Pertumbuhan kuat, tetapi belum merata
Arus peti kemas adalah jumlah kontainer yang ditangani terminal dalam periode tertentu, biasanya dihitung dalam TEUs, atau satuan setara kontainer berukuran 20 kaki. Pada Januari–September 2026, throughput Pelindo mencapai 10,31 juta TEUs, naik 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menandakan kegiatan logistik laut bergerak maju, tetapi laju kenaikannya tidak sama di setiap pasar maupun terminal. Perdagangan internasional tumbuh lebih cepat daripada domestik: arus internasional mencapai 3,54 juta TEUs dan naik 10,34 persen, sementara arus domestik tercatat 6,77 juta TEUs dengan kenaikan 3,57 persen. Selisih tersebut memberi petunjuk penting: dorongan utama pertumbuhan berada pada konektivitas lintas negara, bukan pada lonjakan merata di seluruh kegiatan logistik. Karena itu, angka agregat 5,8 persen sebaiknya dibaca sebagai pertumbuhan yang ditopang segmen tertentu, bukan gambaran seragam kinerja semua terminal.
Perdagangan lintas negara memberi dorongan lebih besar
Kinerja internasional yang tumbuh 10,34 persen jauh melampaui kenaikan domestik 3,57 persen. Perbedaan ini membuat perdagangan internasional menjadi salah satu penopang paling jelas bagi kenaikan throughput Pelindo. Fajar Setyono, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, menyebut pelayanan kapal internasional, penambahan layanan pelayaran baru, serta optimalisasi fasilitas dan operasional sebagai faktor pendukung. Ada pula konteks permintaan: perluasan pasar, terutama ke Eropa dan Amerika Selatan, dinilai mendorong perdagangan internasional; sebaliknya, kegiatan domestik masih relatif terbatas karena konsumsi belum bergerak signifikan. Ini menunjukkan mengapa pertumbuhan pelabuhan tak cukup dinilai dari total TEUs saja. Komposisi arus dan jangkauan jaringan ikut menentukan daya tahan kenaikan. Jika ekspansi perdagangan luar negeri berlanjut, terminal yang mampu melayani rute internasional dengan lancar berpeluang mendapat porsi aktivitas lebih besar.
Teluk Lamong tumbuh paling cepat
Di antara kinerja terminal yang disorot, Terminal Teluk Lamong mencatat kenaikan arus peti kemas 23,12 persen hingga September 2026—hampir empat kali laju keseluruhan Pelindo. Terminal di Surabaya itu melayani 25 kunjungan kapal internasional nonreguler atau ad hoc call, dengan total muatan 16.014 TEUs. Kenaikan tersebut didukung CSE Service, layanan joint slot COSCO Shipping Lines dan OOCL, serta SCJX/SIX Service, kerja sama Gold Star Line dan X-Press Feeders. Masing-masing mencatat rata-rata bongkar muat sekitar 1.100 TEUs per kunjungan. Layanan dan kunjungan tambahan memperluas pilihan jaringan pengiriman bagi pelaku usaha, manfaat yang lebih nyata daripada sekadar angka pertumbuhan. Namun, laju Teluk Lamong juga menegaskan bahwa ekspansi layanan baru dapat mengubah posisi relatif terminal dengan cepat; kinerja seluruh jaringan tidak otomatis mengikuti pemimpin pertumbuhan.
Kapasitas harus sejalan dengan volume
Pertumbuhan hanya bernilai bagi pengguna jasa jika terminal dapat mengubahnya menjadi bongkar muat yang lancar dan jadwal yang dapat diandalkan. Pelindo Terminal Petikemas memperkuat peralatan pada sejumlah lokasi sepanjang 2026: TPS memperoleh empat quay container crane (QCC) dan 14 electric rubber tyred gantry (E-RTG); TPK Semarang mendapat empat QCC; TPK Belawan memperoleh dua QCC dan empat RTG; sedangkan TPK Banjarmasin mendapat empat E-RTG. Dua QCC untuk TPK Perawang ditargetkan selesai pada Desember 2026. Perusahaan juga menyatakan akan mengoptimalkan perencanaan, pengendalian operasional, penggunaan peralatan, dan koordinasi dengan pengguna jasa untuk menjaga kelancaran bongkar muat. Bagi perusahaan logistik, tambahan koneksi baru akan kurang berarti jika antrean, kepastian jadwal, atau arus keluar-masuk kontainer menjadi kendala. Ukuran keberhasilan berikutnya bukan hanya kapasitas terpasang, melainkan konsistensi pelayanan yang dirasakan pengguna.
Kesimpulan: pertumbuhan perlu dibuktikan lewat layanan
Kenaikan arus peti kemas Pelindo sebesar 5,8 persen menunjukkan momentum yang positif, tetapi sumber pertumbuhannya terkonsentrasi pada perdagangan internasional dan terminal tertentu. Terminal Teluk Lamong menjadi contoh paling menonjol dengan kenaikan 23,12 persen, didukung kunjungan kapal internasional serta layanan pelayaran baru. Perbedaan antara pertumbuhan internasional dan domestik juga mengingatkan bahwa peluang ekspansi bergantung pada dinamika pasar, bukan semata penambahan fasilitas. Investasi alat dan pengelolaan operasi karena itu harus berjalan beriringan dengan kebutuhan pengguna: bongkar muat cepat, jadwal kapal yang pasti, dan arus kontainer yang lancar. Kesimpulannya, pertumbuhan throughput Pelindo adalah sinyal baik, tetapi ujian sesungguhnya ialah apakah kenaikan volume dan konektivitas baru diterjemahkan menjadi layanan yang lebih andal bagi pelaku usaha.






