjadi panggung pencitraan dan kompetisi siapa yang paling romantis atau paling "sayang" di depan publik, bukan di kehidupan sehari-hari. Inilah alasan kita perlu menyikapinya dengan kepala dingin: meminjam hal baiknya, tanpa terjebak sisi permukaannya.
Manfaat psikologis apresiasi: lebih dari sekadar konten manis
Di balik estetika video dan caption manis, tren My Favorite Person membawa satu pesan penting: kekuatan apresiasi. Praktik mengekspresikan rasa syukur dan penghargaan berkaitan erat dengan psikologi positif, yaitu cabang yang fokus pada kekuatan manusia, rasa syukur, dan penghargaan. Artinya, ketika kita memberi sorotan hangat pada orang terkasih, kita sedang melatih otot emosional yang jarang dipakai: peka, mengamati kebaikan, dan berani mengucapkannya lantang.
Manfaat psikologis apresiasi tidak berhenti pada rasa senang sesaat. Ketika seseorang merasa dihargai apa adanya, bukan hanya karena pencapaian, ikatan emosional dan kepuasan hubungan cenderung meningkat. Hubungan jadi terasa lebih aman karena kedua pihak mengumpulkan "bukti-bukti" bahwa mereka dipedulikan. Menurut psikoterapis Dipesh Patel, latihan refleksi diri yang berangkat dari apresiasi relevan dengan upaya menjaga kesehatan perilaku dan memperkuat optimisme. Singkatnya: kata-kata baik itu bukan gombal; ia bekerja seperti vitamin bagi psikis.
Menjadikan diri sendiri My Favorite Person: latihan welas asih yang sering terlupa
Sisi paling menarik dari tren My Favorite Person adalah ajakan untuk tidak hanya menunjuk orang lain, tetapi juga menjadikan diri sendiri sebagai "orang favorit". Ini bukan ajakan egois; ini latihan refleksi diri yang sehat. Dengan menuliskan atau mengungkapkan hal-hal yang kita hargai dari diri sendiri, kita belajar memandang diri bukan dari kacamata kekurangan dan kegagalan, tetapi dari kontribusi dan kehadiran yang selama ini kita sepelekan.
Contohnya, menggeser dialog batin dari "Aku tidak cukup baik" menjadi "Aku menyadari bahwa aku hadir untuk orang lain hari ini" atau "Aku menyelesaikan tugas itu meski sedang lelah". Praktik kecil seperti ini membantu tubuh merasa lebih aman dan menurunkan hormon stres, karena kita mengganti kritik otomatis dengan kebaikan pada diri sendiri. "Ketika konsisten menghargai diri sendiri, artinya kamu mengumpulkan bukti bahwa kamu berharga, mampu, dan layak dicintai," kata terapis Chloë Bean, LMFT. Dalam jangka panjang, ini memperdalam pemahaman diri dan menguatkan kepercayaan diri.
Penutup: ambil vitamin emosinya, bukan sekadar trennya
Tren My Favorite Person yang viral di media sosial terbukti punya manfaat psikologis, baik untuk orang yang kita soroti maupun untuk diri sendiri. Manfaat ini berkaitan dengan apresiasi, optimisme, dan rasa percaya diri yang lebih sehat terhadap diri dan hubungan. Namun intinya bukan pada format video, lagu, atau template yang dipakai, melainkan pada keberanian dan konsistensi mengucapkan terima kasih, mengakui kebaikan, dan mengingatkan orang terdekat bahwa mereka berarti.
Jika ingin mengikutinya, lakukan dengan tujuan memperkuat koneksi, bukan mencari tepuk tangan. Lebih penting lagi, jangan lupa memasukkan nama sendiri dalam daftar "favorite person" di hidupmu. Media sosial boleh saja menjadi panggung apresiasi, tetapi panggung terpenting tetap berada di dalam kepala dan hati kita: cara kita berbicara pada diri sendiri setiap hari. Di titik itulah tren berakhir, dan kualitas hubungan—termasuk dengan diri sendiri—mulai dibentuk dengan lebih sadar.






